Gen Z Bicara Perubahan, Energi Besar Kebangkitan Umat

GenZ 2-LenSaMediaNews

Oleh : Ahda Iftikhar Yusuf

 

LenSaMediaNews.Com–Dalam fenomena aksi demo, Generasi Z atau lebih dikenal Gen Z menarik perhatian masyarakat belakangan ini. Pada saat menyuarakan aspirasi melalui media sosial menunjukkan cara unik Gen Z dalam merespons tekanan.

 

Lahirnya Generasi Z memang di tengah penuh  tekanan. Tekanan terhadap kesenjangan ekonomi semakin tinggi, harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan menyempit, sementara itu korupsi ada dimana-mana akibat Kapitalisme semakin terasa mendominasi.

 

Namun, Gen Z, dalam menyuarakan aspirasi itu berbeda. Mereka tidak selalu memilih cara lama yang destruktif, melainkan memilih menyampaikan suaranya dengan cara khas mereka, menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, hingga elemen estetika visual tanpa harus merusak fasilitas.

 

Menurut psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog , menyebutkan bahwa Gen Z “bicara perubahan” tanpa harus merusak fasilitas.

 

Akan tetapi, kita juga perlu waspada,  peringatan yang disampaikan oleh Prof. Rose Mini Agoes Salim bahwa remaja masih mudah terprovokasi karena kontrol diri belum stabil, kondisi ini rentan dimanfaatkan oleh  pihak lain  hanya demi kepentingan sepihak saja (inforemaja.id, 2-9-2025).

 

Dalam sejarah pun mengajarkan bahwa perubahan ada pada semangat pemuda. Mulai dari gerakan sumpah pemuda hingga adanya berbagai gerakan Islam yang dimulai dari pemuda,  dari Muhammad al-Fatih yang menaklukkan konstantinopel sampai dengan Ibnu Abbas. Hal ini membuktikan bahwa pemuda adalah agen perubahan, pemuda berpotensi untuk mengguncangkan dunia.

 

Sayangnya, studi psikologi kapitalistik seringkali mengurangi potensi tersebut. Gen Z digambarkan kreatif dan ekspresif, namun juga rentan emosional, sehingga mereka diperintahkan untuk fokus pada identitas, gaya hidup, dan ekspresi pribadi. Akhirnya, kegelisahan mereka diekspresikan melalui meme atau postingan media sosial, bukan melalui perjuangan untuk mengubah struktur kekuasaan yang zalim.

 

Sedangkan, dalam Islam memandang manusia punya naluri mempertahankan diri (gharizah baqa) dan naluri beragama (gharizah tadayyun). Dua naluri ini berhubungan, manusia memiliki gharizah baqa dalam menolak kezaliman dan gharizah tadayyun dalam mencari solusi untuk menghilangkan kezaliman dengan menggunakan aturan Sang Pencipta.

 

Sesungguhnya dalam aksi demo tersebut menunjukkan fitrah mereka menolak kezaliman dan mencari jalan keluar, mereka merasa terjepit dengan kezaliman,  kesenjangan, pajak, dan penindasan.

 

Demonstrasi hari ini sekaligus jelas menunjukkan  bagaiman sistem hari ini mengatur dan menyalurkan potensi itu hanya sebatas ungkapan emosional. Sedangkan dalam Islam memandang fitrah manusia yang mempunyai khasiatul-insan adalah  untuk mendapatkan dengan tuntutan syarak, bukan tuntutan psikologi. Islam juga mengatur muhasabah Lil jukkam dengan mekanisme yang sama dari sejak masa Rasulullah Saw.

 

Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mus’ab bin Umair, dan Zubair bin Awwam, adalah beberapa pemuda yang menjadi garda terdepan dakwah. Bagaimana pengorbanan Ali bin Abi Thalib yang rela bertukar tempat dengan Rasûlullâh, dalam peristiwa hijrah hingga keberanian Asma bin Abu Bakar yang menanggung risiko besar.

 

Saat ini, tantangan yang dihadapi berbeda bentuk tetapi sama hakikatnya. Kapitalisme sekuler mengikat generasi muda dengan hiburan yang tidak terbatas, gaya hidup yang hedonis, dan cara berpikir yang terlalu praktis.

 

Padahal sejarah membuktikan bahwa perubahan besar hanya muncul ketika generasi muda bangkit dengan kesadaran politik Islam, berani menolak ketidakadilan, dan kembali menganggap Islam sebagai jalan hidup yang sempurna.

 

Karena itulah, wahai pemuda muslim, jangan sampai usiamu terbuang begitu saja. Perhatikanlah Ali, Zubair, dan Mus’ab, mereka berusia sama denganmu ketika mereka membentuk sejarah. Mereka menganggap iman sebagai sumber tenaga, pengorbanan sebagai kehormatan, dan perjuangan sebagai jalannya hidup.

 

Jika engkau ingin mendapatkan perubahan yang benar-benar nyata, perubahan yang membawa keadilan, maka jalan untuk itu ada dengan meniru semangat para pemuda di zaman Nabi.

 

Bangunlah dengan ilmu, semangat, dan keberanian. Jadilah generasi yang bukan hanya mengikuti zaman, tetapi juga berperan dalam membentuk masa depan.

 

Sejarah telah terbukti bahwa peradaban Islam didirikan oleh para pemuda. Dan sejarah akan kembali tertulis ketika pemuda hari ini memainkan peran yang sama. Wallahu a’lam bishshawab. [LM/ry].