Isra Mi’raj, Ujian Keimanan hingga Perintah Membumikan Islam

Oleh Noor Dewi Mudzalifah
(Aktivis Dakwah Muslimah)
LensaMediaNews.com, Opini_ Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa dalam sejarah umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada malam 27 rajab tahun 10 kenabian, saat Rasulullah Saw. berada dalam masa duka setelah ditinggal oleh dua orang yang beliau cintai yaitu Khadijah ra. sang istri tercinta dan Abu Thalib sang paman yang selama ini menjadi salah satu penjaga.
Isra adalah perjalanan Rasulullah Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Dalam Al Quran peristiwa ini digambarkan dalam Surah Al Isra ayat pertama, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Makna Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj sangat sarat akan makna, maka sungguh disayangkan jika perayaannya sekedar menjadi seremoni tahunan semata tanpa menimbulkan perubahan nyata. Diantara beberapa hikmah yang bisa kita ambil yaitu:
Pertama, Isra Mi’raj dan ujian keimanan. Isra Mi’raj adalah peristiwa yang berada di luar jangakuan akal manusia. Saat itu keimanan kaum muslimin benar-benar diuji. Kita mungkin bisa mudah mengimani sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal, tapi tak semudah itu untuk hal yang berada di luar jangkauannya. Hingga pada saat itu ada kaum muslimin yang memilih murtad, namun ada pula yang mendapat gelar kehormatan dan disematkan sebagai kemuliaan hingga saat ini karena memilih membenarkan yaitu Abu Bakar As Siddiq ra.
Mereka mendapat ujian yang sama, namun memiliki sikap atau pilihan yang berbeda, hingga nilai dirinya pun berbeda di mata Allah dan manusia. Begitupun kehidupan kita saat ini, ujian keimanan akan selalu ada. Beriman atau ingkar adalah pilihan kita. Beriman terlebih di kondisi saat ini memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa. Dan yakinlah reward kita akan sesuai dengan perjuangan kita.
Pelajaran kedua dan salah satu dari yang banyak dibahas dalam momen Isra Mi’raj adalah turunnya perintah shalat lima waktu. Allah ta’ala memposisikan kewajiban shalat lima waktu secara khusus yaitu sebagai amal yang dihisab paling awal. Rasul ﷺ bersabda: “Yang pertama dihisab dari hamba Allah pada Hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR ath-Thabarani).
Perkara shalat ini juga tak bisa dipisahkan dengan hikmah pertama yakni keimanan. Sebab, jika hal itu belum beres, tak mungkin dia meyakini akan adanya perintah shalat. Atau bisa jadi dia melaksanakan namun bukan karena keimanan. Padahal shalat memiliki fungsi penting yaitu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Allah Ta’ala berfirman “…Dirikanlah shalat. Sungguh shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya (keji) dan mungkar. Sungguh mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (TQS al-Ankabut [29]: 45).
Al-fahsyâ adalah dosa-dosa besar, sedangkan al-munkar adalah segala bentuk kemungkaran, yakni segala bentuk kemaksiatan secara umum. Imam al-Baihaqi mengatakan, “Siapa saja yang Allah jadikan shalat itu dia cintai, Allah beri dia taufik serta Allah tundukkan anggota-anggota tubuhnya dan lahiriahnya, maka dia akan tercegah dari kekejian dan kemungkaran.” (Al-Baihaqi, Syuab al-Iman).
Dan hikmah ketiga dari peristiwa Isra Mi’raj adalah memahami bahwa Islam bukan hanya tentang shalat tapi tentang semua perkara kehidupan. Kembali pada hikmah shalat, yaitu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, bukankah indikator perbuatan keji dan munkar ini adalah apa yang Allah Ta’ala telah tetapkan dan Rasulullah contohkan? Maka jelaslah bahwa segalanya harus kembali kepada Islam, bukan kepada kebiasaan atau perasaan.
Namun saat ini umat hidup dalam tatanan sekuler kapitalisme. Agama tak lagi menjadi pedoman, hanya sekedar hiasan di kartu pengenal. Mereka shalat tapi tanpa ruh hingga nihil pengaruh. Tak heran kerusakan justru makin tumbuh. Inilah dampak ketika aturan Islam tak diterapkan secara menyeluruh (kaffah). Islam kaffah hanya mampu diterapkan dalam sistem pemerintahan mulia bernama Khilafah. Inilah sistem pemerintahan yang telah dimusnahkan oleh penjajah pada 28 Rajab 1342 H.
Di momen Isra Mi’raj ini hendaknya kaum muslimin kembali sadar dan bersemangat untuk berjuang mengembalikan kemuliaan umat, menghadirkan kembali umat terbaik yang dulu pernah ada di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Perjuangan inilah yang disebut para ulama sebagai Taajul Furud (mahkota kewajiban). Sungguh beruntung mereka yang menyibukkan diri dalam perjuangan ini. Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjadi bagian dari mereka. Aamiin
