Nasionalisme dan Negara Bangsa: Sekat yang Menghalangi Pembebasan Palestina

Oleh: Atik Hermawati
(Aktivis Muslimah)
Lensamedianews.com, Opini —Akhir-akhir ini, dunia kembali menyaksikan gelombang solidaritas besar-besaran untuk Palestina. Aksi “Global March to Gaza” (GMTG) menggema di berbagai belahan dunia, termasuk di Jakarta. Di Bundaran HI, ribuan warga turun ke jalan untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap genosida yang terus berlangsung di Gaza oleh zionis Israel. (Liputan6, 15-06-2025).
Namun, fakta di lapangan kembali mengiris hati. Puluhan aktivis yang hendak bergabung dalam GMTG justru diusir oleh otoritas Mesir. Mereka dilarang menembus perbatasan Rafah, dimana itu adalah gerbang penghubung antara Gaza dan dunia luar. (Kompas.tv, 12-06-2025).
Tindakan penghalangan ini telah mempertegas bahwa bahkan gerakan kemanusiaan global pun tidak akan pernah bisa benar-benar menyelesaikan problem Palestina. Mengapa? Karena ada sekat imajiner yang menjelma menjadi tembok tinggi yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa.
Fenomena ini seharusnya menyadarkan kita, untuk tidak lagi berharap pada lembaga-lembaga internasional ataupun para penguasa negeri-negeri muslim saat ini. Ketika nurani dunia digerakkan untuk membantu Palestina, justru gerbang ditutup rapat. Gerakan kemanusiaan diblokade oleh kepentingan politik negara. Inilah wajah asli dari sekularisme, kepentingan politik lebih diutamakan daripada ikatan akidah muslim dan kemanusiaan.
Konsep negara bangsa (nation-state) atas dasar nasionalisme sejatinya bukan warisan ajaran Islam. Justru itu adalah proyek imperialisme Barat yang dibawa masuk ke dunia Islam untuk meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Nasionalisme telah memecah belah umat Islam menjadi lebih dari 50 negara dengan kepentingan sempit masing-masing. Akibatnya, ketika sebagian dari tubuh umat ini disiksa dan dibantai, sebagian lain terutama pemimpinnya justru bersikap pasif, bahkan menjaga kepentingan penjajah.
Mentalitas “negara saya dulu”, “kedaulatan saya”, dan “keamanan perbatasan saya”, telah mengekang para penguasa negeri muslim. Seharusnya mereka memikirkan “saudara saya”. Tak heran bila Gaza terus dibombardir, namun tak satu pun bala tentara muslim yang diturunkan untuk membela mereka, meski kekuatan militer negeri muslim sangat cukup untuk menghentikan agresi Israel seketika. Nasionalisme telah mengaburkan ikatan akidah yang seharusnya menyatukan kaum muslimin.
Bahayanya nasionalisme harus disadari oleh kaum muslimin. Dari sisi sejarah, nasionalisme digunakan oleh penjajah untuk membangkitkan fanatisme lokal dan melemahkan identitas umat, serta meruntuhkan Khilafah. Dari sisi pemikiran, tentunya bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan kesatuan umat dalam satu akidah dan kepemimpinan.
Dengan demikian, arah perjuangan umat untuk membebaskan Palestina harus menjadi gerakan politik yang berlandaskan Islam untuk meruntuhkan sistem sekularisme yang ada saat ini. Palestina tidak bisa dibebaskan dengan mengandalkan diplomasi, donasi, atau simpati semata.Palestina hanya bisa dibebaskan dengan menyatukan kekuatan politik umat dalam sebuah kepemimpinan Islam global yakni Khilafah yang akan menyatukan umat dan mengobarkan jihad. Umat harus mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya kepemimpinan Islam dan membongkar imperialisme Barat. Wallahu a’lam. [LM/Ah]
