Harga Pertamax Naik, Rakyat semakin Tercekik

Bbm naik

Oleh Ummu Adil

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Rakyat dibuat panik dengan harga Pertamax yang naik. Harga Pertamax naik menjadi 16.250, dan Pertamax green 17.000 per liter. Kenaikan ini tentu sangat berpengaruh pada pengeluaran sehari-hari. Bukan hanya itu, kenaikan barang-barang juga mulai mengikuti.

 

Lebih parahnya lagi, bukan hanya naiknya harga Pertamax yang membuat rakyat panik dan tercekik, namun langkanya solar dan juga pertalite. Para pengendara harus antri sampai berjam-jam untuk mendapatkan solar dan pertalite. Direktur Riset dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, dalam wawancara dengan BBC Indonesia pekan ketiga April lalu, mengatakan masyarakat calon kelas menengah dan menengah atas adalah kelompok yang paling terbebani dari kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi ini. (BBC.com, 10/06/2026)

 

Dan yang paling tidak bisa diterima adalah alasan pemerintah menaikkan harga Pertamax karena mengikuti perkembangan harga minyak dunia yang trennya menguat imbas konflik di Timur Tengah. Sungguh alasan yang menyakiti hati rakyat mengingat Indonesia termasuk penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

 

Akar Masalah

Dengan adanya kenaikan harga Pertamax pasti akan berimbas pada turunnya daya beli masyarakat. Di mana harga barang-barang naik namun pendapatan tidak ikut naik. Inilah yang terjadi pada sistem kapitalisme saat ini Rakyat sudah bekerja keras namun belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak cukup sampai di situ, ketika harga Pertamax melejit, kelas menengah banyak yang beralih ke pertalite bahkan solar. Hal ini menambah kesusahan rakyat menengah ke bawah. Selain harus antri yang sangat panjang, harus bersaing dengan jumlah pengendara yang sangat banyak.

 

Terlihat jelas bahwa tata kelola BBM dengan paradigma kapitalistik menjadikan BBM sebagai komoditas ekonomi yang terus mencekik rakyat. Tidak jelas rentang waktu kenaikan harga BBM. Ketika penguasa dan pengusaha menginginkan keuntungan yang lebih, maka rakyat menjadi sasaran dengan menaikkan harga BBM. Dapat dikatakan bahwa kedaulatan energi Indonesia sangat lemah. Di saat Indonesia termasuk memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah termasuk minyak, namun pemimpin tidak bisa mengelolanya dan memberikan harga yang stabil dan murah kepada rakyatnya.

 

Solusi Islam

Itulah yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Paradigma kapitalistik terkait BBM salah dan menzalimi rakyat, harus diubah dengan paradigma Islam. Karena Islam mengutamakan kepentingan rakyat dibandingkan keuntungan penguasa ataupun pengusaha.

 

Dalam Islam, BBM hak rakyat yang bersumber dari harta kepemilikan umum. Kepemilikan umum harus dikelola oleh negara dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh rakyat baik muslim maupun nonmuslim. Oleh karena itu, negara wajib mengelola harta milik umum termasuk sumber daya energi dan memberikan pada rakyat dengan harga semurah-murahnya. Sehingga tidak akan terjadi kenaikan harga BBM yang tinggi yang menyusahkan rakyat.

 

Selain itu, kedaulatan energi dan mekanisme Baitul mal dalam Islam akan menuntaskan problem pemenuhan BBM untuk rakyat. Sehingga tidak akan terjadi BBM langka yang menyebabkan rakyat panik dan mengantri dengan waktu yang sangat lama. Hanya dengan diterapkannya hukum Islam maka permasalahan BBM dapat tersolusikan. Karena hukum Islam datangnya dari Allah sang pencipta dan pengatur kehidupan dunia ini. Setiap permasalahan yang ada maka ada solusi yang Allah berikan. Wallahu ‘alam Bishshawab.