Luka Palestina dan Batas Negara

Palestina

 

Oleh: Sabila HR

 

LensaMediaNews.com, Surat Pembaca_ Beritanya seolah-olah telah usai, tetapi tidak dengan kebiadaban yang menimpanya. Begitulah kenyataan pahit mengenai Palestina. Siapa pun yang masih memiliki kendati setitik jiwa kemanusiaan wajib menghidupkan kembali berita ini.

 

Di Palestina, hingga saat ini terjadi dehumanisasi muslim Palestina oleh Zionis Israel yang sudah tidak lagi memandang kondisi, baik terhadap yang hidup maupun yang sudah mati. Setiap waktu mereka membunuh warga Palestina, terlebih anak-anak muslim. Bahkan setelah membunuh, dengan tidak tahu dirinya mereka tidak mengizinkan korban yang terbunuh dikubur di tanahnya sendiri. Jika sudah terlanjur dikubur, kuburan tersebut harus dibongkar kembali (Sindo News, 10-5-2026).

Tidak puas dengan hal itu, mereka menjadikan Palestina bagaikan wilayah kematian bagi para jurnalis. Bagaimana tidak, data menunjukkan hampir 300 jurnalis terbunuh akibat agresi Zionis sejak Oktober 2023 (Antara Bali, 4-5-2026).

 

Berita semengerikan, sesadis, dan setidak masuk akal ini bagaimana bisa menguap begitu saja? Dunia dan terutama kaum muslim tidak layak memilih diam, apalagi pura-pura tidak tahu. Tidak sepantasnya mereka hanya sibuk memikirkan berita dalam negeri. Begitu pula para penguasa. Mereka seharusnya tidak hanya mencukupkan diri dengan mengecam, tetapi juga bergerak. Gerakan tersebut berupa mengirimkan tentara masing-masing untuk berjihad membebaskan Palestina.

 

Siapa pun, terlebih lagi penguasa, mestinya sudah paham bahwa sebab utama penderitaan Palestina adalah keberadaan entitas Zionis Israel serta tersekatnya negara muslim yang satu dengan yang lainnya.
Sekat nasionalisme telah menciptakan dinding besar atas ukhuwah islamiah. Kaum muslim tidak lagi merasa bahwa mereka ibarat satu tubuh. Sebagai bukti, kaum muslim di Indonesia menganggap apa yang dialami kaum muslim Palestina bukanlah hal yang utama.

 

Meski sudah sedemikian parah, ketidakpedulian yang timbul akibat sekat tersebut membuat kaum muslim Indonesia hanya merasa seolah satu tubuh dengan kaum muslim Indonesia saja. Bahkan, pengibaratan ini tidak sepenuhnya tepat pada realitasnya.

 

Sekat atau batas nasionalisme hanya dapat diruntuhkan apabila negeri-negeri muslim mau bersatu dalam satu wadah (satu kepemimpinan) dalam bingkai Khilafah. Apabila negeri-negeri muslim telah bersatu, tentu akan mudah mengusir entitas Zionis Israel dari tanah Palestina dan menumpas hegemoni AS atas dunia, mengingat negeri-negeri muslim memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah serta kekuatan militer yang tidak bisa dipandang sebelah mata.