Meraih Pertolongan Allah di Era Digital

Meraih Pertolongan Allah di Era Digital
Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Di Era Digital ini, ibu-ibu sering disibukkan oleh gadget. Mereka larut dalam pergaulan sosialita dengan segala aktivitas dan gaya hedon, juga trend wanita karir adalah wanita hebat. Acapkali, semua itu hanya demi mendulang setumpuk cuan untuk membantu memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga.
Fenomena berbeda, ketika ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Tafsir Ar Rohman di Kota Jember, meluangkan waktunya di pagi hari pada Jumat, tanggal, 19 Desember 2025, untuk duduk taklim dalam rangka tholabul ilmi Kajian Tafsir. Kajian Tafsir ini diasuh oleh Ustaz Syaifullah. Pembahasannya, berkaitan dengan Q.S. Ali Imron ayat 150:
“Tetapi Allah-lah pelindungmu, dan Dia sebaik-baik penolong.”
Ayat ini diturunkan ketika adanya Perang Uhud. Di mana kaum Muslimin mendapatkan ujian berat, yaitu orang-orang musyrik dan munafik menakut-nakuti kaum beriman. Yakni, seolah -olah mereka akan kalah jika tidak mengikuti atau tunduk pada musuh.
Kemudian, Allah menegaskan bahwa Dia sebagai pelindung dalam kehidupan. Serta Allah adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Benar, perlindungan dan pertolongan datangnya bukan dari manusia atau kekuatan lainnya, semata hanya dari Allah. Sebagai orang yang beriman, haruslah tawakal dan tidak bergantung pada selain Allah.
Cara Mendapatkan Pertolongan Allah Adalah:
- Menolong Agama Allah; Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan (Q.S. Muhammad: 7). Menolong agama Allah, bisa dengan cara duduk taklim dalam rangka tholabul ilmi Islam atau mengkaji Islam, menghapal Al Qur’an, mengajarkan Al Qur’an, dan berdakwah Islam di jalan Allah.
- Melaksanakan Segala Perintah Allah.
- Menjauhi Segala Larangan Allah; Orang-orang yang mendapatkan pertolongan Allah, adalah orang-orang yang berbahagia dunia dan akhirat.
Adapun Ciri-ciri Orang yang Berbahagia Dunia dan Akhirat Adalah:
- Selalu mengingat dosa yang lalu sambil ber-istigfar. Suka menutupi aib orang lain.
- Suka melupakan kebaikan yang pernah dilakukan. Cukuplah hanya Allah yang Maha Mengetahui, tidak perlu mengharapkan pengakuan dari manusia. Sebab berharap pada manusia, hanya akan mendatangkan kecewa.
- Untuk urusan akhirat, bersikap tawadhu‘ dan selalu istikamah di jalan Allah. Mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
- Untuk urusan Dunia, selalu melihat orang-orang yang berada di bawahnya. Sehingga timbul rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki.
Apapun keadaannya, haruslah tetap bersyukur. Allah Maha Mengetahui atas semua makhluk-Nya. Bagi orang-orang yang tidak pandai bersyukur, maka segala sesuatunya akan terasa kurang. Sekalipun kaya raya, tetapi tidak pandai bersyukur, maka akan bermental pengemis, selalu merasa kekurangan.
Sesungguhnya kekayaan sejati adalah kekayaan hati. Hati yang lapang ketika berada dalam kesempitan. Hati yang sabar dan Ikhlas ketika mendapatkan ujian. Hati yang bersih, tidak ada dendam dan hasad.
Wallahu’alam bishshowab.
