Serakah Mengundang Musibah?

Oleh: Nunik Soewarno
LenSaMediaNews.Com–Ribuan meter kubik kayu gelondongan terhanyut dalam arus deras banjir bandang di Tapanuli Selatan. Banjir yang menghanyutkan dan menggenangi 4 kabupaten, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Sibolga juga diikuti tanah longsor yang sejauh ini sudah menewaskan 19 orang dari 4 kabupaten. Jumlah korban dipastikan akan terus bertambah sejalan banyaknya laporan korban hilang (bbc.com, 26-11-2025).
BNPB menyebut pemicu hujan dan banjir adalah Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Siklon menyebabkan hujan dan angin kencang. Akan tetapi berbeda dengan BNPB, Walhi justru menuding banjir bandang diakibatkan pembalakan hutan masif dan penambangan emas yang menyebabkan kerusakan hutan. BBCNews yang meminta tanggapan secara khusus ke PT. Agincourt Resources terkait tuduhan Walhi, belum mendapatkan tanggapan.
Heri Marpaung, kepala DLHK Sumut menyebut belum bisa memastikan tumpukan kayu terbawa banjir akibat pembalakan liar atau murni longsor. Padahal dalam banyak video yang beredar kayu-kayu dengan bekas potongan dari seresah sampai gelondongan hanyut dibawa arus deras bukan pohon dengan akar dan dedaunan layaknya pohon baru tercabut dari tanah.
Bukan Cuaca
Dilihat dari material yang terbawa banjir dan membuat wilayah bekas banjir menjadi lautan kayu gelondongan, tidak mungkin kayu-kayu itu hanyut akibat longsor. Menurut Dwikorita Karnawati, mantan Kepala BMKG, banjir bandang Sumatra ini bukan disebabkan cuaca. Siklon hanya pemicu saja, sebab tanpa adanya badai dan hujan ikutannya, wilayah-wilayah terdampak memang sudah rawan.
Rianda Purba, Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Utara menguatkan pendapat Dwikorita. Menurutnya penebangan liar atau deforestasi sudah menghilangkan banyak area tangkapan air. Daerah hulu sungai banyak kehilangan daerah tutupan hutan.
Dampaknya ketika hujan turun tidak ada lagi hutan yang dahulu menjadi semacam spons pengisap air yang menyerapnya ke dalam tanah. Akibatnya tanah semakin tergerus dan rentan pergerakan akhirnya dengan dipicu hujan terjadilah longsor. Semua material di atasnya ikut terbawa turun terseret air hujan.
Dalih Pembangunan
Hujan air jatuhnya dari langit, hujan kayu gelondongan jatuhnya dari hutan yang digunduli. Alam sepertinya sudah jengah melihat ulah manusia serakah yang merampas ekologi tanpa ampun. Satwa kehilangan habitat, air kehilangan jalan resapan, sungai semakin dangkal hingga tidak mampu menampung debit air.
Dari semua yang terjadi, dampak terbesar dialami rakyat kecil yang justru tidak merasakan hasil dari pembalakan masif tersebut. Cuaca bisa diprakirakan sebagaimana peringatan dari BMKG beberapa hari sebelumnya tapi dampaknya yang di luar prediksi. Alam menunjukkan apa yang selama ini ditutupi dengan alibi.
Dalih pembangunan, meningkatkan PAD, menjadi pembenar dalam penetapan kebijakan baik itu berupa ijin konsesi ataupun berupa regulasi. Di balik setiap tanda tangan pejabat, rakyat cukup harus berpura-pura tidak tahu, pura-pura baik-baik saja.
Ditengarai ijin-ijin pengelolaan berujung pembalakan liar ini hasil dari apa yang disebut ongkos pembangunan. Di Sumatra saja ratusan ribu hektar hutan primer dan sekunder lenyap. Belum lagi impunitas bagi pelaku kejahatan lingkungan, sebaliknya kriminalisasi bagi rakyat yang berani melawan untuk mempertahankan hutan, mempertahankan lingkungan.
Klaim pemerintah terkait turunnya deforestasi justru dibantah keras Greenpeace, Forest Watch dan Madani. Dan saat ini alam yang sudah muak, membuka semua yang selama ini ditutupi dan disangkal dengan membiarkan bukti keserakahan dibawa aliran liar hujan.
Islam Menjaga Ekosistem Alam dan Manusia
Semenjak rentetan berbagai bencana terus terjadi, ayat ini terus disampaikan sebagai pengingat bahwa apa pun yang terjadi di sini ada peran kita manusia dan Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya, QS. Ar Rum: 41, bahwa kerusakan di darat dan di laut banyak yang disebabkan perbuatan tangan manusia. Sungguh manusia sudah melewati batas padahal mereka diturunkan ke bumi salah satunya untuk menjadi Khalifah fil ardh untuk memimpin, mengelola dan menjaga alam sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqarah: 30.
Berbagai fakta bencana membuka mata adanya kebatilan dalam pengelolaan sumberdaya alam. Padahal kalau menggunakan aturan Allah, bahwa umat berserikat dalam 3 hal salah satunya padang rumput. Aplikasinya dilaksanakan dalam pengelolaan hutan. Ketika hutan dikelola sesuai fungsinya maka tanah dan tegakan di atasnya menjadi sumber penghidupan, airnya menjadi sumber kebaikan. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
