Krisis Mental Remaja: Saatnya Kembali ke Tujuan Hidup

Krisis Mental Remaja, LenSa Media News, Lentera Aksara_20260426_200224_0000

Krisis Mental Remaja: Saatnya Kembali ke Tujuan Hidup

Oleh : Dwi Novi

 

LenSaMediaNews – Opini – Media sosial tidak pernah sepi. Setiap detik, jutaan konten baru bermunculan, menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Masalahnya, yang terlihat itu bukan realitas_melainkan potongan terbaik dari realitas. Di sinilah krisis itu bermula.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kesehatan mental pada remaja menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, bahkan diperkirakan naik sekitar 20–30% dari tahun ke tahun. Kecemasan, stres, hingga depresi bukan lagi kasus langka, melainkan fenomena yang semakin umum. (Suara Kalbar, 17 September 2025)

 

Media sosial memainkan peran besar dalam hal ini. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang perbandingan sosial tanpa batas. Remaja tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital yang penuh standar semu. Ketika setiap hari disuguhi pencapaian orang lain, perlahan muncul perasaan tertinggal_yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

 

Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara manusia memosisikan diri di dalamnya. Tanpa arah hidup yang jelas, seseorang akan mudah menjadikan tren sebagai standar, dan validasi sosial sebagai tujuan. Padahal, tidak semua yang ramai perlu diikuti. Tidak semua yang viral layak dijadikan ukuran hidup. Mengikuti tren bukan tanda kemajuan, melainkan bisa menjadi tanda kehilangan arah.

 

Dalam konteks ini, penting untuk kembali pada prinsip dasar: membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak. Banyak orang kelelahan bukan karena beban hidup yang berat, tetapi karena sibuk memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali-seperti kehidupan orang lain.

 

Islam sebenarnya telah lama memberikan kerangka yang jelas, dalam menghadapi hal ini. Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, ditegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak bergantung pada kondisi luar, melainkan pada kondisi dalam.

 

Lebih jauh, dalam Surah Al-Isra ayat 82, Al-Qur’an disebut sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ini menegaskan bahwa krisis mental bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga spiritual.

 

Rasulullah ﷺ juga memberikan pedoman yang relevan. Dalam hadits riwayat Nabi Muhammad, beliau bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat yang di atasmu.” Prinsip ini menjadi penawar bagi budaya perbandingan yang semakin masif di media sosial.

 

Lebih dari itu, Rasulullah juga mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah. Perspektif ini penting untuk mengembalikan proporsi: bahwa tidak semua hal di dunia layak dikejar secara berlebihan.

Namun, perlu disadari bahwa solusi tidak cukup hanya dengan menyalahkan media sosial atau menghindarinya sepenuhnya. Hal yang dibutuhkan adalah kesadaran dan penguatan nilai. Tanpa itu, seseorang akan tetap mencari validasi, meskipun tanpa media sosial sekalipun.

 

Oleh karena itu, langkah yang lebih realistis adalah membangun “filter internal”: kemampuan untuk memilih, menyaring, dan menilai apa yang layak diikuti. Ini bisa dimulai dari hal sederhana_membatasi konsumsi konten, meningkatkan kesadaran diri, serta memperkuat nilai hidup dan spiritualitas.

 

Krisis kesehatan mental di era digital bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi persoalan arah hidup. Selama manusia masih menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka perbandingan tidak akan pernah berhenti, dan rasa tidak cukup akan selalu ada. Mungkin yang perlu diperbaiki bukan dunia di layar, tetapi cara kita memandangnya.

Wallahua’lam bishowwab.