Nasib Pilu Raya: Potret Buram Masyarakat Marginal

Raya1-LenSaMedia

Oleh: Chaya Yuliatri

Aktivis Muslimah DIY

 

LenSaMediaNews.Com–Raya, seorang gadis kecil yang hidup di tengah keterbatasan. Ia memiliki seorang ayah pengidap TBC dan ibu penderita ODGJ.  Raya tinggal di rumah tidak layak, baik dari sisi kesehatan maupun kebersihan.

 

Kandang domba hanya tiga meter dari pintu rumah, ayam berkeliaran dengan bebas di sekeliling rumah, kondisi MCK yang tidak layak, sumber air dari sungai, dan permasalahan sosial ekonomi lainnya. Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di daerah terpencil, terutama dalam hal akses kesehatan dan sanitasi yang layak (Kompas.com, 21-08-2025).

 

Inilah potret masyarakat marginal yang terpinggirkan. Mereka tidak memiliki akses penuh terhadap hak-hak dasarnya, seperti: pendidikan,kesehatan, pekerjaan, dan swbagainya. Mereka sering menghadapi diskriminasi dan stigma negatif di tengah masyarakat yang apatis.

 

Kematian Raya seharusnya menjadi pukulan dahsyat bagi para pemangku kebijakan. Mengapa kondisi ini bisa terjadi di negeri yang konon katanya ’gemah ripah loh jinawi’? Ke mana kekayaan alam yang melimpah ruah, tetapi rakyatnya hidup dalam kubangan derita?

 

Bukannya tidak mungkin, di luar sana banyak Raya-Raya lain yang sedang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan. Lalu, apakah tugas penguasa yang dipilih oleh rakyat untuk menyejahterakan mereka sudah tertunaikan? Di mana janji-janji manis yang dulu terucap?

 

Kapitalisme Sumber Penderitaan

 

Inilah potret buram kehidupan dalam Sistem Kapitalisme. Sistem yang tidak memanusiakan manusia.  Yang berkuasa hanyalah orang-orang yang sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongan yang harus mereka jaga. Kebijakan dibuat berdasarkan kepentingan segelintir elite politik.

 

Oleh karena itu, wajar apabila kemiskinan terus menjadi problem yang tak terselesaikan. Karena, mengurus rakyat bukanlah tujuan utama. Mereka memanfaatkan kursi kekuasaan  hanya untuk melanggengkan hegemoni kafir penjajah. Sumber daya alam diprivatisasi dan diswastanisasi demi kepentingan para kapitalis.

 

Rakyat hanya bisa gigit jari melihat kepemilikan umum ini dirampas dengan keji. Bukan hanya swasta dan asing, namun para pejabat negeri. Miris!

 

Kepemimpinan adalah Amanah

 

Islam memandang bahwa kepemimpinan adalah suatu amanah agung yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Seorang Khalifah akan bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar warganya, meliputi: papan, pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Tidak tebersit sedikit pun untuk melalaikan kewajiban itu karena semua dilandasi atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

 

Ingatlah kisah Khalifah Umar bin Khaththab yang rela memanggul sendiri sekarung gandum ke rumah seorang janda yang anaknya menangis karena kelaparan. Pada saat itu sedang terjadi paceklik di Arab.

 

Sang pengawal yang hendak memanggulkan karung itu pun ditolak oleh Amirul Mukminin dengan jawaban yang sangat menohok. “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti,” jawab Umar yang terus membawa karung gandum.

 

Islam Solusi Hakiki

 

Beginilah seharusnya sosok seorang pemimpin. Sunggguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bukan sekadar pencitraan. Rakyat tak butuh janji-janji kosong, tetapi bukti nyata kinerja para penguasa. Sayangnya, ini hanyalah utopis dalam Sistem Kapitalisme yang diterapkan hari ini.

 

Kesejahteraan hakiki hanya akan terwujud ketika Sistem Islam diterapkan secara kafah dalam kehidupan, sebagaimana yang dicontohkan pada masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan para Khalifah yang banyak.

 

Kesejahteraan akan dapat dirasakan tiap individu tanpa terkecuali. Bahkan, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada seorang pun yang mau menerima zakat karena kehidupan mereka sudah sejahtera dan terjamin.

 

Bukankah kehidupan seperti ini juga yang kita dambakan? Tidak ada jalan lain untuk meraihnya kecuali dengan mencampakkan Sistem Kapitalisme dan kembali pada sistem Islam. Wallahualam bissawab. [LM/ry].