Harga Tanah Meningkat di Kota Penyangga, Hunian semakin Tak Terjangkau

Oleh Lulu Nugroho
LensaMediaNews.com, Opini_ Peningkatan jumlah penduduk, seiring dengan meningkatnya kebutuhan hunian nyaman. Kini masyarakat semakin bergerak ke tepian kota, mencari rumah murah atau tanah dengan harga terjangkau. Kita melihatnya sebagai hal yang wajar. Apalagi daerah pinggiran pun akhirnya menjadi wilayah yang ramai, bersamaan dengan pertumbuhan kota besar. Tempat-tempat yang semula merupakan pinggiran kota, kini berubah menjadi kota besar. Dan akhirnya, masyarakat terus bergerak semakin jauh, demi menemukan tempat hunian yang terjangkau.
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi adalah kota-kota penyangga atau kota satelit, yaitu kota atau pemukiman di pinggiran kota besar yang berfungsi sebagai penopang kehidupan, hunian, dan penunjang kebutuhan kota metropolitan utama. Meskipun mandiri, penduduknya sangat bergantung pada pusat kota untuk lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan atau pemenuhan kebutuhan lainnya.
Di kota penyangga, harga tanah bervariasi dan relatif lebih rendah daripada Jakarta, sehingga cocok untuk pekerja Jakarta yang mencari tempat tinggal dekat dengan tempat kerja, dan masih masuk di kantong mereka. Hanya saja harga tanah mengalami kenaikan 1,58 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Jika dilihat dalam bentuk angka, nilai tanah di Bodetabek sudah tembus Rp12.746.152 per meter persegi.
Tanah Mahal akibat Kapitalisme
Kapitalisme tidak melihat tanah dan perumahan sebagai kebutuhan dasar yang harus disediakan negara, tetapi merupakan aset finansial. Peran negara bergeser dari penyedia menjadi fasilitator swasta. Kebijakan dibuat untuk memudahkan investasi properti dan bisnis, bukan ri’ayah. Maka wajar jika harga tanah dan perumahan terus naik dari tahun ke tahun.
Kapitalisme pun membuat lahan pemukiman untuk proyek komersial seperti mal, apartemen, perkantoran dll. Kebijakan tata ruang dibuat untuk kawasan komersial dan industri. Alhasil pemukiman rakyat bergeser ke pinggir kota, sebab harga tanah semakin tak terjangkau.
Saat negara menarik diri dari penyediaan pemukiman, dampaknya akan muncul bedeng, rumah kardus di kolong jembatan, pemukiman kumuh di bantaran sungai, manusia gerobak dll. Masyarakat membuat rumah seadanya sesuai kondisi finansial mereka. Tanpa campur tangan negara, maka warga akan sulit memiliki hunian yang nyaman
Solusi Islam
Negara menyediakan perumahan layak, memberikan secara cuma-cuma atau menjualnya dengan harga terjangkau, sebagai bagian dari tanggung jawab negara memenuhi kebutuhan pokok warganya. Sumber pendanaan dari baitul mal. Saat negara menjamin pangan, sandang, pendidikan dan lainnya, maka kemampuan warga membeli rumah pun menjadi lebih tinggi.
Negara juga menghidupkan tanah mati (ihyaul mawat), mengalokasikannya menjadi perumahan bagi warga yang membutuhkan. Negara membangun, menjual, atau menyewakannya dengan harga terjangkau. Dengan ini maka kebutuhan perumahan bagi setiap keluarga, pasti akan terpenuhi.
Hal ini pernah terjadi di masa kejayaan Islam. Setelah penaklukan Persia dan Romawi, pasukan Muslim memiliki pemukiman yang tertata di Kufah dan Basrah dengan infrastruktur terintegrasi.
Bahkan di masa Abbasiyah, pemukiman dibangun di sekitar pusat pemerintahan untuk warga dari kalangan pegawai, tentara, pengrajin dan buruh. Tidak dibedakan status sosial di antara mereka. Seluruh warga berhak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Ini merupakan tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)
Dalam Islam, setiap individu terjamin haknya. Seluruh kebutuhan dasarnya, termasuk rumah yang nyaman dengan harga terjangkau, berada dalam tanggung jawab negara. Alhasil warga tak perlu mencari rumah ke pinggir kota. Pemerataan pembangunan, membuat setiap keluarga menikmati riayah penguasa di manapun mereka berada.
Baghdad, Kota Seribu Satu Malam, di Irak pernah menjadi pusat peradaban terbesar pada masa Kekhilafahan Abbasiyah. Baghdad menjadi kota metropolis, pusat politik, ekonomi, dan kebudayaan dunia Islam. Sementara Kordoba di Spanyol merupakan salah satu kota termaju di dunia, menyaingi Baghdad dalam hal ilmu pengetahuan dan arsitektur, pada masa Kekhilafahan Umayyah di Andalusia. Kota terpadu dalam Islam, menyediakan seluruh kebutuhan warganya. Wallahu a’lam bishshawab.
