Mewujudkan Generasi Pelopor Peradaban Amanah dan Bertakwa

Epstein_20260422_155006_0000

 Oleh: Cokorda Dewi 

 

Parenting – Pada saat ini, umat muslim berada dalam lingkup sistem sekuler kapitalis. Sistem sekuler kapitalis adalah sistem yang rusak, terbukti mampu mengikis keimanan. Membuat banyak orang memilih agnostik bahkan atheis, bergaya hidup bebas, dan tidak mau terikat. Lebih bertumpu pada nilai materi dan asas manfaat. Mengagungkan materi dan fisik semata. Beranggapan bahwa agama adalah candu. Hingga menjadikan orang tidak takut berdosa, bebas dari nilai-nilai agama. Contoh : membully, membunuh, menyiksa tanpa merasa dosa, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.

Mereka kebanyakan lebih takut pada kehidupan dunia (wahn), daripada kehidupan akhirat.

Pandangan hidupnya saat ini, memunculkan dua gaya hidup anak-anak, yaitu gaya hidup Islam dan gaya hidup sekuler.

Butuh kerja keras, kesabaran, dan perjuangan orang tua, untuk membentuk generasi terbaik seperti para sahabat Rosulullãh Saw.

Saat ini, tidak sedikit orang tua yang abai dalam pemenuhan gharizah tadayyun (naluri beragama) anak.

Orang tua berperan penting dan mempunyai tanggung jawab besar, dalam membentuk generasi yang kuat imannya, fisiknya, ilmunya, dan mentalnya. Sehingga anak mampu mengelola naluri (gharizah) secara fitrah, menjadikannya anak yang sholih-sholiha.

Sebagaimana Firman Allah dalam QS. An Nisa : 65, “hendaklah orang-orang takut meninggalkan generasi yang lemah, yaitu lemah fisik, lemah ilmu, lemah mental, lemah imannya.”

Dalam Islam, memang tidak ada pengekangan untuk pemenuhan gharizah. Karena potensi yang diperoleh berasal dari Allah. Akan tetapi penyalurannya tidak dibiarkan mengembara kemana-mana. Dalam pemenuhannya, manusia hanya bisa mengarahkan, agar bisa berkembang sesuai fitrahnya.

Setiap manusia yang dilahirkan diminta bersaksi atas keberadaan Allah sebagai Rabb-nya (QS. Al A’raf: 172), baik itu terlahir sebagai kafir ataupun muslim.

Manifestasi gharizah tadayyun adalah beribadah kepada Allah. Dalam QS. Ar Rum : 30, bahwa sesuai fitrah manusia, Islam adalah agama yang benar. Secara fitrah, semua anak yang terlahir adalah muslim. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan anaknya, sebagai yahudi, nasrani atau majusi (HR. Bukhari dan Muslim).

Umat Islam adalah umat terbaik (QS. Ali Imron: 110). Generasi terbaik tidak tumbuh dengan alami, apalagi ditengah gempuran sistem sekuler kapitalis. Maka sejak dini harus membangun dan menanamkan akidah Islam dalam diri anak, sesuai dengan tahapan usia anak.

Hidup ini hanya sementara, maka haruslah juga memikirkan kehidupan akhirat.

Peran ayah sebagai kowam dan ibu sebagai madrasah ula bagi anak-anaknya, maka wajib memiliki ilmu agama, dan tahu perkembangan zaman. Mendidik anak memang disesuaikan dengan zamannya, akan tetapi harus sesuai dengan fitrah penciptaan. Mampu mengarahkan seluruh potensi anak, dalam mengelola gharizah-nya dengan benar. Potensi ini dibangun dengan akidah yang kokoh, melalui proses berpikir mandiri dan tidak taklid buta (sekedar ikut-ikutan).

Orang tua harus mampu memberikan maklumat sabiqah yang baik dan benar tentang akidah Islam. Melalui bahasa yang Ihsan, benar berdasarkan dalil akhli (fakta yang terindera), dan nakhli (fakta yang tidak dapat diindera), sesuai dengan fitrah manusia, serta dapat memuaskan akal. Akal harus dibimbing oleh Wahyu Allah. Jangan sampai pentakdisan bergeser kepada tekhnologi, pengkultusan pada tekhnologi. Pentakdisan seorang muslim adalah ibadah kepada Allah, berpegang teguh pada syari’at Allah. Dengan mengenalkan dan memahamkan tujuan hidup yang benar. Mengaitkan proses berpikir dengan tiga fase proses kehidupan, yaitu proses penciptaan, kehidupan dunia (adanya perintah dan larangan), dan akhirat (ada hari akhir, pertanggungjawaban amal perbuatan, serta perhitungan amal ibadah atau hizab).

Menjadi uswatun hasanah (teladan yang nyata dan baik), nasehat yang baik (mauiddzah hasanah), latihan dan pembiasaan sejak dini dalam mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang kepada anak, untuk menanamkan keta’atan dan menguatkan keimanan anak. Sehingga dapat memunculkan gharizah tadayyun, dan membangun akidah yang kokoh. Juga dengan memupuk jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, tanggungjawab, serta rasa perduli dan kasih sayang sejak dini. Untuk membentuk generasi pelopor peradaban gemilang amanah dan bertakwa, sebagai khalifah bagi orang-orang yang bertakwa.

Wallahu’alam bishshowab.