One Piece, Kemerdekaan hanya Milik Elite

Oleh Novita L, S.Pd.
LensaMediaNews.com, Opini_ Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, seruan untuk mengibarkan bendera bajak laut One Piece menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Bagi sebagian pihak, aksi ini tampak nyeleneh, bahkan dianggap tidak nasionalis. Namun jika ditelaah lebih dalam, seruan ini merupakan ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan yang terus berlangsung di negeri ini.
Gerakan ini bukanlah bentuk makar, melainkan simbol bahwa rakyat mencintai negeri ini, namun kecewa melihat kenyataan bahwa meski telah merdeka selama 80 tahun, penderitaan rakyat seolah tak pernah usai. Di saat segelintir pejabat menikmati kekuasaan dan kekayaan, mayoritas rakyat masih bergelut dengan kemiskinan, pengangguran, dan pelayanan publik yang buruk. Kondisi ini mirip dengan kisah dalam anime One Piece, di mana sistem dunia dikuasai oleh para Tenryuubito (bangsawan dunia) yang hidup mewah di atas penderitaan rakyat, dijaga oleh kekuatan militer dan hukum yang hanya berpihak pada elite.
Akar dari semua ketimpangan ini adalah penerapan sistem Kapitalisme sekuler. Kapitalisme menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mempertahankan dominasi elite, bukan sebagai sarana melayani rakyat. Kebijakan dibuat demi kepentingan korporasi besar, oligarki politik, dan pemilik modal, bukan demi kesejahteraan rakyat. Ini menimbulkan kesenjangan sosial yang semakin melebar dan membuat rakyat hidup dalam kesulitan struktural yang terus-menerus.
Dalam Islam, sistem seperti ini adalah bentuk kezaliman yang nyata. Islam diturunkan bukan hanya sebagai ajaran spiritual, melainkan sebagai sistem hidup yang sempurna. Syariat Islam hadir untuk menata seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, dan pemerintahan, dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan.
Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)
Islam hadir sebagai rahmat, bukan untuk menindas atau menguntungkan segelintir pihak. Dalam sistem Islam, pemimpin adalah pelayan umat, bukan penguasa yang rakus. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pemimpin dalam Islam wajib memastikan kesejahteraan rakyat dan mencegah segala bentuk penindasan. Negara Islam (Khilafah) bukan hanya menegakkan hukum Allah secara kaffah, tetapi juga mengelola kekayaan alam untuk kepentingan umum, bukan dijadikan bancakan oleh elite.
Kesadaran rakyat yang mulai tumbuh hari ini harus diarahkan pada perjuangan hakiki: mengubah sistem yang rusak, bukan sekadar melawan simbol. Perlawanan terhadap ketidakadilan tidak boleh berhenti pada aksi simbolik, melainkan harus terarah dan terukur. Umat harus disadarkan bahwa selama sistem Kapitalisme tetap diterapkan, kezaliman akan terus berulang.
Hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah, keadilan yang hakiki dapat terwujud. Islam menjadikan umat ini sebagai khairu ummah, umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ …. ١١٠
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)
Maka, mari jadikan momentum peringatan kemerdekaan ini untuk mengoreksi makna merdeka yang sejati. Bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari penjajahan sistem yang zalim. Saatnya umat bangkit, melanjutkan perjuangan menuju tegaknya keadilan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
