Konflik Timur Tengah dan Dampak bagi Krisis Energi Dunia

Cerita_20260428_190552_0000

Oleh: Sevi Rokayati 

 

LenSa Media News _Surat Pembaca _ konflik di Timur Tengah hari ini bukan sekadar eskalasi militer biasa, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas energi global. Ketika Selat Hormuz —jalur sempit namun vital— terancam tertutup, dunia seketika dihadapkan pada satu kenyataan pahit, yakni sistem global yang selama ini dibanggakan ternyata sangat rapuh.

 

Data menunjukkan bahwa sekitar 20% pasokan minyak dunia —atau hampir seperlima konsumsi global —melewati Selat Hormuz setiap harinya. Angka ini setara dengan sekitar 17–20 juta barel minyak per hari, sebagaimana dilaporkan oleh US Energy Information Administration (EIA) dan diperkuat oleh berbagai laporan media internasional seperti Reuters dan BBC. Artinya, gangguan di satu titik ini saja cukup untuk mengguncang seluruh sistem perekonomian dunia.

 

Ketika Iran mengancam penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan Amerika Serikat, pasar langsung bereaksi keras. Harga minyak melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan bayang-bayang krisis energi kembali menghantui. Dunia kembali diingatkan bahwa stabilitas yang selama ini dibangun bergantung pada kawasan yang terus dijadikan arena konflik.

 

Di satu sisi, Amerika Serikat merespons dengan ancaman militer. Sementara Iran menunjukkan ketegasan untuk melawan. Negara-negara Eropa memilih berhitung, tidak gegabah masuk dalam konflik. Sedangkan negara-negara Arab berada pada posisi ambigu antara loyalitas politik dan kekhawatiran terhadap stabilitas domestik mereka sendiri.

 

Fakta-fakta ini mengarah pada satu kesimpulan penting, yakni konflik ini bukan sekedar perang antarnegara, namun merupakan manifestasi dari benturan kepentingan dalam sistem global yang cacat sejak awal. Artinya, krisis energi yang terjadi hari ini bukanlah kecelakaan, melainkan konsekuensi logistik dari sistem yang menjadikan sumber daya sebagai alat dominasi. Maka, selama sistem itu tetap dipertahankan, krisis serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

 

Dibalik semua itu, tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina justru semakin terpinggirkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem hari ini, nilai kemanusiaan selalu tunduk pada kepentingan geopolitik dan ekonomi.

 

Dibawah ini letak akar persoalan yang sebenarnya. Sistem kapitalisme global tidak dirancang untuk menciptakan stabilitas, melainkan untuk mempertahankan dominasi. Energi tidak diposisikan sebagai kebutuhan publik, tetapi sebagai strategi komoditas yang dapat diperebutkan, dikendalikan, bahkan dijadikan senjata. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup sekadar diplomasi atau gencatan senjata. Sebab, yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma secara mendasar.

 

Islam Sebagai Solusi Paripurna 

 

Islam melalui institusi Khilafah menawarkan solusi yang bersifat struktural dan menyentuh akar masalah. Dalam sistem Khilafah, sumber daya alam (SDA), seperti minyak dan gas dipisahkan sebagai milik umum ( milkiyyah ‘ammah ) yang haram diprivatisasi atau dimonopoli oleh negara tertentu apalagi korporasi. Negara hanya berperan sebagai pengelola yang memastikan distribusinya untuk kemaslahatan umat.

 

Dengan mekanisme ini, energi tidak lagi menjadi alat tekanan geopolitik bahkan tidak ada ruang bagi negara untuk “memainkan” jalur distribusi seperti Selat Hormuz demi kepentingan politik. Sebab, pengelolaannya bukan keuntungan atau dominasi, melainkan pelayanan.

 

Di sisi lain, khilafah menghapus sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah dunia Islam menjadi lebih dari 50 negara. Persatuan politik ini akan mengubah kawasan Timur Tengah dari wilayah konflik menjadi kekuatan pusat global yang stabil dan mandiri.

 

Alhasil, dengan kekuatan geopolitik, ekonomi, dan militer yang terintegrasi, intervensi asing yang selama ini menjadi akar konflik dapat dicegah secara nyata, bukan sekadar dikecam. Lebih dari itu, kebijakan luar negeri khilafah tidak dibangun atas dasar kepentingan pragmatis, melainkan pada kewajiban menjaga kedaulatan dan melindungi umat sehingga menjadikan konflik tidak mudah dipicu oleh kepentingan luar. Jika terjadi konflik, negara akan menyelesaikannya dengan standar yang jelas, bukan permainan kepentingan.

Dengan demikian, Khilafah tidak hanya menyelesaikan dampak krisis energi, tetapi juga memutus mata rantai penyebabnya.

 

Oleh karena itu, konflik Timur Tengah hari ini harus dibaca sebagai alarm keras bagi dunia. Bahwa sistem global yang ada tidak mampu menjamin stabilitas, bahkan justru menjadi sumber instabilitas itu sendiri.

Pertanyaannya bukan lagi apakah krisis ini akan berulang? tetapi, kapan dan seberapa besar dampaknya?

Lebih dari itu, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah:

Apakah umat manusia akan terus mempertahankan sistem yang jelas-jelas melahirkan krisis, atau berani beralih pada sistem yang menawarkan solusi hakiki?

Pada titik inilah, khilafah tidak lagi sekedar wacana, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan.

 

Wallahu’alam

( LM/Sn )