Independent Woman: Slogan yang Menghargai Perempuan, Benarkah?

Oleh: Mariani, S.Pd
LenSaMediaNews.Com, Opini–Belakangan ini marak narasi berslogan independent woman bermunculan. Beragam tanggapan datang dari masyarakat terkait isu itu. Perhatian dari LSM dan lembaga pemerintah pun bermunculan terkait ranah perempuan dalam bekerja. Ombusman, dinaskertans dan AIMI kolaborasi tekankan pemenuhan hak tenaga kerja perempuan. Inilah bentuk perhatian dan sosialiasi agar perusahaan yang memperkerjakan perempuan memberikan hak mereka (kalimantanpost.com, 1-3-2025).
Di samping itu, kita mesti melihat hari ini perempuan bekerja adalah sebuah opsi perlindungan diri, yang muncul dari fakta ekonomi hari ini. Perempuan ingin memiliki karir cemerlang, sukses dan juga mandiri. Mereka ingin dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki kebebasan dalam membuat keputusan.
Tidak sedikit kita melihat dalam sebuah keluarga, perempuan mengambil peran sebagai pencari nafkah yang utama dikarenakan keterpaksaan, di mana suami yang tidak berpenghasilan atau kurang. Lapangan pekerjaan untuk laki-laki semakin sempit.
Beberapa tahun ini, negara yang telah membuat kebijakan untuk meningkatkan perempuan turut serta dalam bekerja diluar rumah lumayan banyak. Namun, patut kita soroti beberapa kekeliruan dalam kebijakan itu, salah satu kekeliruan yang menonjol adalah kebijakan memberikan perempuan porsi besar di dunia kerja dibandingkan laki-laki.
Jika kebijakan yang diterapkan sama saja dengan sebelumnya, dampaknya akan terjadi ketimpangan peran. Perempuan tidak lagi fokus pada peran penting dan utama sebagai ibu pencetak generasi, tapi malah lelah bekerja. Sehingga kebangkitan bangsa akan sulit dicapai.
Padahal sebagai negeri muslim terbesar, sudah semestinya ketika membuat sebuah kebijakan dan peraturan berdasarkan syariat Islam, mengapa? Karena hanya Islam yang ketika di terapkan dengan sempurna mampu membawa kemaslahatan dan kebaikan bagi semua umat manusia dan juga bagi seluruh alam.
Hari ini ketika ekonomi negara diatur dengan ekonomi Kapitalis meniscayakan ketimpangan ekonomi, berbeda halnya dengan ekonomi Islam yang telah terbukti dalam sejarah peradabannya mampu menaungi duapertiga dunia selama seribu tigaratus tahun. Asas sistem ekonominya adalah distribusi yang merata. Hanya Sang Pencipta yang memiliki kebijakan dan kebijaksanaan untuk mampu mengkover kebaikan manusia dalam bingkai syariah.
Dalam Islam, laki-laki sebagai qowwam. Ketika negara benar-benar hadir maka negara memastikan setiap laki-laki wajib bekerja, sehingga tidak ada lagi yang namanya penganguran dimana-mana, tidak ada alasan malas bekerja.
Namun jika tidak ada alasan syar’i laki-laki enggan bekerja, maka negara akan memberikan sanksi tegas. Perempuan dalam Islam tidak dibebankan mencari nafkah. Dia ditanggung oleh suami ataupun walinya, dan apabila semua itu tidak ada maka negara yang menanggung kebutuhan perempuan.
Jikapun Perempuan harus bekerja maka itu hanya dalam hal melayani umat dan harus terpenuhi hak-haknya sebagai perempuan, tidak mengganggu peran utamanya sebagai ibu.
Hari ini ketika ekonomi negara tidak diatur dengan sistem ekonomi Islam maka kemiskinan menjadi problem utama. Negeri ini menganut sistem kapitalis maka di situlah kesenjangan terjadi bahkan sumber daya alam yang notabene milik rakyat dimiliki oleh segelintir kalangan saja, dampaknya apa? Kekayaan hanya beredar pada sekelompok orang saja, kita bisa lihat bagaimana sulitnya penghidupan kepada masyarakat seperti lowongan pekerjaan.
Harusnya negara hadir sebagai pemberi solusi terbaik yang memandang permasalahan perempuan bukan dari satu sisi perempuan itu sendiri, tapi permasalahan sistem yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Ketika kita memandang masalah sosial maka jangan lupa kita juga harus memandang masalah ekonominya, dan juga pendidikannya, termasuk juga hukumnya.
Oleh karena itu kita perlu aturan Islam yang menjadi solusi dalam semua aspek kehidupan. Islam hadir bukan hanya sekedar menjadi nasehat, Islam hadir menjadi problem solver bagi manusia.
Aturan Sang Pencipta hadir tanpa ada campur tangan urusan manusia, berbeda dengan aturan yang dibuat manusia, sarat akan kepentingan manusia itu sendiri, yang bisa disetir sesuai kepentingan para pemegang jabatan tinggi.
Padahal akal manusia itu sangat terbatas. Islam dulu pernah memimpin dunia dan mampu menuntaskan seluruh problem manusia. Maka sudah saatnya kita menyembalikan aturan kepada Islam saja bukan aturan buatan manusia. Wallahu alam. [LM/ry].
