Tidak Layaknya Upah Guru dan Dosen, Potret Kegagalan Negara

Oleh Syifa Khoerunnisa
LensaMediaNews.com, Opini_ Baru baru ini Menteri Keuangan Negara yaitu Sri Mulyani menyoroti soal rendahnya gaji guru dan dosen di Indonesia, hal ini dianggap sebagai tantangan pengelolaan keuangan negara. Inilah yang menjadi polemik berkepanjangan.
Beliau menyatakan bahwa. ” Banyak di media sosial, saya selalu mengatakan menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini juga salah satu tantangan keuangan negara,” Ujarnya. (Kompas.com, 19/8/2025)
Selain itu, yang menjadi perbincangan hangat di media sosial yaitu pernyataan Sri Mulyani yang menyebutkan bahwa rendahnya gaji guru dan dosen bisa diselesaikan dengan keuangan negara atau dengan pendekatan lainnya, misalnya yaitu dengan partisipasi masyarakat. Ia beranggapan, bila mengandalkan APBN, maka dikhawatirkan kesejahteraan guru dan dosen akan sulit terselesaikan. Akan tetapi beliau sendiri tidak menjelaskan dan membeberkan terkait apa bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen ini.
Persoalan ini menjadi salah satu potret kegagalan negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme. Kegagalan negara dalam mengelola APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang menyebabkan kerugian dan kesengsaraan salah-satunya yaitu rendahnya gaji tenaga pengajar.
Selain itu dalam negara kapitalis ini adanya SDA (Sumber Daya Alam) negara yang berlimpah tidak dialokasikan dengan semestinya sehingga keberadaannya tidak dapat bermanfaat dan menyejahterakan masyarakat inilah yang menjadikan gagalnya fungsi APBN dalam negara.
Dalam Islam, negara berperan sebagai raa’in (pelayan/pengurus) dan junnah (perisai) bagi umat, segala hak yang menjadi milik umat akan kembali pada umat karena negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam terwujudnya kesejahteraan umat. Salah satunya yaitu upah/gaji bagi tenaga pengajar yang tidak semena-mena dan tentunya layak karena tenaga pengajar memiliki peran penting dalam pendidikan terutama untuk mencerdaskan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Islam akan memuliakan tenaga pengajar atau guru yang hadirnya akan memberikan pendidikan yang tentunya bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan saat ini.
Kehidupan dalam islam akan senantiasa mengikat individu, masyarakat dan negara dengan syariat Islam. Negara dalam Islam yaitu sebagai pelaksanaan hukum syariah, makan dari itu kehidupan umat akan senantiasa tertib, aman dan sejahtera tanpa ada kezaliman penguasa di dalamnya, tidak akan ada penguasa yang menyalahgunakan jabatan hanya untuk mendapatkan materi semata sehingga segala hak umat akan terpenuhi.
Dengan adanya sistem Islam, segala problematika kehidupan akan terselesaikan dari mulai pendapatan pekerja yang sesuai sehingga ekonomi stabil, pendidikan yang gratis dengan fasilitas memadai, fasilitas kesehatan gratis dan lain sebagainya. Maka dari itu sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam kaffah (menyeluruh) yang akan membawa keberkahan dan menjadi solusi dari berbagai permasalahan kehidupan saat ini.
