Jihad dan Khilafah Solusi Palestina

Oleh: Atik Hermawati
Lensamedianews.com, Opini— Zion*s makin biadab. Kekejaman Isra*l kembali banyak diberitakan. Serangan brutal mereka berlangsung di tengah krisis kelaparan, runtuhnya layanan kesehatan, dan ketiadaan tempat berlindung bagi rakyat Palestina, termasuk anak-anak. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa, 1 Juni 2025, sedikitnya 56.647 warga Palestina meninggal dunia akibat genosida Isra*l di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Ratusan warga sipil Palestina dilaporkan tewas akibat ditembak di sekitar pusat distribusi bantuan di Jalur Gaza (4/7). Belum lagi IDF telah melancarkan serangan udara ke rumah sakit Indonesia. Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang juga berprofesi sebagai dokter, Marwan Al-Sultan, syahid dalam serangan udara tersebut pada Rabu (02/07) beserta istri dan beberapa anaknya. (Bbcnews, 03-07-2025).
Di tengah pembelaan warga dunia untuk pembebasan Palestina, para pemimpin negeri muslim justru seolah diam tanpa aksi nyata. Bahkan mereka masih bergandengan tangan dengan Isra*l dan AS di belakangnya. Bukankah itu adalah pengkhianatan besar terhadap kaum muslim? Lalu bagaimana solusi hakiki untuk pembebasan Palestina?
Genosida dan Diamnya Para Penguasa
Zionis terus menggunakan dalih pembelaan diri sebagai pembenaran untuk menggempur Gaza, padahal tujuan sesungguhnya adalah memusnahkan hingga tak tersisa. Bagi Zionis dan sekutunya, terutama Amerika Serikat, nyawa penduduk Gaza tidak berharga. Serangan brutal menyasar rumah sakit, sekolah, dan pemukiman yang seharusnya aman.
Ironisnya, para pemimpin negeri-negeri muslim justru bersikap acuh, hanya mengecam, bahkan sebagian berani terang-terangan berpihak pada AS dan Zionis. Ketika genosida terjadi di depan mata, mereka memilih bungkam dan berdamai dengan pelaku. Sementara suara perlawanan justru lebih lantang dari para aktivis nonmuslim yang berani membela Palestina secara terbuka.
Posisi PBB begitu lemah di mata Zion*s dan negara adidaya. PBB hanya mampu mengeluarkan kecaman dan seruan gencatan senjata yang diveto oleh AS. Sudah semestinya fakta tersebut disadari umat Islam bahwa menggantungkan nasib Palestina kepada PBB, AS, atau pemimpin negeri-negeri muslim yang pasif adalah sia-sia belaka.
Solusi dua negara yang ditawarkan Barat pun bukanlah jalan damai, melainkan penjajahan yang dilegalkan. Harus dipahami bahwa penderitaan Palestina dari deklarasi Balfour 1917 yang didukung penuh oleh Inggris serta AS, hingga puncaknya lewat Resolusi PBB yang memuluskan kelahiran entitas Zionis di tanah umat Islam. Menerima solusi dua negara sama saja dengan menormalisasi penindasan dan mengkhianati perjuangan umat serta warisan para khalifah yang mempertahankan Palestina sebagai salah satu tanah suci umat muslim.
Kewajiban Jihad dan Khilafah
Penderitaan Palestina tak lain bermula dari ketiadaan Khilafah Islamiyah sebagai junnah. Para penjajah leluasa mencabik setiap jengkal negeri muslim melalui penjajahan fisik, ekonomi, politik, maupun yang lainnya.
Umat muslim terpecah belah dengan sekat imajiner berupa nasionalisme. Sehingga ukhuwah islamiyah perlahan hilang, disibukkan dengan permasalahan masing-masing negara dan tak peduli pada permasalahan umat muslim di negara lainnya. Padahal umat Islam adalah umatan wahidan, yang harus bersatu dalam naungan Islam.
Jika paham akar sejarahnya, pembebasan Palestina yang hakiki hanya dapat terwujud melalui jihad dan tegaknya Khilafah Islamiyah. Palestina adalah tanah milik kaum muslim yang tidak boleh diserahkan pada penjajah. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. dengan perjanjian umariyyah pada tahun 637 M atau 15 H, penduduk Yerusalem secara damai menyerahkan kunci kota kepada umat Islam. Sejak saat itu Palestina menjadi tanah kharajiyah bagi kaum muslim.
Oleh karena itu, umat Islam perlu menyadari pentingnya mewujudkan kembali Khilafah ala minhajin nubuwwah, sebagai bentuk perlawanan strategis mengahadapi genosida saat ini. Tak cukup hanya dengan kecaman, pengiriman bantuan makanan dan obat-obatan, serta kegiatan sosial lainnya. Pengiriman tentara militer untuk berjihad ialah keharusan untuk mengusir penjajah.
Thariqah dakwah Rasulullah saw. adalah teladan menuju kemenangan sejati. Dimulai dari tatsqif yaitu pembinaan intensif individu dengan tsaqafah Islam. Kemudian interaksi dengan umat untuk menumbuhkan opini umum dan kesadaran politik Islam, dan penerimaan kekuasaan secara penuh dari umat sehingga Khilafah bisa tegak. Setiap upaya di luar thariqah tersebut tidak akan melahirkan perubahan mendasar. Hanya dengan berpegang teguh pada metode dakwah Nabi, umat Islam dapat membebaskan Palestina dan mengembalikan kemuliaan serta persatuan umat muslim seluruh dunia. Wallahu a’lam bishshawab. [LM/Ah]
