Terperangkap oleh “Perdamaian”.

Oleh: Siti Aminah
Pendidik
LenSaMediaNews.com–Presiden Republik Indonesia terlihat bangga dan tersenyum manis saat bisa berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump. Dalang dibalik genosida warga Gaza. Presiden RI, Prabowo, merasa optimis tercapainya perdamaian di Gaza, usai menandatangani Board of Peace ( BOP) Charter yang di inisiasi oleh Presiden AS, Donald Trump dalam arti BOP dikendalikan oleh AS ( Trump) dengan kuasa hak veto ( setkab.go.id 22-1-2026).
Pemerintah berharap Indonesia menjadi bagian perdamaian untuk Gaza, karena sudah sekian lama berada dalam peperangan yang tak kunjung usai. Untuk menjadi anggota tetap BoP, Indonesia harus membayar secara sukarela iuran sebesar US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 16,7 triliun dari APBN (CNBCindonesia.com, 29-1-2026).
Dibalik jiwa yang bangga, ada jiwa rakyat yang teramat menderita dan berduka. Ketika Prabowo sukarela membayar iuran BoP 17 triliyun ke Trump, ada rakyatnya sendiri, anak usia 10 tahun yang bunuh diri karena tidak ada uang sekedar untuk membeli pulpen dan buku untuk sekolah. Ada ribuan guru yang digaji ratusan ribu, ada 11 juta peserta BPJS PBI yang mendadak di nonaktifkan oleh mentri sosialnya sehingga tidak bisa untuk berobat meski sekarat. Ada para penyintas banjir dan longsor yang sampai 3 bulan ini belum tertangani dengan baik.
Mengapa mata tak mampu lagi melihat dan membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk, mana kawan dan lawan, sehingga musuh pun jadi teman setia? Astagfirullah.
Teringat akan iblis yang berusaha untuk membelokkan manusia dari jalan yang lurus. Ia makan makanan yang haram, melakukan yang maksiat, sehingga mudah untuk dibisiki oleh setan. Jalan terang benderang dibuatnya abu-abu. Disesatkan sehingga tidak merasa salah. Astagfirullah. Jauhkan kami dari yang demikian ya Allah.
Apakah bergabung ke BOP itu alasan lainnya karena disana ada istilah perdamaian, sehingga percaya begitu saja akan bisa terwujud perdamaian? Tapi bagi orang yang akal dan nalurinya masih baik dan sehat dia tidak akan dengan mudahnya menerima istilah perdamaian itu, apalagi setelah jelas dalang dibalik genosida Gaza, yaitu AS. Orang yang masih baik akalnya akan mampu menimbang dan memikirkan siapa yang berbicara. Apakah penjahat itu juga layak dipercaya? Sementara AS adalah sekutunya Israel. Untuk memahami ini tidak harus pintar, tapi cukup dengan akal sehat, jika masih punya.
BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, bahkan Palestina sama sekali tidak pernah dilibatkan. BOP dibentuk Trump untuk menunjukkan bahwa AS adalah polisinya dunia dan tidak akan ada negara yang berani untuk menegurnya.
Selain itu Trump juga ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya dan akan membangun Gaza baru dengan gedung gedung pencakar langit, bandara, pelabuhan, wisata pantai, dan menara apartemen. Untuk warga Gaza? Tidak!
BOP dibentuk juga ditujukan untuk menghancurkan Palestina, keberadaan negara negara muslim termasuk Indonesia adalah untuk pelengkap legitimasi BOP, serta alat untuk merealisasikan 20 point rencana Trump atas Gaza. Sehingga kita bisa melihat bahwa keikutsertaan Indonesia dengan BOP adalah bentuk penghianatan atas muslim Gaza. Astagfirullah.
Yang dibutuhkan Palestina
Sebenarnya yang dibutuhkan Palestina bukanlah BoP maupun rencana penjahat AS lainnya, melainkan pembebasan dari penjajah Zionis laknatullah. Mereka harus diusir dari Palestina, dan itulah perdamaian yang sesungguhnya. Untuk bisa mengusir nya adalah dengan jihad yang komandonya ada di tangan Khalifah.
Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan (nyata memerangi umat muslim), justru yang harus dilakukan adalah bersatu untuk menegakkan khilafah, sekaligus menjadikan khilafah adalah agenda utama umat Islam yang harus segera terealisasikan. Wallahu alam bishshowab. [LM/ry].
