Gen Z di Ruang Digital Berkah atau Musibah?

Ruang digital

Oleh Risa A

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Ruang digital kini bak atmosfer baru bagi kehidupan masyarakat dunia, tak terkecuali generasi Z. Kecanggihan sarana komunikasi dan informasi semestinya menunjang banyak kemudahan bagi generasi untuk dapat meningkatkan kemampuan yang dituntut oleh kemajuan zaman, misalnya dalam peningkatan prestasi belajar dan membentuk akhlak mulia. Namun sayangnya, kehidupan kapitalisme justru membawa generasi makin jauh dari harapan sebagai penerus tonggak peradaban.

 

Konten media sosial sarat akan hiburan yang remeh dan singkat justru kerap menjadi konsumsi sehari-hari gen Z. Sebagai generasi Digital Native mereka menjadi superkonsumen media sosial dengan berbagai platform sekitar 1-5 jam per hari (Kompas.id, 01/09/2025). Konten hiburan, gaya hidup materialistik, dan permainan digital merupakan konten yang palin banyak diakses dibanding konten edukatif apalagi agama. Alhasil, ruang digital bagi gen Z malah melahirkan ancaman serius bagi kesehatan mental dan menurunkan kemampuan berpikir.

 

Platform digital raksasa memang dimiliki oleh Barat yang mengusung ideologi kapitalisme. Mereka meraup banyak cuan melalui konten-konten sampah yang justru digandrungi mayoritas generasi muda. Disamping itu, para kapitalis melalui platform digitalnya hendak mengokohkan eksistensi ideologi kapitalismenya melalui narasi-narasi sekularisme yang menjauhkan generasi dari ketakwaan. Mereka mengendalikan informasi melalui algoritma yang akan membentuk ruang digital generasi sesuai dengan hasrat kapitalis Barat.

 

Lantas para kapitalis justru menganggap konten Islam dan dakwah merupakan ancaman terbesar mereka, sehingga mereka akan memberi label sebagai konten ekstremisme bahkan melakukan pemblokiran konten Islam. Mereka hanya melindungi konten Islam yang mencakup ibadah, akhlak dan motivasi semata sebab dianggap aman. Padahal sejatinya justru konten Islam ideologislah yang mampu memberikan solusi atas persoalan generasi yang sedang dijangkiti wabah sekularisme.

 

Algoritma kini menjelma sebuah ruang digital bagi generasi. Semakin sering seseorang mengakses konten hiburan maka semakin kuat algoritma akan mengarahkan pada konten dengan tema yang sama. Dengan begitu, tema hiburan akan sering menjadi konsumsi gen z. Akibatnya durasi akses makin panjang, tugas akademik terbengkalai, daya pikir menurun dan masalah mental muncul.

 

Sementara pemilik platform digital mendapat keuntungan dari kerusakan generasi dan para pengusung hegemoni kapitalisme berhasil untuk menancapkan ide sekuler dan liberal kepada generasi muslim. Ironinya, banyak generasi tidak menyadarinya.

 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita selamatkan generasi dari konten media sosial yang menjauhkan mereka dari iman dan Islam hakiki. Justru melalui tranformasi digital, dakwah akan terus berjalan untuk menyibak kerusakan akibat ideologi kapitalisme sehingga ruang digital akan benar-benar membawa berkah bagi generasi dan Islam.

 

Potensi generasi wajib diarahkan untuk mengisi konten media sosial yang penuh edukasi Islam yang mencerahkan pemikiran tentang tujuan hidup yang hakiki sebagai manusia, yakni beribadah kepada Allah SWT. Niscaya ruang digital akan melahirkan keberkahan bagi generasi muslim sebagai pelopor perubahan hakiki.