Islam Solusi Masalah Generasi

20250521_171233

Oleh Ummu Z, S.Pd.

(Pendidik)

 

Lensamedianews.com_ Pada Bulan April 2025 beberapa perguruan tinggi sudah melaksanakan SNPMB (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru). Tentu saja sesuai dengan perkembangan IT, maka SNPMB dilakukan dengan berbasis komputer. Namun faktanya dua hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, sudah ada temuan kecurangan yang dilakukan para peserta (Kompas.com, 25/04/2025).
Di antara kecurangan yang terjadi adalah adanya peserta ujian yang membawa telepon genggam yang disimpan di balik baju atau menyebarluaskan soal ujian di platform X.

 

Menanggapi hal itu, panitia SNPMB menyayangkan dan mengutuk kecurangan dalam pelaksanaan UTBK SNBT 2025. Masalahnya kejadian ini dianggap mencederai prinsip keadilan, integritas dan kejujuran yang menjadi dasar seleksi nasional. Selain adanya dugaan kecurangan, juga ada dugaan soal yang bocor di berbagai platform media sosial (medsos).
Sebenarnya berbagai upaya pasti sudah dilakukan pihak panitia untuk menekan atau mengurangi adanya kemungkinan kebocoran soal ini, salah satunya dengan membuat perbedaan soal dalam setiap sesi yang diselenggarakan, meskipun dilaksanakan pada hari yang bersamaan. Termasuk akan memberikan sanksi bagi peserta UTBK SNBT 2025 yang terbukti melakukan kecurangan, yakni berupa pembatalan hasil ujian, diskualifikasi dari semua jalur SNPMB di PTN tanpa batas waktu dan pelaporan ke institusi pendidikan asal.

 

Dalam menangani masalah kecurangan ini, tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak panitia saja, tapi juga diperlukan peran serta masyarakat yaitu dengan berpartisipasi dalam memberikan informasi kecurangan, misalnya dengan memberitahukan kepada panitia jika melihat adanya peserta ujian yang membawa HP yang disimpan di balik baju atau kecurangan lainnya.

 

Pemanfaatan Teknologi untuk mengakali test UTBK menggambarkan buruknya akhlak calon mahasiswa. Hal tersebut diatas menjadi salah satu bukti bahwa sistem Pendidikan saat ini telah gagal dalam mewujudkan generasi berkepribadian yang Islami dan memiliki ketrampilan. Hal ini dikuatkan oleh survey KPK, yang menyebutkan banyak siswa SMA dan mahasiswa yang menyontek saat dilaksanakan ujian. Selain itu, kecurangan ini juga menggambarkan bahawa hasil menjadi orientasi, sehingga abai pada halal dan haram. Hal ini adalah buah dari sistem hidup saat ini yang berlandaskan kapitalisme, yang menjadikan ukuran keberhasilan dan kebahagiaan berorientasi pada hasil atau materi.

 

Berbeda dengan Islam yang mengajarkan agar menjadikan ukuran kebahagiaan bagi individu, masyarakat dan negara itu adalah keridaan Allah semata. Sehingga dalam tataran individu maka akan selalu ingat bahwa apa yang dia lakukan akan selalu dilihat dan dicatat oleh Allah SWT. Dalam tataran masyarakat juga akan berpartisifasi positif yaitu dengan selalu mengingatkan siapa saja yang di depan mata mereka melakukan kecurangan, tidak perduli apakah itu keluarga, atau bukan. Hal ini dikarenakan masyarakat menyadari akan keharusan mengubah kemunkaran jika itu terjadi di depan mata mereka.

 

Dalam tataran negara, maka Islam akan menjaga agar setiap individu senantiasa terikat dengan aturan Allah. Sistem Pendidikan Islam pun akan berasaskan akidah Islam sehingga akan mencetak generasi unggul yang berkepribadian Islam, terikat pada syariat Allah, memiliki ketrampilan yang handal, dan menjadi agen perubahan. Hal ini sudah terbukti dengan lahirnya para imam seperti imam syafi’I, imam maliki, imam hambali dan imam-imam lainnya.
Dengan kuatnya kepribadian Islam, kemajuan teknologi pun akan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah, dan untuk meninggikan kalimat Allah. Wallahu’alam.