Pendidikan Tinggi dalam Pelukan Kapitalisme

Oleh : Imas Yahya
(Aktivis Muslimah Jakarta)
Lensa Media News – Di dunia yang terasa makin sempit dengan sirkulasi yang terasa makin cepat saat ini, pendidikan menjadi salah satu elemen kehidupan yang terimbas dampak baik dan menguntungkan. Akses semakin luas dan lebih mudah dijangkau, fokus kebijakan dan kualitas pembelajaran seperti kurikulum Merdeka dan terlaksananya assesmen nasional, serta digitalisasi di daerah-daerah menjadi gambaran singkat namun komperhensif tentang pendidikan di negara kita saat ini. Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu pendidikan dan kesenjangan antar daerah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah.
Persaingan global menyebabkan pemerintah harus lebih memperhatikan ketersediaan tenaga kerja siap pakai dengan standar pendidikan strata 1 (satu) agar mampu bersaing di pasar global, minimal di dalam persaingan domestik di dalam negeri sendiri.
Hal tersebut menyebabkan tuntutan tenaga kerja siap pakai minimal ada di level strata 1 (satu). Sementara itu, menjadi mahasiswa di negara ini tidak bisa diasumsikan sebagai suatu perkara sederhana. Kemdiktisaintek melaporkan bahwa angka putus kuliah di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 289 ribu mahasiswa. Jumlah ini naik sekitar 2,62% jika dibandingkan dengan tahun 2024. Berdasarkan laporan tersebut, angka putus kuliah pada mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) mencapai angka 73,81%, mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) sekitar 17,20%, sementara perguruan tinggi agama menyumbang 7,74%, sisanya 1,25% dari sekolah kedinasan. (www.detik.com; 25/05/2025)
Di Indonesia, mekanisme subsidi untuk pendidikan tinggi dirancang agar perguruan tinggi tetap dapat menjalankan operasional berkualitas tanpa membebankan seluruh biayanya kepada mahasiswa. Pendekatan pemerintah didasarkan pada subsidi institusi dan subsidi langsung kepada mahasiswa. Meskipun sistem dirancang untuk meringankan beban, besaran subsidi Bantuan Operasiona Perguruan Tinggi Nasional (BOPTN) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kerap dinilai belum sebanding dengan pertumbuhan kebutuhan dana operasional kampus yang makin modern. Hal ini mendorong banyak kampus terutama yang berstatus PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) untuk lebih mandiri mencari pendanaan alternatif (seperti kerja sama industri atau pembukaan jalur mandiri) agar tidak melulu bergantung pada subsidi negara atau menaikkan beban UKT mahasiswa reguler secara drastis. Biaya pendidikan yang mahal inilah yang memicu tingginya angka putus kuliah, bahkan menimbulkan efek domino lain seperti menjamurnya pinjol di kalangan mahasiswa untuk menutupi kebutuhannya dalam menjalani dan menyelesaikan pendidikan.
Dalam sistem Kapitalisme, para lulusan dirancang untuk terjun ke dunia kerja. Mahasiswa cenderung diarahkan untuk bagaimana secepat mungkin untuk langsung terjun ke dalam dunia industri, bersifat individualistis, tidak peduli dengan kondisi di luar dirinya dan bersikap apatis dalam kehidupan sosialnya. Ruang-ruang diskusi dan perampingan kurikulum membuat mahasiswa lalai dalam perannya sebagai kontrol sosial dan agen perubahan dalam Masyarakat.
Di lain pihak, dalam sistem pendidikan Islam, motivasi yang dibangun adalah bahwa pendidikan merupakan pelayanan negara terhadap masyarakat, dan semua elemen masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan, menjadi poin yang bernilai ibadah untuk tiap individu sehingga diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang menguasai pemikiran Islam yang berdasar pada tsaqofah Islam sehingga solusi yang difikirkan untuk setiap masalah berdasarkan pada aqidah Islam; berkepribadian Islam sehingga pola sikap dan perilaku didasarkan pada aqidah semata dan diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari; menguasai ilmu dan teknologi, serta memiliki keterampilan yang tepat guna. Untuk mencapai hal ini maka negara wajib menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang melayani umat sesuai aturan Islam.
Dalam sistem pendidikan Islam, semangat mencari Ilmu adalah kewajiban yang insya allah akan mendatangkan pahala dan amal jariyah dan dibentuknya tradisi keilmuwan yang kuat dan didukung penuh oleh para penguasa muslim.
Generasi masa depan mulia tentu kita harapkan menjadi para pemikir dan pemimpin ummat, bukan hanya sekedar menjadi bahan bakar dan roda gigi p[enggerak ekonomi kapitalis. Mereka adalah insan-insan muda yang akan mengelola bumi dan mengemban risalah islam seperti yang dicontohkan pada masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, dan khalifah-khalifah sesudahnya. Wallahu a’lam bishawab.
[LM/nr]
