Sistem Sekuler Kapitalis Picu Rusaknya Moralitas Pendidikan

Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.Com–Kejadian mencengangkan dunia pendidikan, menjadi berita di berbagai media sosial. Telah terjadi pengeroyokan sejumlah siswa terhadap gurunya. Peristiwa ini terjadi, bermula dari teguran seorang guru kepada muridnya. Dikarenakan bersikap tidak sopan dan tidak hormat. Akhirnya terjadi cekcok, hingga situasi menjadi tidak terkendali (iNews.id, 14-01-2026).
Kasus ini akhirnya berbuntut saling lapor polisi. Plt. Kadisdik Provinsi Jambi menyayangkan kejadian ini. Padahal kasus ini bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan (detik.com, 17-01-2026). Apa yang terjadi pada kasus tersebut, sungguh memperihatinkan. Terlebih terjadi di dunia pendidikan. Seharusnya dunia pendidikan merupakan sarana tempat belajar – mengajar, bukannya arena tawuran.
Kekesalan seorang guru yang berujung berlaku kasar dan arogan pada muridnya. Murid yang bersikap arogan, menunjukkan keberanian berdalih pembelaan diri. Namun sayangnya, dengan cara yang keliru dan emosi tidak terkendali.
Inilah cermin gagalnya sistem pendidikan yang mengusung sekulerisme, dibawah kendali Sistem Kapitalisme. Kerusakan moral, telah merambah dan terpampang jelas nyata terjadi di lingkungan sekolah. Ada kesalahan kurikulum yang menjadi landasan pengajaran di sekolah. Kurikulum yang diterapkan, semestinya tidak berakibat degadrasi moral baik pada guru maupun murid.
Sekolah sewajarnya mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman, dan kondusif bagi murid-muridnya. Seorang guru diwajibkan bisa menjadi teladan yang baik, mengajarkan dan mencontohkan adab yang baik. Peran negara, lingkungan, dan keluarga sangat penting dalam dunia pendidikan dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi para pengajar dan penuntut ilmu.
Dalam pandangan Islam. Pendidikan merupakan hal terpenting bagi kelanjutan sebuah generasi, sehingga yang diharapkan dapat melanjutkan kelestarian iman Islam, tidak hanya sekedar generasi berprestasi sesuai target kompetensi pasar.
Dalam majelis ilmu, adab sangatlah penting. Sebagaimana disampaikan oleh ulama salaf, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Seorang guru, haruslah memiliki adab yang baik, menjadi suri teladan bagi murid-muridnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullãh Saw., “Sesungguhnya aku di utus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Hal ini menunjukkan bahwa, tujuan Nabi Muhammad diutus untuk membentuk adab (akhlak dan sopan santun) yang baik.
Seorang guru dituntut tidak hanya sebagai pengajar saja. Akan tetapi juga menjadi figur suri teladan bagi muridnya. Seorang guru harus bisa mengajar dengan sabar dan lembut. Tidak merendahkan atau menyakiti muridnya. Memahami adanya perbedaan kemampuan masing-masing muridnya. Dapat memberikan nasihat atau teguran yang baik, dan menjadi contoh akhlak yang mulia.
Rasulullah Saw. bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tarmidzi). Seorang murid wajib menghormati gurunya, memuliakan gurunya. Sebab di sinilah letak keberkahan ilmu yang diperoleh.
Jika negara menerapkan sistem Islam dalam pendidikan, dimana kurikulumnya berlandaskan pada akidah Islam. Maka setiap mata pelajarannya akan diarahkan untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Generasi yang beradab, memahami hakikat hidup, yang paham tujuan hidupnya di dunia. Tidak hanya sekedar pencapaian sesuai dengan kompetensi pasar belaka. Sehingga mampu menciptakan peradaban Islam yang gemilang. Wallahu’alam bishshowab. [LM/ry].
