Bencana Dahsyat Karya Kapitalisme

Oleh Heriani
(Tim Pena Ideologis Maros)
LensaMediaNews.com, Opini_ Bencana longsor dan banjir bandang terjadi begitu dahsyat di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh, sehingga menelan korban jiwa sebanyak 604 orang, korban hilang mencapai 464 orang, korban luka 2.600 orang, warga terdampak 1,5 juta orang dan jumlah pengungsi 570 ribu orang. (cnnindonesia.com,01/12/2025).
Bencana alam kali ini, seakan memberi alarm bagi kita bahwa betapa pentingnya menjaga kelestarian alam yang berperan sebagai tumpuan nyawa bagi seluruh makhluk hidup yang saling ketergantungan satu sama lain. Namun ironinya, tumpuan nyawa ini seolah menjadi hal receh bagi para pemerintah yang punya kuasa menjalankan hukum kebijakan, sebagai sarana meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat konsekuensi fatal yang terjadi ke depannya.
Bukti dari kebijakan pemerintah yang mengundang malapetaka yaitu menggunduli hutan yang merupakan paru-paru dunia dan ekosistem makhluk hidup, kemudian diahlikan menjadi kebun kelapa sawit. Tidak ketinggalan pula kekayaan alam semacam gunung juga menjadi titik sasaran para penguasa dalam mengeruk untuk dijadikan sebagai pertambangan.
Hal ini menunjukkan bahwa penguasa telah mati rasa terhadap persoalan mekanisme kehidupan, yang terlihat hanya ada kerakusan dan keserakahan demi meraih keuntungan, meskipun hasil dari kebijakan dzalim ini berdampak hebat pada penderitaan seluruh makhluk hidup antara lain manusia, hewan dan lingkungan.
Karya Kapitalisme
Pemimpin yang rakus dan serakah yang ada pada hari ini tidak lain lahir dari sistem yang rusak ialah sistem kapitalisme. Perlu diketahui bahwa, sistem kapitalisme memanglah dasar dari segala kebobrokan, sebab sistem ini bukan lahir dari Sang Pengatur alam semesta (Allah SWT), melainkan dari pemikiran manusia yang penuh dengan keterbatasan.
Maka tidak bisa dipungkiri kebobrokan pemimpin dalam mengurus kelestarian alam sangatlah terpampang nyata, akibatnya pemimpin kapitalisme hanya bisa menghasilkan karya kerusakan alam, demi meraup keuntungan semata tanpa ada rasa iba dan tanggung jawab dalam dirinya sedikitpun. Terkait hal ini Allah SWT telah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan-tangan manusia” (QS. Ar-Rum ayat 41).
Dengan demikian, siapapun pemimpin yang berdiri dalam sistem kapitalisme, maka sungguh kebijakannya akan membawa kehancuran sebab pemimpin semacam ini di topang oleh sistem pembawa kehancuran dan kerusakan. Maka sudah saatnya masyarakat menyadari biang dari bencana alam besar yang terjadi pada berbagai daerah tidak lain merupakan hasil karya kapitalisme.
Rahmatan lil A’lamin
Sejatinya, sang Khaliq (Allah SWT) menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk merawat dan menjaga bumi, bukan untuk merusak dan berbuat semena-mena untuk memenuhi nafsu biadab keuntungan sendiri. Maka kekayaan alam seperti hutan, gunung, sawah dan lautan adalah amanah dari Allah SWT untuk dijaga dan dirasakan manfaatnya sebagai bentuk rahmat darinya.
Maka dengan ini pemimpin/ Khalifah dalam sistem Islam, mengharamkan dirinya untuk merusak dan menyerahkan kekayaan alam kepada pihak asing, melainkan akan dikelola oleh negara Khilafah sendiri kemudian hasilnya akan dikembalikan untuk seluruh umat. Rasulullah SAW bersabda:
“Kaum muslimin berserikat dalam hal: air, padang rumput dan api; dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah).
Dengan demikian tidak perlu ada kekhawatiran terkait salah dalam pengelolaan dan mengakibatkan bencana alam yang terjadi secara terus-menerus, sebab pengelolaannya sesuai dengan pengaturan Allah SWT sang Pemilik seluruh alam semesta.
Meskipun tidak dapat dipungkiri bencana alam bisa saja terjadi sebagai ujian manusia. Tapi sebagai kepala negara atau Khalifah akan bertanggungjawab melayani dan mengatasi bencana alam secara tuntas, karena sejatinya Khalifah adalah pelindung dan perisai bagi umat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).
Wallahu’alam Bishshawab.
