Gaza semakin Terpuruk

Oleh Danis Nursani
Bojongsoang
LensaMediaNews.com, Surat Pembaca_ Hingga hari ini, sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi yang bahkan bayi-bayi yang masih merah yang tak memiliki dosa pun menjadi pihak terdampak. Bagi Zionis, dosa mereka hanyalah karena mereka bayi Muslim keturunan Palestina. Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh secara pelan-pelan generasi Palestina. Sebagaimana dilansir dalam laman berita online, otoritas Zionis mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendekati pusat distribusi bantuan. Melalui juru bicaranya, dalam platform X dikatakan bahwa saat ini pusat distribusi ditutup karena keperluan renovasi, reorganisasi, dan peningkatan efisiensi. (Beritasatu.com, 04 Juni 2025)
Pahitnya, negara-negara besar dunia diam termasuk para penguasa muslim juga sibuk retorika tanpa aksi nyata mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah. Maka akhirnya justru masyarakat sendiri yang bergerak menentang kekejaman Zionis sebagaimana kapal Madleen dari Koalisi Freedom Flotilla. Berlayar dari Italia menuju Gaza, terdiri dari 12 aktivis dari berbagai negara mereka berlayar membawa makanan dan obat-obatan. Namun belum sampai, mereka sudah dicegat oleh Zionis. Anehnya, gerakan besar masyarakat ini sudah berjalan juga di jalur darat dimulai dari Tunisa menuju Gaza, namun yang bergerak justru masyarakat sipil bukan pasukan tentara. Para kepala negara muslim justru diam meski rasa kemanusiaan terkoyak. Padahal perasaan itu adalah fitrah bagi manusia, untuk menolong sesamanya, apalagi bayi yang lemah tak berdaya. Hal ini menunjukan matinya sifat dasar manusia disebabkan sistem kapitalisme yang mendasarkan segala sesuatu berdasarkan materi. Kekejaman yang ditunjukan tidak sedikit pun mengusik rasa para pemimpin muslim dikarenakan sekat bayangan Bernama nasionalisme. Tidak ada pasukan yang bergerak untuk berjihad dijalan Allah swt. untuk membela saudaranya yang dizalimi justru bergandengan tangan dengan penjajah Yahudi.
Seruan jihad hanya mungkin dikumandangkan oleh khilafah. Oleh karena itu, umat harus berjuang menegakkan khilafah. Tegaknya khilafah tak mungkin terwujud ketika umat masih hidup dalam naungan kapitalisme sekulerisme. Sesungguhnya umat memiliki kekuatan untuk menghentikan hegemoni para penjajah terutama kaum Zionis. Umat harus disadarkan akan Aqidah yang benar. Kalimat ‘sesama muslim itu bersaudara’ bukan sebatas ungkapan. Ingatlah bagaimana Khalifah Al Mu’tashim membebaskan Kota Ammuriah hanya karena teriakan “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”, disusul dengan bergeraknya pasukan kaum Muslim dipimpin oleh Al Mu’tashim. Maka hanya dengan menegakkan Khilafah, yang membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Khilafah. Jamaah ini akan membangun kesadaran umat, dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Umat sudah seharusnya menjawab seruan jamaah dakwah ini dan berjuang Bersama menjemput nasrullah.
Wallahu’alam
