MBG Mode Liburan, Kemanakah Disalurkan?

Oleh : Asri Wahyuni, S.Pd
Guru dan aktivis dakwah ideologis
LenSaMediaNews.Com–Libur adalah kata yang paling menggembirakan terdengar oleh setiap orang. Termasuk anak-anak sekolah ketika sampai pada detik-detik pembagian raport di setiap penghujung semester. Akan tetapi, ada setitik pertanyaan yang terbersit dibenak para murid dan orang tua yang telah merasakan manfaat dari salah satu program pemerintah terkait pembagian makanan kepada siswa secara gratis atau yang kini kita kenal dengan istilah MBG.
Menurut berita yang beredar, MBG akan tetap disalurkan walaupun sekolah sedang dalam mode liburan. Namun, sebagian masyarakat menyimpan tanya. Bagaimanakah teknis penyaluran MBG dan apa alasan pemerintah untuk tetap menyalurkan MBG kepada sekolah dimasa liburan ini?.
Makan Bergizi Gratis adalah salah satu program pemerintah yang muncul sebagai sarana untuk memenuhi gizi anak Indonesia yang disalurkan melalui sekolah yang terdaftar sebagai penerima MBG. Bagi orangtua yang membutuhkan, program ini sangat membantu mereka memenuhi gizi anak-anak nya.
Maka, libur sekolah memantik sedikit rasa khawatir terhadap penyaluran MBG selanjutnya. Maka dari itu, pernyataan pemerintah yang menyatakan bahwa MBG akan tetap berjalan meski sekolah tidak beroperasi menjadi kabar melegakan bagi orangtua dan siswa yang merasa diuntungkan.
Pemerintah beralasan MBG tetap berjalan saat sekolah libur sebab menyadari bahwa pemenuhan gizi tidak mengenal kata libur, karena manusia membutuhkan asupan gizi setiap hari bukan disaat bersekolah saja (rambay.id, 22-12-2025).
Namun faktanya, masih saja terdapat berbagai kekecewaan yang terjadi di lapangan. Mulai dari kasus tidak meratanya penyaluran MBG ke sekolah yang benar-benar membutuhkan, keracunan makanan, bahkan petaka disebabkan mobil pembawa MBG yang menabrak guru dan siswa di SDN 01 Kalibaru, Jakarta Utara pada Kamis (11/12/2025) (Kompas.id, 11-12-2025).
Ketidak telitian pemerintah bukanlah tanpa sebab. Lemahnya pengontrolan menyebabkan MBG menyebar tidak tepat sasaran, akibatnya penyelesaian masalah stunting yang menjadi perhatian pemerintah, tidak kunjung tuntas. Contohnya di beberapa provinsi seperti Papua, NTT, Sulbar dan Jabar masih tercatat sebagai predikat tertinggi dalam kasus stunting disebabkan oleh kurangnya akses terhadap gizi, sanitasi serta layanan kesehatan yang tidak terpenuhi dengan baik.
Lingkungan tempat tinggal yang tidak higienis serta minimnya ketersediaan air bersih, minimnya edukasi pemerintah terkait bagaimana memberikan makanan yang tepat kepada bayi dan anak-anak juga berpengaruh besar terhadap status gizi anak.
Semua ini disebabkan oleh sistem yang berlandaskan dari buah pikir manusia yang lemah yakni Sistem Kapitalisme, yang menjadikan keuntungan materi sebagai standar membuat hukum dan Undang-Undang. Hingga akhirnya menjadikan program yang dijalankan hanya sekedar formalitas dan mengejar viral belaka agar masyarakat melihat bahwa pemerintah sudah bekerja.
Solusi Islam
MBG bukanlah solusi dalam menyejahterakan masyarakat jika masalah kehidupan lainnya juga tak menjadi perhatian. Harga bahan pokok yang terus melonjak tajam, biaya pendidikan yang makin mencekik dan sanksi hukum yang tumpul keatas dan tajam kebawah menyebabkan kepusingan masyarakat tak mendapatkan jalan keluar.
Kebebasan hak milik atas harta milik umum menjadikan para penguasa hari ini tidak memiliki batasan untuk meraih keuntungan, bahkan tanpa standar halal haram. Alhasil, lahirlah pemimpin yang tidak ahli dalam meriayah umat dengan cara yang benar, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan, sedang pendusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati, sedang orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para al-ruwaibidhah angkat bicara,” ada yang bertanya, apa itu ruwaibidhah? Rasulullah saw bersabda, “Orang fasik yang berbicara tentang persoalan publik” (HR Ahmad).
Inilah akibatnya jika Sistem Kapitalisme dilegalkan untuk dijadikan sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) yang mengatur urusan seluruh manusia. Padahal, manusia tidak bisa hidup tanpa aturan yang berasal dari Rabbnya. Sebab, manusia adalah makhluk yang lemah, serba kurang dan terbatas. Ia tidak punya keahlian untuk melihat baik buruk tanpa panduan dari Al-Quran dan Hadis.
Maka, sudah sepatutnya kita menyerahkan urusan kita hanya kepada pemimpin yang amanah, dan mampu mengemban tugasnya sesuai dengan aturan Islam. Hanya Islam, dalam Daulah Khilafah Islamiyah, yang terbukti mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dan tercatat hingga 13 abad lamanya hanya ditemukan 200 kasus kriminal. Wallahu a’lam bishowab. [LM/ry].
