Dewan Perdamaian Gaza, AS-Israel Kuasai Gaza

BoPTrump-LenSaMediaNews

Oleh: Iliyyun Novifana

 

LenSaMediaNews.Com–Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menjadi perbincangan di dunia khususnya di Indonesia setelah Presiden Prabowo ikut serta menjadi anggota di dalamnya dengan membayar biaya keanggotaan sebesar 1 miliar dolar AS (Rp 16,7 triliun) yang tentu itu diambil dari APBN yang tidak lain adalah uang rakyat.

 

Keputusan ini tentu terdapat pro dan kontra dengan sudut pandang masing-masing orang, baik dilihat dari sisi geopolitik dan juga hubungan internasional. Tujuan dibentuknya Dewan Perdamaian ini adalah untuk menyelesaikan konflik di Gaza antara Palestina dan Israel yang berjalan alot hingga puluhan tahun lamanya dan juga terjadi penyerangan terbesar pada abad ini yang telah dilakukan Israel terhadap Palestina yaitu 70.000 warga Palestina tewas atas serangan Israel tersebut.

 

Bahkan setelah terbit gencatan senjata pun melalui resolusi PBB nomor 2803 pada 11 Oktober 2025 lalu, dalam waktu singkat Israel melakukan serangan kembali hingga per hari ini telah menewaskan 488 jiwa warga Palestina. Oleh karena itu, dari sinilah Trump membentuk BoP dengan mengusulkan 20 langkah untuk rekonstruksi Gaza.

 

Yang salah satunya menginginkan pembangunan kembali untuk kepentingan Gaza dan secara resmi dibuka founding members untuk Board of Peace di Davos, Swiss pada 22 Januari 2026. Semua orang berharap BOP ini mampu menghentikan kebrutalan Israel terhadap Palestina (Kompas.com,29 -1-2026).

 

Palestina, ialah negeri kaum muslimin yang diberkahi Allah SWT. Banyak Nabi yang berasal dari sana. Banyak darah tertumpah untuk membebaskannya dari musuh-musuh Allah. Namun Palestina kini kembali dalam belenggu penjajah, setiap jengkal tanah dicuri penjajah, setiap nyawa dihabisi penjajah. Rakyatnya hidup dalam bayang-bayang kesyahidan setiap waktu. Mereka butuh pembebasan dari penjajahan. Siapa yang akan membebaskannya?

 

Dunia hanya mengecam. Penjajahan Israel terhadap Palestina hanya dianggap konflik kemanusiaan. Dunia memberikan solusi two nation state. Sejak kapan pencuri punya hak atas rumah yang dicurinya? Ketika pemilik rumah melakukan pembelaan terhadap diri dan keluarganya, para pencuri meluncurkan serangan yang lebih dahsyat membunuhi keluarga pemilik rumah. Lalu dunia menyarankan untuk damai dan membagi rumah dengan pencuri. Dimana nalar manusia?

 

Sekarang muncul wajah baru yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah di Palestina, Board of Peace. Salah satu proyeknya adalah pembangunan Gaza kembali karena sudah hancur. Negara-negara yang tergabung dalam BoP ada 26 negara namun Palestina tidak termasuk di dalamnya. Ibarat kata, yang hancur rumah Palestina, yang mau bangun rumah orang lain, yang punya rumah tidak diajak bangun. Masihkah ada nalar yang logis untuk memahami ini?

 

Tentu nalar yang masih logis akan berkata bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari BoP. Lembaga ini tetap tak akan mampu menyelesaikan konflik. Begitu nyata adanya kepentingan asing di dalamnya. Dibungkus secantik apapun, solusi bangkai akan tercium sebagai bangkai. Bukan hendak menolong, tapi hendak turut serta menguasai rumah si pemilik. Ikut serta menjadi anggotanya bukan hal yang tepat.

 

Demikianlah solusi ala Demokrasi kapitalis untuk Palestina. Tidak ada keadilan, yang ada hanyalah keserakahan dan kesewenang-wenangan. Tak lupa ambil cuan di setiap kesempatan. Mulut manis berbusa menipu dunia dengan retorika apik, namun sejatinya racun mematikan yang hendak membunuh siapa-siapa yang tidak berdiri di pihak pencuri.

 

Solusi untuk Palestina sudah ada dalam Islam, yaitu dengan jihad dan Khilafah. Jihad dari seluruh kaum muslimin di dunia setelah disatukan oleh Khilafah Islam. Maka muncullah kembali generasi Salahudin Al Ayubi masa kini, mengusir penjajah dengan tegas dan berani. Wallahua’lam bishshowab. [LM/ry].