Menatap Masa Depan: Solusi Pengangguran di Kalangan Generasi Z

20250522_034840

Oleh Nur

(Pengajar dan Pemerhati Generasi)

 

 

Lensamedianews.com_ Gelar sarjana masa dulu sangat dipuja dan dibanggakan baik oleh diri sendiri, orang tua, keluarga bahkan masyarakat. Karena dianggap sebagai pintu menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan.

 

Namun pada masa sekarang berkata lain, karena banyak lulusan universitas di Indonesia yang menunggu tanpa kepastian di tengah pasar kerja yang kian selektif dan jenuh. Tingginya pendidikan ternyata tidak menjamin mudahnya bagi para sarjana untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Hasilnya pengangguran kita kian hari semakin bertambah.

 

Pengangguran di negeri ini bukan merupakan masalah yang baru, tetapi masalah yang sudah lama. Namun hingga kini belum bisa terselesaikan secara tuntas. Seperti benang kusut yang tidak kunjung menemukan titik terang penyelesaiannya.
Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran ini, seperti membuat kebijakan tentang ketenagakerjaan, adanya program pelatihan keterampilan, pengembangan sektor industri, serta peningkatan kualitas Pendidikan. Tapi faktanya sampai saat ini pengangguran semakin hari semakin meningkat, seperti data dari IMF, Indonesia memiliki persentase tingkat pengangguran tertinggi per April 2024 dibandingkan enam negara yang tergabung dalam ASEAN. (CNBC Indonesia, 01/05/2025). Dari fakta di atas, patut bagi kita untuk menelaah kenapa masalah pengangguran ini masih belum terselesaikan.

 

Berbicara terkait kebijakan ketenagakerjaan yang dijalankan di Indonesia salah satunya dengan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan lebih berkualitas terjadi hampir di seluruh sektor ekonomi. Namun, besarnya lapangan kerja yang diciptakan masih belum sebanding dengan jumlah calon pekerja. Terlebih setelah PHK massal baru-baru tadi yaitu 10.000 karyawan Panasonic Holdings di tingkat global, belum lagi dari perusahaan dan instansi lainnya.

 

Terkait dengan program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang merupakan salah satu contoh upaya untuk meningkatkan kemampuan/skill para pekerja. Program pelatihan dan pengembangan SDM sudah diatur oleh hukum di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, diantaranya pelatihan kerja akan dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, serta dilakukan secara berjenjang. Dari sini terlihat, bahwa pelatihan kebanyakan diperuntukan bagi para karyawan saja. Sedang yang terbuka untuk umum bisa dikatakan sangat kecil.

 

Inilah gambaran dari penerapan sistem kapitalisme yang mana aturannya berdasar pada hasil kesepakatan dalam hal ini para kapital (pemilik modal) lah yang akan menang suaranya. Dalam penerapannya, aturan inilah yang menjadikan masalah pengangguran bukannya terselesaikan, malah kian bertambah. Dimana negara kapitalistik hanya bertindak sebagai regulator yang mementingkan korporat, tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya, serta tidak menjamin terbukanya lapangan pekerjaan. Alhasil menyebabkan terjadinya kesenjangan antara lapangan pekerjaan dan pencari kerja. Negara malah menyerahkan tanggung jawab membuka lapangan kerja kepada pihak swasta/korporasi dengan membuka investasi sebesar-besarnya dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) pada swasta.

 

Berbeda jauh dengan Islam, negara adalah raa’in (pengurus rakyat). Sehingga, dalam penerapan sistem Islam, negara tidak akan berlepas tangan terhadap permasalahan rakyatnya termasuk masalah pengangguran ini.
Negara akan menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan membuka lapangan kerja. Yang seluas-luasnya, mewajibkan seorang laki-laki untuk bekerja, menyediakan Pendidikan yang memadai untuk skill yang diperlukan di dunia kerja, bahkan selain itu negara juga dimungkinkan akan memberi bantuan modal kepada rakyat yang membutuhkan.

 

Untuk mendukung langkah pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran ini, tentu diperlukan dana yang tidak sedikit, dan semua dana ini akan diambil dari Baitul mall. Selain itu kerjasama semua pihak tentu sangat berperan aktif, baik dalam tataran individu, masyarakat, terlebih negara sebagai penanggungjawab utama.

 

Inilah gambaran kepemimpinan dalam Islam yang berperan sebagai pengurus dan penjaga. Sehingga dengan diterapkannya aturan sang pencipta di dalam kehidupan, maka permasalahan manusia termasuk masalah pengangguran ini akan terselesaikan secara tuntas. Dengan demikian maka masa depan generasi Z akan terjamin di dalam sistem Islam.
Wallahu’alam bish shawab.