Penghina Nabi akan Abadi

1000917666

 

Oleh. Netty al Kayyisa

 

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Penghinaan terhadap Nabi bukan pertama kali terjadi. Jika hari ini ada Dogan Pehlevan (DP) dari majalah LeMan Turki maka sebelumnya ada majalah Charlie Hebdo di Perancis, surat kabar Jyllands-Posten di Denmark, kartunis Lars Vilks dari Swedia, Geert Widers dari Belanda, dan masih banyak lagi.

 

Dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad”, Muhammad Husain Haekal menyebutkan para penghina Nabi pada abad ke-14 ada Raymond Lulle, pada abad ke-16 ada Guellaume Postel, abad ke-18 Roland dan Gagnier, abad ke-19 ada Pendeta de Broglie dan Renan.

 

Bahkan sejak masa Rasullulah pun penghinaan terhadap Nabi juga sering terjadi. Dalam kitab ash-Sharimul Maslul ’ala Syatimir Rasul, hal. 123 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikisahkan oleh Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengatakan, “Dahulu ada seorang Nasrani yang masuk Islam dan membaca al-Baqarah dan Āli Imrān dan menulis untuk Nabi, lalu dia murtad kembali ke agama Nasrani dan menghina Nabi seraya mengatakan, “Muhammad itu tidak tahu kecuali apa yang dituliskan untuknya saja.” Allah lalu mematikannya dan mereka pun menguburnya, namun esok harinya ternyata dia tergeletak di atas bumi.

 

Pada kitab asy-Syifa’ bi Ta’rif Huquqil Musthafa, 2: 135 oleh al-Qadhi Iyadh, Hayatul Hayawan al-Kubra, 2: 422 oleh ad-Damiri juga dikisahkan seorang Ibrahim al-Fazari yang menghina Nabi dijatuhi hukuman mati dengan disalib.

 

Pada kitab Bustanul ’Arifin, hal. 113–114 oleh Imam Nawawi, juga dikisahkan lebih detail dalam al-Bidayah wan Nihayah, 13: 249 oleh Ibnu Katsir nasib seseorang yang mencela hadis Nabi. Di pagi hari orang itu meninggal dalam kondisi mengenaskan. Bahkan pada masa Nabi ada Abu Lahab paman beliau yang selalu menghina Nabi hingga kisahnya diabadikan di dalam surah Al-Lahab.

 

Seluruh fakta ini menunjukkan penghinaan terhadap Nabi tidak akan berhenti bahkan hingga hari kiamat nanti. Selama kebencian terhadap Islam dan kaum muslim terus dikembangkan, persepsi buruk tentang Islam digaungkan, dan ketakutan terhadap kebangkitan Isam terus ada, maka selama itu pula penghinaan terhadapa Nabi tak akan mereda.

 

Bedanya, jika pada masa Rasulullah dan kekhilafahan Islam, para penghina Nabi selain mendapatkan azab dari Allah di dunia dan akhirat, mereka juga mendapatkan sanksi tegas dari negara. Negara juga melakukan edukasi tentang syariat Islam, memberikan pelayanan terbaik, sehingga mampu menghapus persepsi buruk tentang Islam. Hal ini menjadikan intensitas pengulangan penghinaan kepada Nabi tidak sesering yang terjadi sekarang. Saat dunia menjunjung HAM, berlindung di balik kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi maka penghinaan Nabi tak bisa dihindari, tumbuh subur bahkan pelaku bisa bebas melenggang pergi tanpa sanksi yang membuat jera dan tak akan mengulangi lagi.

Barat seolah memelihara agar penghinaan Nabi terus berulang, melecehkan kaum muslim yang berjumlah besar. Di satu sisi seharusnya hal ini menjadi sebuah kesadaran bersama pada diri kaum muslim, bahwa tidak cukup kita mengecam, tidak cukup melakukan demonstrasi, tidak cukup menjebloskan pelaku ke penjara karena semua itu tidak membuat jera dan meminimalkan kasus yang sama. Justru mereka seolah mengejek kaum muslim yang tidak memiliki kekuatan membela Nabinya.

 

Kaum muslimin butuh negara yang akan memberikan sanksi tegas pada para penghina Nabi. Sebagaimana dicontohkan pada masa pemerintahan Islam, penghina Nabi harus dihukum mati dengan disalib atau dengan cara lainnya. Kaum muslim butuh negara untuk menjaga kehormatan agama dan Nabinya. Kaum muslim juga butuh negara yang akan mengedukasi masyarakat dunia betapa agungnya Islam ketika diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Negara Islam akan membawa kesejahteraan dan tidak ada diskriminasi bagi ras, suku, dan agama tertentu. Mereka bisa hidup berdampingan dalam naungan sistem Islam. Negara Islam yang bisa mewujudkan semua itu adalah Khilafah ala manhaj nubuwah yang kedua yang insyaallah akan terwujud nyata tak lama lagi. Wallahu’alam bi shshawab.