Refleksi Hardiknas: Potret Buram Dunia Pendidikan

Hardiknas

 

Oleh: Diyani Aqorib

LensaMediaNews.com, Opini_ Akhir-akhir ini, dunia pendidikan kembali menyedot perhatian publik. Ironisnya, bukan karena prestasi gemilang, melainkan rentetan peristiwa yang mengarah pada kriminalitas. Kasus kekerasan, kecurangan, hingga penghilangan nyawa muncul silih berganti. Sungguh memprihatinkan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan memahami makna kehidupan, justru dalam beberapa kasus melahirkan individu yang jauh dari nilai moral.

 

Salah satu peristiwa yang menyita perhatian adalah kasus penganiayaan terhadap seorang siswa SMA Negeri 5 Bandung, Muhammad Fahdly Arjasubrata (17), di kawasan Cihampelas, Kota Bandung, pada 13 Maret 2026. Pelaku pengeroyokan berjumlah enam orang dan semuanya berstatus pelajar dari sekolah berbeda. Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana kekerasan telah merambah lingkungan pelajar. (kompas.com, 21/04/2026)

 

Belum reda persoalan tersebut, publik kembali dikejutkan oleh praktik kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer–Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026. Ketua Umum Tim SNPMB, Eduart Wolok, mengungkapkan masih ditemukannya praktik perjokian dalam ujian masuk perguruan tinggi. Bahkan, ditemukan pula peserta yang menggunakan alat bantu dengar untuk melakukan kecurangan. (tempo.com, 21/04/2026)

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa integritas dalam dunia pendidikan semakin terkikis. Tidak hanya itu, berbagai persoalan lain turut memperburuk wajah pendidikan hari ini:
Pertama, meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan pelajar dan mahasiswa, sehingga ruang aman di sekolah dan kampus menjadi dipertanyakan.

Kedua, maraknya budaya kecurangan seperti plagiarisme dan perjokian yang terjadi di berbagai jenjang pendidikan.

Ketiga, meningkatnya keterlibatan pelajar dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Keempat, munculnya sikap tidak hormat terhadap guru, bahkan hingga tindakan kriminalisasi terhadap pendidik.

 

Kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Seperti bola salju yang terus menggulung menjadi besar, permasalahan di dunia pendidikan pun akhirnya semakin banyak. Semua terjadi secara sistemik. Dari akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga muncullah generasi muda yang jauh dari pemahaman agama. Pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan di dunia pendidikan.

 

Sekularisme Penyebab Utama

Momentum Hari Pendidikan Nasional sejatinya harus menjadi alarm keras bagi seluruh pihak untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi ini. Berbagai persoalan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan buah dari kegagalan sistemik dalam arah dan implementasi pendidikan.

Sistem pendidikan saat ini cenderung melahirkan individu dengan pola pikir sekuler, liberal, dan pragmatis. Akibatnya, orientasi pendidikan bergeser hanya pada capaian material dan kesuksesan instan, tanpa diimbangi pembentukan karakter dan moral yang kuat.

 

Dalam sistem yang bercorak kapitalistik, kesuksesan sering diukur dari hasil semata, sehingga mendorong sebagian individu menghalalkan berbagai cara untuk mencapainya. Di sisi lain, lemahnya penegakan sanksi terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran turut memperparah keadaan. Tindakan kriminal kerap dianggap sebagai kenakalan remaja biasa, sehingga tidak menimbulkan efek jera.

 

Ditambah lagi, minimnya penanaman nilai-nilai agama secara mendalam, baik di lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, dan sekolah semakin membuka ruang bagi degradasi moral. Jauhnya generasi muda dari pemahaman agama akan mempermudah terjadinya berbagai pelanggaran syariah.

 

Pendidikan Islam sebagai Solusi Hakiki

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar dan menyeluruh, bukan tambal sulam.

Pertama, menjadikan akidah sebagai asas pendidikan. Seluruh kurikulum, tujuan, dan metode pendidikan harus berpijak pada keimanan kepada Allah. Dengan ini, ilmu tidak akan berdiri netral, tetapi terarah untuk kebaikan. Pelajar tidak hanya belajar “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga “untuk apa”.
Allah SWT berfirman:
Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

 

Kedua, membentuk syakhsiyah Islamiyah secara utuh. Pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk pola pikir dan pola sikap sekaligus. Pelajar dididik agar menjadikan halal-haram sebagai standar dalam bertindak, bukan sekadar untung-rugi.
Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

 

Ketiga, menghadirkan negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Negara tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada logika pasar. Pendidikan harus dijamin kualitas dan arahnya, bukan dikomersialisasi. Negara wajib memastikan bahwa pendidikan benar-benar membentuk manusia, bukan sekadar tenaga kerja.

 

Keempat, menerapkan sistem sanksi yang tegas dan mendidik. Dalam Islam, pelanggaran tidak ditoleransi sebagai “kenakalan biasa”. Sanksi ditegakkan untuk menjaga masyarakat dan memberikan efek jera, sekaligus menjadi pelajaran bagi yang lain.

 

Kelima, membangun lingkungan yang kondusif bagi ketakwaan.
Pendidikan tidak berdiri sendiri. Lingkungan sosial, media, dan budaya harus sejalan dalam mendorong kebaikan. Dengan demikian, pelajar tidak hidup dalam kontradiksi antara apa yang diajarkan dan apa yang mereka lihat.

 

Keenam, mensinergikan peran keluarga, sekolah, dan negara. Keluarga menanamkan fondasi awal, sekolah menguatkan, dan negara menjamin sistemnya berjalan sesuai nilai Islam. Tanpa sinergi ini, pendidikan akan pincang.
Dengan sistem seperti ini, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan ketakwaan.

 

Penutup: Momentum Perubahan

Refleksi Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi titik balik untuk membongkar akar persoalan dan memperbaiki arah pendidikan secara mendasar.
Selama sekularisme tetap menjadi fondasi, krisis ini tidak akan pernah selesai. Pendidikan akan terus melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kehilangan arah.
Jika itu terus dibiarkan, maka yang sedang kita hadapi bukan lagi sekadar krisis pendidikan melainkan krisis peradaban.

 

Sehingga umat harus menyadari bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan generasi muda saat ini hanyalah dengan kembali kepada sistem syariah Islam. Sebuah sistem yang akan membentuk individu-individu takwa dan berakhlak baik.