Ruang Aman bagi Puan dan Keturunan Palestina, kian Jauh

1001350287

Oleh: Inas Amira
(Aktivis Muslimah Muda Surabaya)

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Persoalan serius yang dihadapi perempuan di berbagai lini kehidupan ialah masalah kekerasan fisik, seksual maupun emosional. Ruang aman terus berusaha diwujudkan dari skala lokal hingga internasional. Mirisnya, cita cita ini masih menjadi khayalan bagi perempuan dan anak-anak Palestina. Yasmin Mahani perempuan Palestina yang kehilangan anaknya sebagai salah satu korban serangan bom termal dan termobarik yang dilancarkan Israel. Senjata mengerikan yang hanya menyisakan percikan darah atau secuil potongan tubuh saja menurut Vasily Fatigarov seorang ahli militer Rusia. (cnnindonesia.com/14/02/26)

 

Ini baru satu kisah dari 2.842 warga Palestina yang dilaporkan Al Jazeera berjudul “The Rest of the Story” sejak agresi Oktober 2023. Bukti nyata akan apa yang dilakukan oleh Israel adalah Genosida. Dunia bercita-cita mewujudkan ruang aman justru tercipta ruang kehilangan, kematian, penindasan dan penjajahanlah yang dirasa warga Palestina. Ini Pelanggaran berat ruang aman dan hak manusia terus terjadi di Palestina. Standar aman yang ada hari ini jelas mengabaikan hak manusia bila itu menimpa kaum muslim. Pengabaian ini lahir dari sekularisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Setiap manusia berhak mendapatkan ruang aman sesuai dengan pandangan kepentingan manusia. Munculah kebebasan dalam bertindak hingga penindasan maupun penjajahan di legitimasi secara Formal dalam bentuk “Board of Peace”. Koalisi Global disepakati 26 negara yang dipimpin oleh satu komando yakni AS untuk memperluas hegemoni di wilayah Gaza. Kepentingan para penjajah tak lepas dari orientasi kependudukan dalam kapitalisme.

 

Ruang aman bagi puan dan keturunan Palestina tidak akan dapat dilahirkan dari sistem sekuler-kapitalisme. Catatan penghianatan dan penindasan terhadap Gaza Palestina sudah melampaui batas. Penjajahan harus dilawan dengan jihad mengerahkan ratusan ribu tentara dari negara-negara muslim untuk mengusir Israel dari Palestina. Allah telah menegaskan balasan bagi penjajah dalam firmanNya “Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.” (TQS. Al-Baqarah :191).

 

Seruan ini menjadi kewajiban untuk mewujudkan ruang aman. Aman bagi seorang muslim sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Aman yang akan menghilangkan segala jenis kemaksiatan dan penjajahan di muka bumi. Standar ini hanya bisa diwujudkan dalam kepemimpinan Islam yakni Khilafah Islamiah. Khilafah yang bertugas mengumpulkan potensi negara-negara muslim dengan satu komando untuk melaksanakan Jihad fi Sabilillah. Sejarah pun telah membuktikan pada masa Kekhilafahan menjaga darah, kehormatan dan harta kaum muslimin.

 

Sejarah dapat terulang kembali, Imamah dapat diwujudkan kembali. As-Sunnah mengajarkan kepada kaum muslimin, realitas kerusakan hilangnya ruang aman pernah dialami oleh Rasullullah dan para sahabat. Ketika Rasulullah dan para sahabat dapat mengubahnya mewujudkan ruang aman maka “Blueprint” perjalanan Rasulullah harus diikuti kembali dengan mempelajari Islam secara kaffah dan menyuarakan kembalinya kepemimpinan dalam Islam.