Ketika Buruh Hanya Jadi Angka Statistik

Oleh : Nettyhera
Lensa Media News – Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional, atau yang lebih dikenal dengan May Day. Namun, di balik seruan solidaritas dan tuntutan keadilan itu, realita tetap saja getir. Tahun 2025 ini, buruh di berbagai penjuru dunia seolah hanya menjadi angka statistik dalam laporan tahunan, bukan manusia dengan kebutuhan dan harapan nyata.
Menurut data International Labour Organization (ILO) tahun 2025, lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia masih menganggur. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin melebar, dengan satu persen populasi terkaya menguasai lebih dari separuh kekayaan global. Buruh, yang menjadi tulang punggung perekonomian, justru terpinggirkan dan dilupakan.
Di Indonesia, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Survei ketenagakerjaan nasional 2025 mencatat bahwa lebih dari 70% perusahaan masih menahan perekrutan tenaga kerja baru. Sebanyak 25% perusahaan bahkan melakukan PHK selama setahun terakhir. Di tengah biaya hidup yang terus melambung, buruh semakin terhimpit. Upah tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara peluang kerja makin sempit.
Ironisnya, tuntutan buruh dari tahun ke tahun tetap sama: cabut Omnibus Law, hapus sistem outsourcing, dan tolak upah murah. Teriakan itu menggema setiap May Day, tetapi tetap saja menjadi gema kosong yang sulit diwujudkan. Seolah-olah buruh hanya dirayakan satu hari, lalu dilupakan 364 hari berikutnya.
Kapitalisme dari Penindasan Buruh
Sumber utama dari ketidakadilan ini adalah sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme, buruh dipandang bukan sebagai manusia, tetapi sekadar faktor produksi, alat untuk mendatangkan keuntungan.
Perusahaan berusaha meminimalkan biaya, termasuk menekan upah dan hak buruh. Negara? Hanya menjadi penengah yang tak benar-benar berpihak. Buruh pun terjebak dalam lingkaran setan, bekerja keras dengan upah kecil, lalu diancam PHK jika menuntut hak.
Di bawah kapitalisme, buruh hanya dilihat sebagai statistik: angka pengangguran, angka produktivitas, angka pertumbuhan ekonomi. Kemanusiaan buruh dilucuti, harga dirinya diinjak-injak.
Islam Solusi Sejati untuk Kesejahteraan Buruh
Islam menawarkan pandangan yang sangat berbeda. Dalam sistem Islam, buruh adalah bagian dari rakyat yang wajib diurus oleh negara. Negara bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan tiap individu, bukan menyerahkannya kepada mekanisme pasar yang kejam.
Negara Islam (Khilafah) memberikan layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis untuk semua rakyat, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, serta mengelola kekayaan alam untuk kepentingan umum, bukan untuk segelintir elit.
Dalam hubungan kerja, Islam mengatur akad yang adil antara buruh dan perusahaan, memastikan hak dan kewajiban kedua belah pihak terpenuhi. Upah ditentukan dengan kesepakatan yang diridhai kedua belah pihak, dengan standar yang ditetapkan oleh para ahli sesuai jenis pekerjaan, manfaat, risiko, dan kebutuhan hidup layak.
Dengan sistem ini, buruh tidak lagi menjadi korban, tetapi menjadi bagian dari rakyat yang dimuliakan.
Saatnya Kita Bergerak
Hari ini, kita tidak boleh lagi hanya memperingati May Day dengan orasi dan poster. Kita harus sadar bahwa perubahan sejati tidak akan lahir dari sistem yang menindas. Perubahan sejati hanya akan datang dari pergantian sistem yang rusak ini.
Sudah saatnya kita memperjuangkan sistem Islam yang adil, yang memuliakan buruh sebagai manusia, bukan sekadar angka. Islam bukan hanya mimpi, ia adalah solusi nyata yang pernah terbukti dalam sejarah.
Mari rapatkan barisan. Mari perjuangkan perubahan. Bukan hanya demi kita, tetapi demi masa depan generasi buruh berikutnya. Karena buruh bukanlah angka. Buruh adalah manusia mulia yang berhak hidup sejahtera.
[LM/nr]
