Pengecut, Jadikan Kelaparan sebagai Alat Genosida

20250525_114032

Oleh: Nettyhera

 

 

Lensamedianews.com_ Ketika dunia masih sibuk berunding, Gaza telah sekarat. Saat para pemimpin negeri-negeri Muslim duduk di kursi empuk kekuasaan, rakyat Palestina merintih di tengah reruntuhan. Lebih dari 53.000 jiwa telah syahid, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Tapi yang paling memilukan adalah fakta bahwa kelaparan kini dijadikan senjata. Zionis Israel bukan hanya membunuh dengan peluru, tetapi juga dengan kelaparan yang diciptakan secara sengaja.

 

Blokade total selama berbulan-bulan telah melumpuhkan seluruh sistem kehidupan. Jalur bantuan di Rafah ditutup. Gudang-gudang bantuan diserbu dan dibom. Truk-truk makanan tertahan dan membusuk di perbatasan. Bayi-bayi kurus kering dalam pelukan ibunya, ibu-ibu kehilangan air susu karena tubuhnya sendiri kelaparan. Di beberapa wilayah, warga Gaza memakan tepung basi, rumput, bahkan pakan ternak. Ini bukan sekadar agresi militer. Ini adalah genosida modern yang paling keji.

 

Menurut laporan PBB, kondisi Gaza saat ini berpotensi menjadi Nakba Kedua—pengulangan bencana 1948 ketika ratusan ribu warga Palestina diusir dari tanah airnya. Namun Nakba kali ini lebih kejam. Sebab yang dirampas bukan hanya tanah, tapi juga hak hidup paling dasar: makanan, air, dan obat.

 

Lebih ironis lagi, Zionis melakukannya dengan tipu daya. Hamas mengaku ditipu oleh utusan Amerika, yang menjanjikan pencabutan blokade jika sandera dibebaskan. Janji itu ingkar. Ini mengulang sejarah panjang pengkhianatan barat terhadap rakyat Palestina. Mereka bicara soal “perdamaian”, tapi diam saat rakyat Gaza dibunuh perlahan. Mereka angkat isu “hak asasi manusia”, tapi terus memasok senjata ke penjajah.

 

Lalu, di mana dunia Islam? Di mana para pemimpin negeri-negeri Muslim? Mengapa tak ada satu pun pasukan yang dikirim untuk membela rakyat Gaza? Mengapa diplomasi lebih penting dari darah saudara seiman? Seruan jihad menggema dari pelosok dunia, tapi tak sanggup menggoyahkan kursi-kursi kekuasaan yang lebih takut kehilangan legitimasi Barat daripada kehilangan ridha Allah.

 

Inilah bukti nyata kelemahan umat Islam hari ini—karena kita tak lagi punya perisai. Kita tak lagi memiliki pelindung yang bernama Khilafah. Dulu, saat satu Muslimah menjerit karena dilecehkan oleh musuh, Khalifah Mu’tashim Billah mengirim pasukan besar hingga musuh tunduk. Tapi hari ini, jutaan Muslimah Gaza berteriak, dan tak satu bala tentara pun dikirim.

 

Khilafah bukan sekadar romantisme sejarah. Ia adalah kebutuhan riil umat Islam. Ia bukan simbol politik, tapi sistem pemerintahan Islam yang telah terbukti melindungi kehormatan umat selama lebih dari 13 abad. Ia menyatukan negeri-negeri Muslim dalam satu kepemimpinan, menghapus batas nasionalisme buatan kolonial, dan menjadikan jihad sebagai strategi pembebasan, bukan sekadar seruan emosional.

 

Perjuangan untuk menegakkannya bukanlah utopia. Ia telah dimulai dan dipimpin oleh partai Islam ideologis yang tak berkompromi dengan sistem kufur. Partai ini membina umat, menyeru para tokoh, menyadarkan generasi, dan menyeru para tentara untuk mengambil sikap: hentikan loyalitas pada penguasa yang diam, dan berikan kekuatan kepada perjuangan Islam yang sejati.

 

Umat Islam harus bangkit dari ilusi solusi parsial. Donasi dan boikot memang penting, tapi bukan penyelesai akhir. Diplomasi hanyalah pengalihan isu jika tak disertai tekad membebaskan. Solusi hakiki hanyalah satu: tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Sebuah sistem yang bukan hanya menyatukan umat, tapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai hukum, dan jihad sebagai pelindung.

 

Hari ini, saat Gaza menjerit karena kelaparan dan dunia pura-pura tuli, kita harus memilih: menjadi penonton yang hanya bersimpati, atau menjadi pejuang yang siap mengubah realita. Karena kelak, sejarah akan mencatat: siapa yang menangis, dan siapa yang bangkit. Siapa yang berkata “kami peduli”, dan siapa yang berkata “kami berjuang”.

 

Maka jangan biarkan sejarah mencatat kita sebagai generasi yang gagal menolong saudaranya. Jadilah bagian dari perjuangan ideologis untuk menegakkan sistem Islam yang benar-benar melindungi. Karena hanya Khilafah yang akan menjadikan al-Quds sebagai pusat kekuasaan, bukan korban penjajahan.

 

Dan saat Khilafah kembali tegak, Gaza tak akan sendirian. Umat akan bersatu. Tentara Islam akan bergerak. Dan bumi Palestina akan dibebaskan, bukan dengan air mata, tapi dengan kekuatan yang diridhai oleh Allah.