Rajab dan Masa Depan Umat

Oleh: Fatimah Nafis
Lensamedianews.com_ Bagi umat Islam, bulan Rajab memiliki kesan dan pesan tersendiri di hati. Banyak peristiwa sejarah yang tak sekedar penting untuk diingat namun sekaligus sebagai refleksi kebahagiaan yang mengharu biru. Pada bulan ini terjadi peristiwa hijrah pertama Rasulullah dan para sahabat ke Habsyi, terjadi pula perang Tabuk dan pembebasan Baitul Maqdis, Isra Mi’raj Nabi Muhammad juga terjadi pada bulan ini. Satu lagi peristiwa besar yang menjadi tonggak hancurnya peradaban manusia saat ini yakni runtuhnya institusi kekhilafahan Turki Utsmani melalui antek Barat Mustafa Kemal Attaturk pada 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M yang berujung pada pengusiran Khalifah Abdul Majid II yang telah berkuasa sejak 1299 M.
Sungguh memilukan, kehidupan yang semula penuh keberkahan, peradaban yang penuh kejayaan dan kegemilangan dalam naungan Khilafah runtuh seketika tak bersisa. Seluruh hukum Islam diganti dengan hukum sekuler. Sejak saat itu hilanglah kepemimpinan politik Islam, dan terjadi krisis berkepanjangan dalam aspek politik, ekonomi, pendidikan, hukum dan sebagainya. Manusia bebas membuat aturan sendiri hingga mereka terjerumus kepada lembah kehinaan. Umat Islam dunia terpecah belah, penjajahan Barat melalui berbagai undang-undang yang dipaksakan, kekayaan milik rakyat diserahkan kepada para penguasa dan pengusaha asing serta kekejaman yang terus dipertontonkan oleh musuh-musuh Islam seperti yang menimpa Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya.
Oleh karenanya, menjadi suatu keharusan yang tak boleh ditunda untuk mengembalikan kehidupan Islam sebagaimana mestinya sesuai petunjuk Rasulullah yakni dengan mewujudkan kembali institusi Khilafah yang akan menjadi junnah (penjaga) dan sebagai raa’in (pengurus) urusan rakyat, menerapkan syariat secara kaffah (menyeluruh), memberikan sanksi atas pelanggaran hukum syara, serta menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Hanya saja, aktivitas dakwah melanjutkan kehidupan Islam ini tidak bisa dilakukan secara individu, namun membutuhkan kerja jamaah dan partai politik Islam yang berjuang bersama meraih kekuasaan politik sesuai yang dicontohkan Rasulullah yakni tanpa kekerasan. Meski tidak mudah, namun dengan berbekal keyakinan, kesabaran, keistikamahan, serta kesungguhan memegang ideologi Islam niscaya masa depan umat akan kembali cemerlang sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dan Rasulullah saw.
