Di Balik Trauma Anak Gaza: Mengapa Misi Kemanusiaan Belum Menjadi Solusi

Oleh Riri Rikeu
LensaMediaNews.com, Opini_ Salah satu efek dari penjajahan kafir yang terus-menerus sejak ketiadaan Khilafah di negeri Palestina adalah trauma parah yang dirasakan oleh anak-anak, sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan berbicara. Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang tergabung pada misi kemanusiaan tahun 2024 dan 2025, menemukan kasus banyak anak di Gaza yang berhenti berkomunikasi (bbc.com, 29/05/2026).
Tumbuh kembang anak adalah hal penting yang senantiasa diperhatikan agar anak mampu berkembang sesuai harapan. Anak membutuhkan ruang yang aman sejak awal masa kehidupannya. Apa jadinya jika ruang aman itu tidak pernah dirasakan kembali karena serangan, pembunuhan, dan penghancuran yang terus terjadi di Palestina? Tentu saja hal itu akan sangat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Hak hidup aman sudah tidak didapatkan, sehingga respons anak pun menjadi diam membisu akibat trauma yang sangat berat.
Penjajah kafir tidak memberikan peluang sedikit pun pada kaum muslimin untuk memberikan perlawanan. Mereka memahami bahwa penyerangan tidak hanya menargetkan kehancuran bangunan secara fisik, tapi juga psikologis kaum muslimin. Anak sebagai generasi masa depan kaum muslim pun tidak luput dihancurkan mentalnya oleh penjajah kafir.
Apa yang dilakukan dunia untuk membela hak anak di Palestina? Yang dilakukan tidak lebih dari sekadar “menambal sedikit luka” (band-aid effect) dengan mengirimkan berbagai misi kemanusiaan. Pada hakikatnya, solusi mengirimkan misi kemanusiaan tidak menyelesaikan akar masalah penjajahan yang ada di Palestina, karena hanya merespons dari sisi mitigasi dampak, bukan menyelesaikan masalah utama.
Selama penyebab penjajahan tidak dihapuskan, maka akan terus terjebak pada siklus penjajahan, kehancuran, misi kemanusiaan, penjajahan kembali, dan seterusnya. Anak-anak di Palestina tetap saja pada hakikatnya akan terus menderita dan terenggut hak hidupnya. Selain itu, bukankah sudah menjadi pemahaman umum bahwa setiap misi kemanusiaan akan terbentur dengan otoritas izin dari pihak penjajah? Bukankah ini sesuatu yang memalukan?
Di sisi lain, ironi yang ada adalah diamnya para penguasa muslim terhadap penjajahan di Palestina. Penyakit wahn sudah sangat kronis menjangkiti para penguasa sehingga hati nurani dan keimanan pun hilang melihat anaknya sendiri dibantai dan diserang terus-menerus oleh penjajah kafir Israel. Padahal, ada hadis yang mengingatkan bagaimana setiap muslim itu harus peduli pada sesama kaum muslimin tanpa melihat batas-batas negara.
“Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan golongan mereka.” (HR Ath-Thabrani)
Hadis Rasulullah di atas memberi peringatan bahwa derita Palestina harusnya menjadi derita seluruh kaum muslim di dunia. Apalagi penguasa muslim memiliki kekuatan yang bisa menghapuskan penjajahan kaum kafir. Harusnya mereka bersatu dalam naungan Khilafah, kemudian melenyapkan penjajahan kafir terhadap kaum muslim yang ada di belahan bumi mana pun. Karena mereka akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Selama Khilafah Islam belum ada, selama itu pula penjajah kafir akan terus lancang menyerang kaum muslim.
Sudah saatnya kita berhenti melihat Palestina sebagai proyek misi kemanusiaan semata. Jangan sampai dunia menganggap bahwa keamanan kaum muslimin itu bisa menunggu dan sambil menunggu maka diberikanlah misi kemanusiaan. Membebaskan Palestina dari penjajahan kafir dengan Khilafah Islam bukanlah pilihan politik yang bisa dinegosiasikan, melainkan kewajiban yang harus segera dipenuhi.
Kejahatan entitas Zionis harus dilawan dengan jihad fii sabilillah. Oleh karena itu, dibutuhkan institusi Khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Kesadaran perjuangan menegakkan Khilafah sangat penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum muslimin seluruh dunia
Wallahu a’lam.
