Bijak Memaknai Istilah Radikalisme dan Terorisme

Oleh : Ummu Aqilla FM
(Pengajar dan Pemerhati Generasi)
Lensamedianews.com__ Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Kalimantan Selatan (FKPT Kalsel) memperkuat kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman paham radikalisme dan terorisme di era digital (Media Center, 14-03-025)
Apa yang dilakukan oleh FKPT Kalsel ini, menunjukkan sebagai salah satu upaya pencegahan merebaknya paham radikalisme dan terorisme melalui media sosial. Hal ini juga merupakan adanya indikasi bahwa stigma pemahaman radikalisme dan terorisme yang terus bergulir di masyarakat.
Ketika mendengar istilah radikal dan terorisme, tentu semua setuju bahwa kedua hal itu akan membawa citra atau stigma yang buruk bagi si pelaku siapapun itu. Namun, sebenarnya kita terlebih dahulu harus memahami dulu apa itu radikalisme dan terorisme.
Radikalisasi adalah proses di mana Individu atau kelompok yang berubah dan memiliki kecenderungan menentang dialog dan kompromi dengan pihak yang berbeda; mereka memilih jalan konfrontasi dan konflik, menurut Dr. Alex P. Schmid (2013).
Penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan situasi teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas harta benda orang lain, yang mengakibatkan kerusakan atau kehancuran obyek-obyek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik dan fasilitas internasional, inilah makna terorisme menurut UU Nomor 15 Tahun 2003.
Dari pengertian di atas, inti dari radikalisme dan terorisme adalah adanya penentangan individual atau kelompok dengan jalan konfrontasi/penentangan dan konflik/perseteruan dan bahkan kadang sampai menimbulkan korban yang bersifat massal. Sehingga paham radikalisme dan terorisme ini mau tidak mau harus kita hindari.
Hanya saja pemahaman tersebut seringkali dikaitkan dengan umat Islam, baik secara individual atau kelompok. Dan tidak jarang, gerakan-gerakan Islam dicitrakan sebagai gerakan radikal, yang tidak ubahnya seperti monster yang membahayakan.
Dengan dicitrakannya gerakan-gerakan Islam sebagai gerakan radikal ini akan mempengaruhi umat, sehingga semakin jauh dari pemahaman Islam kaffah atau malah takut untuk menunjukkan jati diri sebagai seorang muslim sejati, sehingga jadilah ajaran Islam yang dijalankan sekadar berkaitan dengan masalah ibadah seperti salat, puasa, zakat, akhlak, tapi ajaran lain terkait bagaimana berekonomi, pendidikan, sanksi dalam Islam dan ajaran lainnya semakin ditinggalkan.
Umat seharusnya paham, bahwa yang menjadi ancaman bagi mereka sejatinya tidak datang dari Islam, tapi datang dari ide-ide di luar Islam yang diterapkan atas kehidupan mereka. Beratnya beban hidup sekarang, justru diakibatkan oleh sistem kapitalisme yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada manusia untuk berbuat dan bertindak, dan dijauhkannya ajaran Islam kaffah dari kehidupan.
Islam menjadi jalan kemuliaan bagi seluruh umat di dunia, karena Islam adalah sistem hidup yang memberikan solusi semua permasalahan. Sudah saatnya kita tidak boleh tertipu dengan segala macam propaganda untuk melawan dan menjauhkan Islam dari umatnya.
Sebab Islam adalah sistem hidup yang berasal dari Sang Khaliq, dan menjadi rahmat bagi semesta alam saat diterapkan secara kaffah. Tidak ada paksaan memeluk Islam. Oleh karenanya, pemahaman radikalisme dan terorisme keduanya jelas bukan dari Islam dan harus kita jauhi.
