Pendidikan Rusak, Akibat Sistem Fasad

Copy of Islam_20250512_115740_0000

 

LenSaMediaNews.com__Dua hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes(UTBK SNBT) 2025, sudah ada temuan kecurangan yang dilakukan para peserta. Pada hari pertama, Rabu (23-04-2025) tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan ada sembilan kasus kecurangan. Lalu, pada hari Kamis (24-04-2025), tercatat ada lima kasus.

 

Ketua Umum penanggung jawab SNPMB Prof. Eduart Wolok mengatakan jika dilihat dari total peserta yang hadir pada sesi 1 hingga 4 yaitu sebesar 196.328 orang, ada temuan kecurangan sebanyak 0.0071 persen kasus. “Memang itu sangat kecil, tetapi sekecil apapun kecurangan kami tidak akan mentolerir,” kata Prof Eduart Wolok pada konferensi pers tanggapan panitia SNPMB terkait dugaan kecurangan yang terjadi pada UTBK tahun 2025 (kompas.com, 25-04-2025).

 

Kecurangan dalam UTBK sering dipandang hanya sebagai masalah individu yang tidak jujur. Namun persoalannya jauh lebih dalam yaitu kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme nilai seseorang diukur dari materi dan status sosial yang sebagian besar bergantung pada akses ke pendidikan tinggi bergengsi.

 

Tekanan untuk masuk universitas favorit demi masa depan ekonomi membuat banyak orang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk curang. Pendidikan dalam kapitalisme diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan sehingga orientasinya hanya materi.

 

Lembaga bimbingan belajar mahal, jaringan koneksi elite, bahkan praktik curang berbayar menjadi bukti nyata bagaimana kapitalisme mendorong ketimpangan dalam akses dan hasil pendidikan. Maka kecurangan di UTBK bukan sekedar soal moral individu melainkan cermin dari sistem yang menormalisasi persaingan tidak sehat demi keuntungan dan status dalam tatanan kapitalistik.

 

Di sisi lain pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan melahirkan individu-individu yang tidak bertakwa, tidak memahami batasan halal dan haram serta hanya mengejar manfaat duniawi. Kapitalisme membentuk masyarakat yang menjadikan materi sebagai standar utama dalam menilai keberhasilan hidup. Segala sesuatu diukur berdasarkan seberapa besar manfaat duniawi yang diperoleh.

 

Oleh karena itu solusi atas maraknya kecurangan dalam UTBK tidak bisa diserahkan kepada sistem kapitalisme yang justru menjadi akar masalah itu sendiri. Solusi sejati hanya bisa datang dari Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dalam Islam pendidikan diselenggarakan bukan untuk mengejar materi atau status melainkan untuk menumbuhkan ketakwaan, kecintaan kepada kebenaran dan kepatuhan terhadap hukum syariat.

 

Negara menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas tanpa diskriminasi, menghilangkan ketimpangan akses yang sering melahirkan kecurangan. Kurikulum Islam ditanamkan sejak dini untuk membentuk kesadaran tentang halal dan haram, serta menanamkan nilai amanah dan kejujuran. Khilafah membangun masyarakat diatas dasar aqidah yang kokoh dimana standar benar dan salah sepenuhnya bersumber dari wahyu Allah SWT bukan dari akal manusia atau pertimbangan manfaat semata.

 

Khilafah wajib membina keimanan rakyatnya melalui pendidikan yang berbasis tauhid, membiasakan amar ma’aruf nahi munkar ditengah masyarakat, serta menerapkan hukum syariat. Negara menerapkan sanksi tegas terhadap pelanggaran hukum, bukan untuk menghukum semata tetapi untuk menjadi pencegah (zawajir) dan penebus dosa (kafarat). Dengan sistem ini, kemaksiatan tidak lagi dinormalisasi melainkan dicegah sejak dari pola pikir dan pola sikap masyarakat sehingga tercipta kehidupan penuh berkah dan diridai Allah SWT.

Ummu Aufa [LM/Ss]