Pengakuan Palestina oleh Barat: Simpati atau Skenario Baru Penjajahan?

Oleh: Nettyhera
(Pengamat Politik Internasional)
Lensa Media News – Barat mulai bicara soal pengakuan Palestina. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pentingnya solusi dua negara. Sinyal serupa disampaikan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mengisyaratkan bahwa pemerintahannya siap mengambil langkah politik untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. (Sumber: KompasTV, 27 Juli 2025)
Sekilas tampak seperti angin segar. Setelah puluhan tahun rakyat Palestina dikepung kekerasan, blokade, pembunuhan massal, dan pengusiran sistematis oleh Zionis Israel, dunia seolah bangkit memberi empati. Tapi benarkah ini tanda keadilan sedang menang? Ataukah ini skenario baru yang lebih licik dan sistematis?
Di Balik Simpati, Ada Konspirasi
Pengakuan Palestina oleh negara-negara Barat, seperti Inggris dan Prancis, bukan semata langkah humanis. Sejarah mengajarkan kita bahwa kebijakan luar negeri negara-negara imperialis selalu didorong oleh kepentingan strategis, bukan nilai kemanusiaan. Kita tidak bisa menelan mentah-mentah narasi pengakuan ini sebagai kemenangan diplomasi Palestina.
Justru yang harus kita cermati adalah, mengapa sekarang? Mengapa ketika genosida Israel atas Gaza semakin brutal, negara-negara Barat memilih mengakui Palestina, bukan menghukum Israel? Mengapa mereka tidak menyeret para penjahat perang ke Mahkamah Internasional, tidak menjatuhkan sanksi, bahkan tidak mencabut pasokan senjata?
Jika kita gali lebih dalam, pengakuan ini sejatinya adalah langkah geopolitik yang bertujuan menyelamatkan legitimasi Israel di panggung global. Dengan memberikan “sepotong harapan” kepada Palestina, Barat berharap bisa meredam gelombang kritik dunia terhadap kejahatan perang Zionis. Ini adalah strategi lama: memberi sedikit, agar bisa merampas lebih banyak.
Solusi Dua Negara: Solusi Palsu, Penjajahan Abadi
Narasi “solusi dua negara” sudah lama dijual dunia Barat sejak Perjanjian Oslo 1993. Namun, lebih dari 30 tahun berlalu, hasilnya nihil. Tanah Palestina terus menyusut. Permukiman ilegal Yahudi terus meluas. Gerbang kota-kota Palestina dijaga militer Israel. Bahkan Masjid Al-Aqsa pun terus dinistakan.
Jadi, apa makna dari pengakuan negara Palestina dalam peta yang telah dikoyak-koyak itu?
Pengakuan semacam ini justru berpotensi melegitimasi peta aneksasi yang dibuat oleh penjajah. Palestina dikerdilkan menjadi kawasan kecil seperti Jalur Gaza dan sebagian Tepi Barat, sedangkan tanah-tanah utama yang dulu milik rakyat Palestina akan dianggap “sah” milik Israel. Ini adalah skenario damai yang berujung pada pemakluman penjajahan.
Dengan kata lain, solusi dua negara adalah cara licik Barat untuk menciptakan status quo baru yang mempermanenkan pendudukan Israel dan melemahkan tuntutan pembebasan total Palestina.
Kepentingan Barat dan Dominasi Zionis Global
Kita tidak boleh melupakan bahwa Inggris adalah aktor utama di balik pendirian negara Israel. Lewat Deklarasi Balfour 1917, Inggris menjanjikan tanah Palestina kepada Yahudi Eropa, meskipun tanah itu bukan miliknya. Dan kini, dengan narasi pengakuan negara Palestina, Inggris seolah sedang menyulam luka yang ia buat sendiri.
Di sisi lain, AS dan sekutunya tetap menjadi pemasok utama senjata ke Israel. Menurut laporan The Guardian dan Al Jazeera, dalam periode Oktober 2023–Juni 2025, Israel menerima lebih dari 100.000 ton senjata dari AS, Eropa, dan Kanada. Maka ketika sebagian negara Barat “mengakui Palestina,” itu bukan berarti mereka membela Palestina. Mereka hanya sedang memainkan peran ganda: satu tangan menjilat luka, tangan lain menusuk dari belakang.
Di sinilah letak bahaya sesungguhnya. Umat Islam bisa tertipu oleh pengakuan simbolik, lalu menanggalkan semangat perjuangan hakiki. Padahal, tujuan penjajah tetap sama: memecah belah umat Islam, mengaburkan musuh yang sebenarnya, dan menjauhkan umat dari solusi Islam.
Solusi Islam: Membebaskan, Bukan Negosiasi
Islam tidak mengenal kompromi dalam urusan penjajahan. Allah Swt. berfirman:
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (penindasan), dan agama hanya milik Allah semata.” (QS. Al-Baqarah: 193)
Islam memerintahkan pembebasan wilayah yang diduduki, bukan pengakuan dalam kerangka peta palsu. Dalam sejarahnya, Islam telah membebaskan Palestina di masa Khalifah Umar bin Khattab, yang masuk ke Baitul Maqdis tanpa menumpahkan darah, dan menjamin keamanan seluruh penduduknya.
Di masa Shalahuddin Al-Ayyubi, Palestina kembali dibebaskan dari tangan pasukan Salib. Ia tidak berunding dalam meja perjanjian, melainkan membangun kekuatan dan memobilisasi umat untuk membebaskan tanah suci.
Model ini jauh berbeda dari diplomasi lembek dunia hari ini. Sistem Islam (Khilafah) tidak menjadikan pengakuan asing sebagai legitimasi. Justru negara Islam bertindak sebagai pelindung umat dan pembebas negeri-negeri yang dijajah.
Seruan untuk Umat Islam
Saat dunia Barat bicara pengakuan, umat Islam harus bicara pembebasan. Jangan biarkan skenario penjajahan berganti wajah menjadi pengakuan semu. Jangan larut dalam tepuk tangan palsu ketika musuh justru menanam racun baru dalam politik global.
Inilah saatnya umat Islam menyadari bahwa Palestina tidak akan pernah merdeka selama dunia Islam terpecah dalam batas-batas nasional sempit. Kita memerlukan satu kepemimpinan politik yang menyatukan kekuatan umat, yang menjadikan pembebasan Palestina sebagai agenda negara, bukan sekadar slogan massa.
Pengakuan Palestina oleh Barat bukanlah akhir perjuangan, justru bisa menjadi jebakan diplomatik yang melanggengkan penjajahan. Satu-satunya jalan pembebasan adalah kembali kepada sistem Islam kaffah, yang menolak kompromi dengan penjajah, dan menegakkan keadilan atas dasar wahyu, bukan kepentingan geopolitik Barat.
[LM/nr]
