Bullying Pesantren: Bukti Gagalnya Pendidikan Sekuler, Islam Punya Tamengnya

Polemik Pesta Babi dalam Pandangan Islam_20260617_170359_0000

Oleh: Mariah Hati, S.Pd

(Aktivis & Pendidik) 

 

Opini_LenSa Media News_Darah santri kembali tumpah. Tiga santri di Pondok Pesantren Lombok Tengah diduga sengaja dibakar hidup-hidup oleh seniornya. Bukan main-main. Ini bukan “kenakalan remaja”, ini kebiadaban. Ironisnya, pihak ponpes dinilai lepas tanggung jawab. [Kompas.com, 2026]

 

Fakta ini bukan berdiri sendiri. FSGI mencatat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang 2025. Naik gila-gilaan dari 36 kasus di 2024, dan cuma 15 kasus di 2023. Total 358 korban, 126 pelaku. [Tribunnews.com, 2026]

 

Pesantren yang harusnya jadi rumah kedua, tempat menuntut ilmu dan adab, kini jadi arena perundungan 24 jam. Tantangan berat? Ini tamparan keras.

 

Sekularisme: Mencetak Otak Pintar, Hati Mati Rasa

 

Bullying bukan musibah. Bullying adalah buah logis dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan Islam dari kehidupan.

 

Sekularisme melahirkan generasi “cerdas tapi bejat”. Otak diasah buat ranking, hafalan, nilai UN. Tapi hati dibiarkan kosong dari takwa. Tidak heran kalau muncul senioritas negatif. Yang kuat menindas, yang lemah jadi bulan-bulanan. Kekerasan jadi budaya karena tolok ukurnya hanya materi dan pencapaian.

 

Negara dalam sistem ini juga gagal jadi raa’in. Perannya cuma reaktif. Ada kasus (konferensi pers) “kami prihatin”. Sanksi? Tumpul.

Pelaku di bawah umur dibebaskan dengan alasan “masih anak-anak”. Padahal kekejamannya level iblis. Akibatnya kasus bullying naik tiap tahun, karena pelaku tidak jera, korban tidak terlindungi.

 

Islam: Akidah Jadi Benteng, Negara jadi Junnah

 

Islam memandang bullying sebagai dosa besar. Menyakiti muslim sama dengan menyakiti Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” [HR. Bukhari 10].

 

Sistem pendidikan Islam tidak hanya mengejar pinter. Targetnya syakhshiyyah Islamiyyah. Dari kecil anak ditanamkan akidah, diawasi 24 jam, dibiasakan ukhuwah. Senior bukan tukang palak, tapi “kakak” yang wajib ngajarin adiknya wudhu, ngaji, akhlak. Senioritas positif, bukan perbudakan.

 

Negara Khilafah hadir sebagai raa’in dan junnah. Semua pesantren di bawah pengawasan negara. Kurikulum, pengasuh, sistem asrama diaudit. Gak ada celah buat kekerasan tumbuh.

 

Untuk pelaku? Islam tegas. Ada uqubat zawajir yang menjerakan dan jawabir yang menebus dosa. Baligh sudah ada  taklif (beban hukum). Tidak ada “zona abu-abu umur”. Kejam ya dihukum setimpal, supaya yang lain mikir seribu kali sebelum berbuat hal yang sama.

 

Mengakhiri Ilusi “Bina Karakter” Tanpa Akidah

 

Berharap bullying hilang cuma dengan seminar, poster “stop bullying“, atau hukuman skorsing adalah ilusi. Selama akarnya sekuler, selama negara lepas tangan, selama sanksi tumpul, maka pesantren akan terus berdarah.

 

Solusinya sistemik adalah kembalikan pendidikan berbasis akidah Islam, negara hadir penuh sebagai pelindung, tegakkan sanksi tegas tanpa pandang bulu. Targetnya satu yaitu setiap santri aman menuntut ilmu, bukan was-was jadi korban.

 

Selama sekularisme berkuasa, maka air mata santri akan terus mengalir. Sudah saatnya kita bicara solusi hakiki. Sudah saatnya menuntut negara jadi raa’in. bukan penonton saat generasi kita dibakar hidup-hidup. Karena hanya dengan Islam kaffah, pesantren benar-benar jadi tempat mencetak ulama, bukan kuburan santri.

Wallahua’lam bishawab.

(LM/Sn)