Duta HKI, Terlumat Kapitalisasi Potensi

Duta HKI, LenSaMedia

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

LenSaMediaNews.Com–Farel Prayoga, penyanyi cilik yang terkenal dengan lagu “Ojo Dibandingke”, dinobatkan sebagai Duta Kekayaan Intelektual Pelajar Bidang Seni dan Budaya pada tahun 2022 oleh Menteri Hukum dan HAM. Penobatan ini terkait dengan karya ciptaan lagu “Ojo Dibandingke” yang dipopulerkan Farel, dan surat pencatatan ciptaannya diserahkan kepada pencipta lagu, Abah Lala (kompas.com, 19-7-2025).

 

Perjalanan hidupnya tak lantas mencapai puncak begitu saja, Farel pernah menjalani profesi pengamen pasar di Banyuwangi selama tiga hingga 4 tahun. Jika tidak demikian, maka keluarganya akan terus menanggung utang hingga tak bisa makan.

 

Popularitasnya menanjak usai viral menyanyikan “Ojo Dibandingke” dan tampil di Istana Negara pada perayaan 17 Agustus 2022, mengubah hidupnya lebih fantastis lagi, Farel tak hanya mampu melunasi utang keluarga, tetapi juga membeli rumah untuk kedua orangtuanya.

 

Bencana datang ketika ayah Farel terbukti bermain judi online dan menghabiskan uang Farel, hingga awalnya yang disebut mencapai miliaran rupiah, kini hanya tersisa Rp 10.000 di rekening. Farel Prayoga mengaku bahwa uang hasil jerih payahnya sebagai penyanyi ternyata telah habis dipakai oleh keluarganya sendiri, tanpa sepengetahuan dan persetujuannya.

 

Kapitalisme Akar Persoalan

 

Banyak yang menduga ini adalah kasus eksploitasi anak. Dan memang faktanya banyak orangtua yang memperkerjakan anak demi penghasilan keluarga. Inilah dampak dari minimnya lapangan pekerjaan, jika pun ada ada banyak syarat dan gaji minim. Padahal kebutuhan hidup  sangatlah banyak dan mahal. Belum lagi dengan adanya pungutan pajak, maka menjadi “ artis cilik” adalah jalan ninja masyarakat mencari nafkah.

 

Status Farel sebagai duta HKI tak banyak membantu, sebab ia hanyalah sematan gelar tanpa jaminan apapun. Tak beda dengan duta-duta yang lain, mirip bansos atau subsidi yang kerap diberikan pemerintah. Pengganjal perut tapi tak menjamin esok masih bisa beli beras. Dimana negara? Negara terbukti telah gagal mewujudkan kesejahteraan rakyatnya.

 

Fakta ini akan niscaya kita dapati dalam negara yang menerapkan sistem Kapitalisme. Dimana negara hadir sangat minimalis, negara lebih ramah kepada asing atau para investor dengan alibi pengelolaan SDA yang lebih profesional atau hilirisasi. Akibatnya kekayaan hanya berkumpul pada segelintir orang. Jika pun oligarki bergerak di bidang non industri seperti pendidikan dan kesehatan, maka hasilnya akan sama. Pemerintah akan beritung untung rugi dengan rakyat sebab oligarki tak mengenal konsep pelayanan untuk rakyat.

 

Kapitalisme juga menciptakan sikap pragmatisme, tak mengenal halal haram, karena memang asasnya adalah sekular atau pemisahan agama dari kehidupan. Judi online merajalela dan negara gagap mengatasinya, mirisnya lembaga kementerian yang seharusnya memblokir malah menjadi pelindung beberapa provider penyedia judol. Candu jodol sangatlah kejam, itulah mengapa tak pandang uang anak, ketika ada kesempatan tetap diembat.

 

Senyum Farel polos, mengatakan bisa jadi penjara adalah cara terbaik memberitahu ayahnya betapa judol sangat merugikan, namun sebenarnya yang lebih mengakar lagi adalah memperjuangkan tegaknya sistem Islam Kafah. Yang akan mengubah wajah dunia menjadi lebih fitrah dan adil.

 

Anak Adalah Aset Peradaban

 

Perlindungan dan jaminan sejahtera untuk anak, dalam Islam bukan sertifikat duta HKI, melainkan sebuah tatanan hidup yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Yaitu sistem pemerintahan Islam yang disebut Khilafah.

 

Kewajiban memberi nafkah bukan pada anak, tapi ayah. Jika negara melalaikan ini termasuk dosa. Dalilnya adalah perintah Allah swt. “Kewajiban ayah untuk menanggung nafkah dan pakaian mereka secara layak… “(TQS al-Baqarah : 233). Maka negara wajib membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin, termasuk mendorong para pengusaha untuk memajukan usahanya agar menyerap tenaga kerja tentu dengan support negara. Baik berupa modal, lahan maupun pelatihan.

 

Negara tidak membebani pajak kepada rakyat, namun menjamin semua kebutuhan pokok dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan hingga keamanan. Darimana negara mendapat pendapatan? Dari harta kepemilikan umum dan negara, juga zakat yang disimpan di Baitulmal.

 

Seorang Farel akan menikmati pendidikan untuk mengoptimalkan potensinya, memiliki pribadi Islam, tentu juga agar bisa bermanfaat bagi masyarakat tanpa perlu khawatir beban menanggung kewajiban menafkahi keluarga. Mungkin jika kemarin syair lagunya tidak boleh membandingkan dengan yang lain, kini wajib membandingkan sistem Islam dan Kapitalisme, mana yang terbukti lebih mensejahterakan. Wallahualam bissawab. [LM/ry].