Sistem Pendidikan Islam, Jalan ke Luar Masalah Kesehatan Mental

Oleh: Nadisah Khoiriyah
Lensamedianews.com__
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat (TQS al-Mujadilah [58]: 11).
Allah ﷻ sebagai pencipta alam semesta termasuk manusia, telah menginformasikan kepada kita bagaimana pentingnya Iman dan ilmu. Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam tafsir Li Yaddabbaru Ayatih menyebutkan, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dan tidak mengatakan (meninggikan kalian) hal ini menunjukkan keutamaan iman dan ilmu secara umum. Melalui keduanya seseorang memperoleh keagungan di dunia dan di akhirat. Hal ini karena buah ilmu dan keimanan adalah bergegas tunduk kepada perintah Allah.
Dari penjelasan yang Allah berikan iman dan ilmu adalah dua hal yang bisa mengantarkan manusia kepada kedudukan yang mulia, yaitu kedudukan sebagai orang bertakwa. Namun saat ini kita bisa melihat fenomena yang memprihatinkan. Manusia-manusia dengan ilmu yang banyak, namun tingkah lakunya tidak sesuai dengan ilmu yang dimiliki. Apa yang menjadi masalah?
Jika kita melihat dua hal yang Allah pesankan yaitu tentang iman dan ilmu, kita melihat dan merasakan keimanan manusia digiring untuk sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Ilmu pun akhirnya tidak dibarengi dengan keimanan. Maka munculnya problematika multi dimensi merupakan konsekuensi hal tersebut. Dari persoalan adab anak terhadap orangtua dan guru, kriminalitas bahkan di dalam keluarga, sampai ketidakamanahan para pemimpin merupakan realitas yang bisa kita lihat dan rasakan. Rakyat di negeri-negeri kaum muslimin, yang menjadi amanah dari para pemimpin muslim, banyak yang terganggu kesehatan mentalnya. Fenomena yang mengerikan adalah kasus bunuh diri, khususnya yang dilakukan oleh pelajar/siswa. Seorang manusia yang sedang bertumbuh untuk menjadi manusia produktif, karena sehat mentalnya.
Jikalau manusia khususnya muslim mau memahami kalimat bahwasanya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, mereka akan menemukan solusinya. Salah satu bidang yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk manusia yang sehat mentalnya adalah bidang pendidikan. Dari mulai visi dan misi pendidikan yaitu menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardl sekaligus sebagai hamba yang salih. Kemudian diturunkan kepada kurikulum berbasis akidah. Dilanjutkan metode pembelajaran yang memastikan seluruh peserta didik mencari ilmu baik agama maupun sains dalam rangka untuk dilaksanakan. Dan ini hanya bisa dilaksanakan dalam sistem Islam, yaitu sistem Khilafah. Sistem yang dicontohkan pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad ﷺ, dan dilanjutkan oleh para Khalifah sesudahnya.
Fakta sejarah telah membuktikan keunggulan sistem pendidikan Islam . Ini karena di dalam Islam meraih ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki dan perempuan. Rasulullah ﷺ bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim (HR Ibnu Majah)
Dengan ilmu, seseorang dapat mentafakuri manusia, alam semesta dan kehidupan. Dengan itu ia akan semakin dekat kepada Pencipta, Allah ﷻ. Hal yang membuat seseorang memiliki mental yang sehat. Dan ia pun akan dapat memanfaatkan ilmunya secara efektif untuk memberikan kemaslahatan bagi umat manusia di berbagai bidang seperti pertanian, teknik, kedokteran, farmasi dan astronomi. Karena itulah pendidikan menjadi salah satu perhatian utama para penguasa muslim (khalifah) sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.
Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam adalah mencerdaskan akal dan membentuk jiwa islami. Dengan itu terbentuk sosok pribadi Muslim sejati yang berbekal pengetahuan dalam segala aspek kehidupan. Rasulullah ﷺ pun mendidik kaum Muslim di Makkah dan Madinah dengan tujuan membentuk pribadi Muslim seutuhnya, yang tercermin dalam pola pikir islami dan pola sikap islami mereka.
Dalam sistem pendidikan Islam, pembentukan pola pikir peserta didik berkaitan dengan pemahamannya terhadap hukum-hukum syariah baik yang berkaitan dengan perbuatan (wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram) maupun benda (seperti makanan dan minuman). Adapun pembentukan pola sikap peserta didik berkaitan dengan perilakunya yang sesuai dengan syariah Islam pada semua aspek kehidupan peserta didik. Pola pikir islami mengindikasikan kecerdasan peserta didik, yakni kesadaran akan keterikatan kepada Allah (idrâk shilah bilLâh). Adapun pola sikap islami berkaitan dengan adab dan akhlak terpuji serta amal yang mencerminkan pengetahuan yang dimiliki. Dan ini adalah indikator jiwa yang sehat.
Keterikatan seorang pelajar dengan Allah ﷻ akan menumbuhkan keimanan dan ketakwaan atau dengan kata lain menumbuhkan jiwa yang sehat. Dengan itu dia, misalnya, akan menyadari bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram yang wajib ditinggalkan. Allah ﷻ telah menegaskan larangan bunuh diri melalui firman-Nya:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Janganlah kalian melakukan tindakan bunuh diri. Sungguh Allah itu Maha Penyayang kepada kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 29).
Dalam Hadis Nabi ﷺ juga disebutkan bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang sangat dilarang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ
Siapa saja yang melakukan tindakan bunuh diri dengan suatu benda maka ia akan disiksa (di akhirat) dengan benda itu (HR Ahmad).
Karena itu dalam menghadapi kesulitan hidup, seorang pelajar yang memiliki kepribadian islami atau punya jiwa yang sehat, akan bersikap sabar, berdoa dan mencari solusi dengan cara yang baik, bukan dengan mengakhiri hidup sendiri.
Seorang pelajar yang memiliki kepribadian islami pun akan selalu memuliakan guru-gurunya. Bukan malah merendahkan bahkan menghinakan mereka. Apalagi sampai mengkriminalisasi mereka. Sebabnya, dalam Islam, ilmu menempati kedudukan amat mulia. Karena itu ilmu harus dimuliakan. Di antara cara terpenting memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan para pengajar (guru)-nya. Imam Ali ra. bahkan pernah berkata, “Aku berpendapat bahwa hak yang paling layak dan wajib ditunaikan oleh setiap Muslim ialah hak seorang guru.” (Az-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’allim, hlm. 16).
Hak yang paling layak bagi seorang guru atas murid-muridnya tentu saja adalah penghormatan dan penghargaan.
Demikianlah, peserta didik yang dilahirkan dari sistem pendidikan Islam akan memiliki pola pikir islami dan pola sikap islami yang menjadi ciri dari kesehatan jiwa seorang manusia. و الله اعلم بالصوره
