Krisis Kesejahteraan, Islam Tawarkan Solusi

20250217_082525

Oleh : Nurjannah Sitanggang

 

LenSa MediaNews.Com, Opini– Belakangan ini, tagar #KaburAjaDulu menjadi sorotan di media sosial, menggambarkan rasa kecewa generasi muda Indonesia terhadap situasi sosial dan politik di negari ini.

 

Lewat #KaburAjaDulu, warganet berbagi informasi seputar lowongan kerja, beasiswa, les bahasa, serta pengalaman berkarier dan kisah hidup di luar negeri. Warganet meramaikan tagar #KaburAjaDulu karena ingin kabur dari tekanan pekerjaan, pendidikan, maupun masalah sehari-hari di Indonesia (Kompas.com,5-2-2025).

 

Fenomena ini berkaitan erat dengan brain drain, di mana individu-individu berbakat, seperti dokter dan ilmuwan, memilih untuk berkarir di luar negeri demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sejak tahun 1960-an, Indonesia telah mengalami fenomena ini, dengan banyak mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri memilih untuk tidak kembali, terutama setelah mendapatkan gelar di negara-negara maju.

 

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia merasa terpaksa meninggalkan tanah air mereka untuk mencari peluang yang lebih baik. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh ketidakstabilan politik, tetapi juga oleh kondisi ekonomi yang dianggap tidak menjanjikan. Banyak individu merasa bahwa mereka tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya atas keterampilan dan pendidikan yang telah mereka peroleh.

 

Kondisi ekonomi Indonesia yang masih tergolong berkembang menjadi salah satu faktor utama yang mendorong fenomena brain drain. Meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar, banyak orang merasa bahwa kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan imbalan yang layak di dalam negeri sangat terbatas.

 

Banyak profesional merasa bahwa gaji dan fasilitas yang ditawarkan di dalam negeri tidak sebanding dengan kompetensi dan pendidikan yang mereka miliki. Hal ini menciptakan rasa frustrasi yang mendalam, sehingga mereka memilih untuk mencari pekerjaan di negara lain yang lebih menghargai keterampilan mereka.

 

Selain faktor ekonomi, banyak individu juga mencari kualitas hidup yang lebih baik, termasuk dalam hal pendidikan, kesehatan, dan stabilitas politik. Ketidakpastian yang ada di Indonesia sering kali membuat mereka merasa bahwa masa depan mereka lebih cerah di luar negeri.

 

Fenomena ini tidak hanya merugikan individu yang pergi, tetapi juga negara. Hilangnya tenaga kerja terampil dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan inovasi di dalam negeri, serta mengurangi kualitas layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.

 

Sistem Kapitalisme yang dijadikan sebagai asas pengaturan urusan rakyat negeri ini menjadi akar masalah dari kondisi ini. Kesenjangan ekonomi tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di tingkat global, antara negara berkembang dan negara maju. Sebab fenomena kemiskinan itu merata di berbagai penjuru dunia. Problem utamanya adalah distribusi kekayaan yang menumpuk di tangan sebagian orang. Ini adalah konsekuensi logis penerapan Sistem Kapitalisme.

 

Sebab hakikatnya para pemilik modallah yang menguasai kekayaan negara secara mayoritas di mana pun berada. Bahkan organisasi nirlaba yang fokus mengatasi ketimpangan ekonomi, Oxfam, melaporkan 1 persen populasi teratas di dunia menguasai dua pertiga dari nilai kekayaan yang tercipta selama periode 2020-2022, yakni sebesar US$42 triliun (CNNindonesia.com,16-1-2023).

 

Ini menunjukkan pentingnya pemerataan ekonomi yang dilakukan negara. Islam telah menetapkan pembagian kepemilikan seharusnya  dikembalikan kepada rakyat dan tidak boleh diserahkan pada swasta. Islam juga telah menetapkan kebutuhan kolektif yang harus diberikan secara gratis oleh negara yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Ini menunjukkan Islam sudah meletakkan pondasi kesejahteraan.

 

Islam mewajibkan negara untuk membangun kesejahteraan rakyat dan membantu setiap warga negara memenuhi kebutuhannya. Ada banyak mekanisme yang harus dilakukan oleh negara, termasuk kewajiban untuk menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh, baik di sektor pertanian, perdagangan, industri, maupun jasa.

 

Selain itu, strategi pendidikan dalam Sistem Khilafah mampu menyiapkan sumber daya manusia yang beriman dan siap membangun negara, serta memastikan bahwa negara peduli dan menjamin kehidupan warganya. Tegaknya khilafah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam dan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera. Ini sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, “Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur`ān) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah). Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (TQS Al-Anbiya : 106-107). Wallahualam bissawab. [LM/ry].