Ibu Ideologis, Role Model Penjaga Generasi

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.Com–Ibu adalah sosok kuat yang selalu diharapkan menjadi sandaran tangguh. Idealnya, ibu mampu menjadi pencetak generasi pemimpin dan penakluk yang senantiasa penuh ketaatan kepada sang Khalik, Allah SWT.
Tantangan Ibu Ideologis
Faktanya, peran ibu saat ini kian berat dan penuh tantangan. Arus digitalisasi menjadi salah satu hambatan yang melemahkan fungsi ibu. Beragam bentuk pemikiran batil terus merangsek dan merusak pemahaman.
Sistem sekulerisme dan Kapitalisme telah menyulap fungsi ibu. Ibu yang mestinya menjadi ummu wa rabbatul baiti (ibu dan pengurus rumah tangga) telah bergeser. Sistem Kapitalisme yang menyandarkan materi sebagai sumber kebahagiaan telah menjadikan sosok ibu sebagai mesin penghasil materi demi memenuhi kebutuhan dan segala bentuk keinginan hidup yang memaksa untuk dipenuhi.
Sistem ekonomi yang kini diadopsi pun telah menempatkan sosok ibu sebagai pendongkrak ekonomi. Tak main-main, angkanya mencapai 56,7 persen pada November 2025 (bisnis.com, 4-11-2025). Sistem ekonomi kapitalisme liberal telah menjadikan sosok ibu melupakan perannya sebagai penjaga dan pendidik generasi.
Wajar saja, saat kerusakan di tengah masyarakat terus menjadi masalah tanpa solusi. Negara yang mestinya menjadi pelindung, justru hilang fungsinya. Negara hanya sebatas regulator yang tidak mampu menjaga fungsi strategis ibu.
Fakta ini menjadi tantangan utama saat sistem rusak ini terus diterapkan. Indonesia Emas yang diharapkan mampu terwujud pada tahun 2045, rasanya hanya sebatas impian jika kerusakan ini terus dijadikan panduan.
Ibu Ideologis dalam Islam
Islam menetapkan peran ibu sebagai tiang peradaban. Dengannyalah fungsi generasi mampu terjaga. Seorang ibu mestinya mampu menetapkan visi misi yang penting dalam mendidik generasi dan keluarga. Sekaligus mampu mengedukasi dirinya dengan pemahaman ideologis yang terstruktur dan sistematis.
Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibu menjadi salah satu kekuatan yang mampu membentuk anak-anaknya sesuai fitrahnya. Terkait hal tersebut, Islam menjadi satu-satunya panduan dalam menyempurnakan tugas ibu. Dalam Islam, seorang ibu wajib diedukasi dengan pembinaan intensif dalam wadah syarikah (kelompok) dakwah Islam ideologis.
Metode pembinaan akidah dan syakhsiyyah yang intensif, mampu melahirkan kekuatan ibu sekaligus ketangguhannya dalam mendidik generasi. Visi pendidikan berbasis akidah Islam dan menetapkan anak sebagai hamba Allah SWT. Anak juga diposisikan sebagai penjaga kehidupan dan khairu ummah. Sehingga ibu akan menetapkan pendidikan terbaik dengan landasan hukum syara yang tertata sempurna.
Proses edukasi ini pun harus dibarengi dengan penerapan Islam kafah (menyeluruh) dalam institusi yang dicontohkan Rasulullah SAW, yakni khilafah. Satu-satunya institusi yang mampu menjamin penerapan edukasi sesuai akidah Islam. Khilafah mampu menjamin kewajiban ibu sebagai pendakwah sekaligus penjaga generasi yang utuh.
Islam-lah satu-satunya harapan. Dengannya peran ibu mampu terjaga. Pendidikan generasi pun terjamin sempurna. Wallahu’alam bisshowwab. [LM/ry].
