Kilas Balik Remaja 2022

Oleh : Jessy Tiara Putri
LenSaMediaNews.com – Masa remaja, banyak cerita yang tak bisa terangkai oleh kata untuk mendefinisikannya. Suka dan duka menjadi pengisi sebuah kisah. Namun beberapa tahun belakangan ini, pemuda sedang tidak aman nampaknya. Diintai 24 jam oleh sebuah sistem perusak masa depan yaitu kapitalis liberalisme. Tabiat dari kapitalisme melahirkan hedonisme. Pasalnya, ekonomi saat ini sedang pailit dan sulit. Jiwa-jiwa yang telah teracuni oleh sistem kapitalisme melalui para influencer hedonis akan meronta-ronta untuk pemenuhan hawa nafsunya yang ingin seperti apa yang ditontonnya.
Hal ini menimbulkan banyak pesakitan dalam pemenuhan tersebut. Menghalalkan yang haram seperti mencuri, meriba, pergaulan bebas, bahkan jual diri dan masih banyak lagi. Juga mengharamkan yang halal seperti menutup aurat, menjaga pergaulan, dan syariat Islam, bahkan Islam menjadi asing bagi pemeluknya sendiri. Apakah hal ini normal ?
Remaja cenderung mengejar trend dan sensasi, yang mengakibatkan kehilangan jati diri dan tujuan hidup. Lantas apa kabar remaja 2023?
Dulu para sahabat berlomba-lomba ketika Rasulullah Saw menyerukan untuk menolong agama Allah.
Seperti salah satu kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra pada masa perang khandaq. Kala itu umat Islam ditantang untuk duel dengan Amr bin Abd Wad Al-Amiri, pemimpin kaum musyrik Quraisy yang sangat ditakuti. Nabi bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan memenuhi tantangan ini. Para sahabat terlihat gentar, nyalinya mereka surut. Dalam situasi ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra maju, menyanggupi tantangan duel Amr bin Abd Wad.
Melihat Ali yang masih terlalu muda. Nabi lantas mengulangi tawarannya kepada para sahabat hingga tiga kali, namun hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy tersebut. Amr bin Abd Wad menanggapinya dengan tertawa mengejek. Namun faktanya, nasib mujur tetap ada di tangan Ali.
Usai paha kekar disabet pedang, Amr bin Abd Wad pun tumbang. Kemenangan Ali di depan mata, Amr bin Abd Wad berontak dan masih sempat untuk meludahi wajah sepupu Rasulullah itu.
Menanggapi hinaan itu, Ali kian pasif, menyingkir, dan mengurungkan niat membunuh hingga beberapa saat. “Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu amarahku lenyap lantas membunuhnya semata-mata karena Allah swt.” Jelas Ali menjawab kegelisahan beberapa sahabat atas sikapnya.
Dari kisah di atas, mengajarkan kita untuk memperjuangkan Islam semata-mata karna Allah, bukan karna kebencian dan amarah. Selain itu juga mengajarkan untuk tetap Tawadhu atas Qada-Nya Allah bahkan dalam situasi paling menyakitkan sekalipun.
Sedangkan kita? Lebih bergegas menolong diri sendiri dengan dalih “mental health“. Agaknya mental health sudah kehilangan definisinya. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab bersembunyi di balik “mental health“, dan menjadi racun yang merusak para netizen di Jagat Maya. Pemudi menjadi latah dengan trend, berjiwa kecil, gampang menyerah, dan pemilih. Bagai bumi dengan langit bedanya.
Padahal telah berfirman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. 47:7).
Ketika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Allah tidak butuh kita, tapi kitalah yang membutuhkan Allah. Amanah adalah jalan supaya Allah menolong kehidupan kita. Lantas mengapa kita berpaling?
Merendahkan diri serendah-rendahnya, sebuah penghambaan adalah jalan satu-satunya untuk diberi taufik oleh Allah, agar hati bisa menerima bahwasanya dunia ini milik Allah. Maka sangatlah wajib mengembalikan kekuasaan kepada-Nya, dengan menerapkan syariat Allah.
Wallahua’lam bishawab.
