Ada Apa di Balik Diplomasi Swedia?

Diplomasi Swedia

Oleh Keke Nurhabibah

 

 

LensaMediaNews.com, SP_ Wali Kota Bogor belum lama ini menerima kunjungan Duta Besar Swedia di SEAMEO Biotrop. Kunjungan ini diklaim sebagai langkah memperkuat kerja sama riset dan inovasi, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam seperti minyak atsiri. (jabarprov.go.id, 13/5/2025). Sekilas, tampak seperti langkah positif untuk kemajuan daerah. Namun, benarkah kerja sama ini murni untuk kepentingan rakyat?

 

 

Kita perlu membuka mata bahwa negara-negara Barat, termasuk Swedia, tidak pernah benar-benar netral dalam menjalin hubungan dengan negeri-negeri muslim. Perlu waspada adanya dominasi negara meskipun halus dan tersamar, namun tak kalah berbahaya. Seperti dahulu pernah dilakukan Belanda: menyusup melalui jalur dagang, riset, dan pendidikan, lalu mencengkeram sumber daya dan kedaulatan bangsa.

 

 

Maka perlu kehati-hatian terhadap tipu daya kaum kafir saat menjalin relasi, agar mereka tidak mengendalikan umat Islam. Kita butuh sistem yang mampu melindungi diri dari segala bentuk penetrasi asing, baik ekonomi, politik, maupun budaya. Dan hanya Khilafah Islamiyyah yang memiliki mekanisme tegas dalam hal ini.

 

 

Dalam sistem Khilafah, negara-negara kafir diklasifikasikan menurut hukum syariah. Salah satu klasifikasi penting adalah kafir harbi hukman yaitu negara yang secara hukum dianggap memusuhi Islam, meskipun tidak sedang berperang secara langsung. Negara-negara Barat yang mendominasi dunia Islam secara politik dan ekonomi masuk dalam kategori ini. Khilafah tidak akan menjalin hubungan diplomatik, perdagangan, atau kerja sama riset dengan negara kafir harbi hukman. Segala bentuk interaksi yang membuka celah dominasi asing akan ditolak. Sebaliknya, Khilafah hanya akan membuka hubungan dengan negara kafir mu’ahad (yang memiliki perjanjian damai yang sah dan tidak mengancam Islam), dan itu pun diatur secara ketat oleh syariat.

 

 

Dengan prinsip ini, penjajahan gaya baru tidak akan punya tempat di tengah umat Islam. Sumber daya alam akan dijaga untuk kepentingan rakyat, bukan dipersembahkan kepada korporasi asing. Keamanan ideologis dan kedaulatan umat akan benar-benar dilindungi.

 

 

Maka, sudah saatnya umat Islam sadar bahwa sistem kapitalisme demokrasi yang ada hari ini tak mampu membendung tipu daya penjajah. Solusinya hanya satu: tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang akan menjaga, melindungi, dan memimpin umat dengan aturan Allah SWT.