Seratus Lima Tahun Tanpa Perisai, Luka Umat yang Terus Berdarah

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com_ Dua miliar lebih Muslim hidup di dunia hari ini. Negeri-negeri Islam dianugerahi kekayaan alam melimpah, letak geografis strategis, serta jumlah umat dan tentara yang besar. Dengan semua potensi itu, wajar jika muncul pertanyaan dari nurani dan akal yang jernih: mengapa umat Islam terus berada dalam lingkar penderitaan yang seolah tak berujung?
Dari Gaza yang berdarah, Sudan yang terpecah, Muslim Xinjiang yang tertindas, hingga luka di Kashmir dan Rohingya, semuanya menjadi potret derita yang berulang. Bukan karena umat ini lemah secara jumlah, dan bukan pula karena kekurangan sumber daya. Ada satu perkara besar yang hilang dan dampaknya terus terasa hingga hari ini.
Saat Umat Kehilangan Pelindungnya
Sejarah mencatat, runtuhnya Khilafah Islamiyah pada Rajab 1342 H (1924 M) bukan sekadar pergantian sistem pemerintahan. Ia adalah hilangnya perisai umat. Penghapusan ini dilakukan oleh Mustafa Kemal at-Taturk dengan dukungan langsung Inggris, kekuatan imperialis Barat saat itu. At-Taturk bukan hanya membubarkan institusi Khilafah, tetapi juga mencabut hukum Islam dari kehidupan, menggantinya dengan hukum sekuler, serta memutus umat dari sistem yang selama berabad-abad melindungi darah, kehormatan, dan persatuan mereka.
Apa yang terjadi hari ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan akibat langsung dari tindakan tersebut. Selama Khilafah berdiri, kaum Muslim memiliki pelindung yang menjaga darah, kehormatan, dan tanah mereka. Bahkan non-Muslim pun hidup aman dalam naungan keadilan Islam. Namun ketika institusi ini dihapus, umat terpecah menjadi puluhan negara-bangsa tanpa kepemimpinan pemersatu.
Sejak saat itu, negeri-negeri Muslim menjadi sasaran intervensi dan eksploitasi. Kekayaan alam dijarah, konflik dipelihara, dan umat dipaksa hidup miskin di tanah yang seharusnya menyejahterakan mereka. Luka itu masih terbuka. Sudah 105 tahun, dan darah itu belum juga kering.
Ketika Ruwaybidhah Mengurus Urusan Umat
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan akan datangnya masa ketika urusan besar umat ditangani oleh ruwaybidhah, orang-orang yang tidak layak mengurus kepentingan umum. Ketidaklayakan itu tampak dari penolakan mereka berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, lalu menggantinya dengan hukum buatan manusia.
Hari ini, penguasa semacam itu terlihat nyata. Mereka menjalin hubungan dengan kekuatan imperialis, menormalisasi penjajahan Palestina, serta membiarkan penindasan terhadap kaum Muslim berlangsung tanpa pembelaan. Palestina ditinggalkan, Sudan dicabik, Kashmir dan Uyghur dianggap urusan internal penjajahnya. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan:
“Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta amanah yang dipercayakan kepada kalian…” (TQS al-Anfal: 27).
*Kekuatan yang Hilang: Jama’ah dan Kepemimpinan*
Al-Qur’an menggambarkan kekuatan umat Islam bukan sekadar jumlah, melainkan kesatuan iman, jama’ah, dan kepemimpinan:
“Jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, mereka dapat mengalahkan dua ratus…” (TQS al-Anfal: 65).
Ayat ini menunjukkan kualitas umat yang bersatu dalam jama’ah dan dipimpin oleh kepemimpinan Islam. Tanpa itu, umat tetap besar secara potensi, tetapi tercerai dan kehilangan arah. Rasulullah ﷺ pun menggambarkan kaum Muslim seperti satu jasad; bila satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya.
Pelajaran Besar bagi Kaum Muslim Indonesia
Bagi kaum Muslim di Indonesia, ada kehilangan besar yang jarang disadari: terputusnya kesadaran sejarah sebagai bagian dari umat Islam global. Sebelum 1945, kaum Muslim Nusantara adalah bagian dari umat yang terhubung dengan Khilafah, dengan hukum Islam, dan visi peradaban yang sama. Ketika hubungan itu diputus, Islam pun dipersempit menjadi ibadah personal, bukan sebagai sistem kehidupan. Padahal Islam diturunkan sebagai rahmat dan solusi bagi manusia dan dunia.
Lepasnya Timor Timur (Timor Leste) bukan semata persoalan politik modern, melainkan contoh nyata ketiadaan institusi pemersatu yang melindungi wilayah kaum Muslim dari intervensi asing.
Seruan Kesadaran dan Harapan
Wahai kaum Muslim, apa yang kita saksikan hari ini bukan takdir tanpa sebab. Kita semua adalah korban dari hilangnya perisai umat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai…”
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Jika kita yakin bahwa perisai itu harus ada, maka ini akan memberikan dorongan kepada kita untuk bergerak mewujudkannya.
Allah ﷻ pun berjanji:
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”
(TQS Muhammad: 7).
Janji ini telah terbukti dalam sejarah dan akan terwujud kembali sesuai kehendak Allah.
Hikmah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“…Kemudian akan ada kekuasaan diktator… lalu akan ada kembali Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.”
(HR Ahmad).
Maka jalan ke depan bukan putus asa, melainkan kembali memahami Islam secara kaffah, mengambil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai solusi kehidupan, serta menyiapkan diri menjadi bagian dari kebangkitan umat, dengan ilmu, kesadaran, dan amal.
و الله اعلم بالصواب
