Pascabencana Sumatera, Berharap Pendidikan Lebih Baik

Sekolah-LenSaMediaNews

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

LenSaMediaNews.Com–Dalam rapat koordinasi bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian yang juga dihadiri  Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan, Menteri Pekerjaan Umum, perwakilan DPR RI, serta kementerian dan lembaga terkait, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyampaikan bahwa proses pemulihan layanan pendidikan pascabencana di Provinsi Aceh terus menunjukkan kemajuan signifikan. Dari total 2.756 sekolah terdampak, sekitar 90 persen  siap melaksanakan pembelajaran (kemendikdasmen.go.id, 10-1-2026).

 

Masih terdapat 283 sekolah yang membutuhkan proses pembersihan dan ditargetkan selesai pada akhir Januari 2026. Dengan penyaluran bantuan dana pembersihan senilai Rp5–50 juta kepada 956 sekolah. Ada juga dukungan psikososial, dana operasional pendidikan darurat, serta berbagai sarana pembelajaran guna memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di tengah kondisi darurat.

 

Kemendikdasmen juga sudah mengusulkan percepatan penyaluran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Tahun 2026 kepada Kementerian Keuangan dengan total anggaran sekitar Rp503 miliar. Kemudian, Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi sekitar 14.000 guru, masing-masing sebesar Rp2 juta dengan total anggaran Rp7,9 miliar, untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran. Percepatan rehabilitasi 2.756 sekolah terdampak diperkirakan membutuhkan Rp2 triliun. Untuk sekolah  yang mengalami kerusakan berat dan harus direlokasi, pemerintah menggunakan Program Revitalisasi Sekolah.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Timur Saiful Nahar mengatakan masih ada 120 unit pesantren atau dayah rusak akibat banjir. Beberapa bangunan ruang belajar, asrama santri, dapur, hingga kitab-kitab pengajian ikut terendam air dan 70 unit balai pengajian yang terdampak bencana tersebar di berbagai kecamatan ( CNN Indonesia.com, 15-1-2026).

 

Butuh Negara Dengan Kemampuan Maksimal

 

Jelas, saking pentingnya pendidikan, maka upaya penanganan pascabencana tak boleh asal-asalan,  apalagi hanya sekadar formalitas. Anak-anak yang terdampak tak hanya butuh fasilitas fisik, tapi juga revovery mental untuk membangu kepribadian Islam yang kokoh, dan itu ada dalam jaminan negara.

 

Peran lembaga pendidikan dan pesantren menjadi sarana penting untuk menanamkan akidah yang kokoh, menyadarkan peran manusia sebagai Khalifah di muka bumi. Maka, pembangunannya tak bisa ditunda. Sayangnya, yang terjadi selain negara hadir meski lambat, perkara pendanaan juga selalu yang menjadi hambatan, karena terbatas dan menunggu program-program tertentu agar bisa sampai ke masyarakat. Inilah kelemahan APBN sebagai badan keuangan negara dalam Sistem Kapitalisme. Besaran setiap anggaran untuk satu posnya ditentukan oleh undang-undang dan persetujuan anggota parlemen. Belum lagi, sumber pendapatannya sangatlah terbatas, bahkan terkatagori bertentangan dengan hukum syara, yaitu pajak dan utang berbasis riba.

 

Seringkali pula, APBN bonyok karena digunakan untuk proyek yang tak guna bahkan samasekali tak berhubungan dengan kesejahteraan rakyat. Namun ketika sudah mendapat payung hukum sebagai program prioritas nasional maka pengeluarannya tanpa batasan. Contohnya program MBG yang menyunat dana pendidikan.

 

Islam Mewajibkan Negara Hadir

 

Islam mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara.  Dalam Sistem Pendidikan Islam wajib  berbasis akidah Islam dan bertujuan membentuk siswa memiliki kepribadian Islam.

 

Islam mensyariatkan negara mengelola harta kepemilikan umum dan negara untuk disimpan di Baitulmal dan didistribusikan kepada rakyat baik dalam bentuk zatnya maupun dalam bentuk pendanaan berbagai fasilitas publik yang menjadi kebutuhan pokok rakyat. Negara juga wajib mencadangkan dana di pos maslahat umat dalam rangka persiapan mitigasi maupun pasca bencana ada atau tidak ada bencana atau kejadian yang merugikan rakyat.

 

Allah swt. berfirman yang artinya,” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“. (TQS. Al Baqarah: 30).

 

Dari ayat di atas, kaum muslim harus memahami  peran utamanya di dunia, yaitu  menjadi Khalifah di bumi, yang bermakna  mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan dan kebaikan bagi kehidupan manusia, bukan merusaknya.

 

Membangun  kesadaran umat agar terlibat aktif dalam melahirkan generasi khoiru ummah yang siap menegakkan syariat Islam menjadi sesuatu yang penting hari ini. Ini butuh  negara yang tidak  biasa-biasa saja, melainkan yang memiliki visi misi dunia akhirat. Dan itulah Daulah Khilafah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].