Muhasabah Bencana Alam 2025, Saatnya Misi Perubahan

Muhasabah-LenSaMediaNews

Oleh : Cokorda Dewi

 

LenSaMediaNews.Com–Sepanjang Tahun 2025 begitu banyak terjadi bencana alam di berbagai daerah di wilayah Indonesia. Bencana alam yang terjadi tidak hanya mengakibatkan kerugian materi saja, atau menelan korban jiwa, tetapi juga membuka mata kita tentang dahsyatnya kerusakan nurani para penguasa.

 

Bencana banjir terjadi di berbagai wilayah Propinsi Bali, selain karena curah hujan ekstrim, juga diperparah oleh lemahnya tata kelola lingkungan, dan berkurangnya lahan resapan air akibat dari pembangunan yang tidak terkendali. (theindonesianinstitute.com, 22-12-2025).

 

Kemudian bencana banjir di Sumatera, menurut pakar UGM disebabkan oleh kerusakan ekosistem hutan di Hulu DAS. Disambung bencana banjir di Cirebon, yang terjadi selain karena curah hujan tinggi, berakibat luapan air sungai dan saluran drainase merendam 24 desa, juga karena adanya pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sistem drainase yang tidak optimal (cnnindonesia, 24-12-2025).

 

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa Indonesia berada di wilayah rawan bencana, baik itu gempa bumi, gunung meletus, tsunami, ditambah lagi parahnya kerusakan alam yang terjadi secara masif dan terus-menerus, seperti pembabatan hutan hujan, alih fungsi lahan hijau menjadi pemukiman, industri, termasuk juga persoalan pengelolaan sampah yang terabaikan, kebijakan penguasa yang mengedepankan profit daripada dampak lingkungan, dan lain sebagainya.

 

Seharusnya negara sudah menyiapkan sistem mitigasi bencana sejak dini, mengedukasi rakyat dalam hal pengenalan dan pemahaman tentang bencana alam termasuk tanda-tanda kedatangannya, cara menghadapinya agar tidak panik,menentukan titik evakuasi, bagaimana cara menyelamatkan diri, juga menyiapkan sistem evakuasi korban atau penyelamatan.

 

Negara juga seharusnya lebih selektif untuk menentukan kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan rakyat dan lingkungannya. Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) benar-benar dibuat secara terperinci dan akurat, tidak sekedar oke sajalah yang penting profit, sehingga abai akan dampak nyata yang membahayakan bisa terjadi kapan saja. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir korban jiwa dan materi ketika bencana terjadi.

 

Berada di dalam kungkungan sistem sekuler kapitalis, tentu saja kebijakannya lebih berdasar pada paradigma profitable, pragmatis, tanpa memikirkan bahaya kedepannya, cara pencegahan bahaya yang mungkin datang, dan juga bagaimana penanganannya ketika bencana benar-benar terjadi. Bahkan sistem mitigasi bencana pun tak terpikirkan.

 

Bagaimana Sistem Islam menyikapi bencana alam?

Dalam paradigma Islam,  tidak akan dibiarkan terjadi perusakan lingkungan, sehingga bencana alam bisa dicegah. Kalaupun terjadi bencana, negara yang berperan sebagai raa’in dan junnah, tentunya telah siap untuk menanganinya dengan sistem mitigasi bencana yang tepat, dan komprehensif.

 

Demikian pula dengan rakyatnya, melalui pemahaman mengapa bencana terjadi, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana harus bertindak atau bersikap ketika bencana datang toba-tiba. Sehingga bisa meminimalisir adanya korban jiwa.

 

Islam memuliakan manusia, menjaga lingkungan aman dan nyaman, menempatkan seorang pemimpin yang hanya takut kepada Allah, berani memberikan sanksi dan efek jera bagi para perusak lingkungan, serta membuat kebijakan yang berdasar pada hukum-hukum Allah.

 

Umat muslim seharusnya bersatu padu dalam wadah keimanan yang kokoh, untuk memperjuangkan penerapan hukum-hukum Allah dalam segala aspek kehidupan, sehingga bencana dapat dihindari, sebab janji Allah akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi jika syari’at Allah ditegakkan.Wallahu’alam bishawab. [LM/ry].