Penjajahan Palestina masih Terjadi, Islam Solusi Hakiki

Oleh Yumna Nur Fahiimah
LensaMediaNews.com, Opini_ Palestina makin menderita. Entitas Yahudi terus melancarkan serangan membabi-buta. Hingga hari ini, Palestina masih menjadi sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi. Bukan saja terhadap pejuang Palestina, tetapi juga warga sipil, anak-anak, perempuan, tenaga medis, juga jurnalis. Bahkan rombongan pengungsi pun dihadang serangan brutal militer. Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh secara pelan-pelan generasi Palestina. Bahkan di hari raya serangan pun tak berkurang.
Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Iduladha, imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah. Data yang dihimpun oleh kantor berita Anadolu dari berbagai sumber lokal menunjukkan bahwa sejak 27 Mei 2025, total korban tewas akibat tembakan tentara Israel saat warga berusaha mengakses bantuan kemanusiaan telah mencapai 115 orang. Sementara itu, lebih dari 580 warga Gaza tercatat mengalami luka-luka dalam upaya mereka memperoleh bantuan kemanusiaan. Hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang.
Pada hari pertama Iduladha, Jumat (6/6/2025) lalu, serangan udara dan penembakan Israel di berbagai wilayah Gaza juga menyebabkan 33 warga Palestina kehilangan nyawa. (Beritasatu.com, 7/6/2025).
Mirisnya, negara-negara besar dunia diam. Bahkan Penguasa muslim juga hanya sibuk retorika tanpa adanya tindakan nyata degan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah. Mereka diam meski rasa kemanusiaan terkoyak. Padahal rasa itu adalah rasa fitrah bagi manusia untuk menolong sesamanya, apalagi bayi yang lemah tak berdaya, bayi-bayi yang masih merah yang tak memiliki dosa. Bagi Zionis, dosa mereka adalah karena mereka bayi muslim keturunan Palestina.
Kekejaman yang begitu rupa tak mengusik nurani para pemimpin muslim. Nasionalisme yang lahir dari Barat pun menghalangi untuk bersikap adil pada muslim palestina. Tidak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang membebaskannya dengan kekuatan senjata, meski umat sudah menyerukan jihad. Jihad tak mungkin terwujud tanpa adanya seruan negara. Dan model negara hari ini tak mungkin menyerukan jihad, apalagi mereka justru bergandengan tangan dengan penjajah Yahudi.
Seruan jihad hanya mungkin dikumandangkan oleh Khilafah. Oleh karena itu, umat harus berjuang menegakkan Khilafah. Tegaknya khilafah tak mungkin terwujud ketika umat masih hidup dalam kapitalisme sekularisme.
Upaya menegakkan Khilafah membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Khilafah. Jamaah ini akan membangun kesadaran umat, dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Sudah seharusnya umat menjawab seruan jamaah dakwah ini dan berjuang bersama menjemput nashrullah.
Oleh sebab itu, Palestina hanya bisa dibebaskan jika Khilafah berdiri untuk melindungi tanah yang Allah berkahi tersebut. Khilafah pun akan mengusir para penjajah dari dunia Islam, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para khalifah setelah Rasulullah saw. wafat. Dulu Palestina juga masuk ke dalam pelukan dan perlindungan kaum muslim pada masa Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. Saat itu amirul mukminin Umar bin al-Khaththab ra. menandatangani Perjanjian Umariyah bersama Uskup Yerusalem Sofronius. Di antara klausulnya adalah tidak mengizinkan seorang Yahudi pun tinggal di tanah Palestina.
Wallahu a’lam bishshawab
