Sunyi Yang Tercabik di Mata Anak Gaza

Oleh : Eni Imami, S.Si, S.Pd
Pendidik dan Pegiat Literasi
LenSaMediaNews.com—Senyum telah hilang di wajah anak-anak Gaza. Sorot mata menjadi simbol saksi bisu yang merekam trauma, duka, ketakutan, sekaligus harapan yang memudar. Batin mereka telah hancur seiring hancurnya tempat tinggal dan kota mereka akibat serangan Zionis Israel.
Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis anak dari Norwegia yang telah melakukan dua misi ke Gaza pada 2024 dan 2025, mengungkap bahwa tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Bahkan lebih dari satu juta anak menderita trauma parah. Menurut UNICEF, terhitung sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka (bbc.com, 29-05-2026).
Dunia Bergeming
Dunia seakan tutup mata dan telinga atas penderitaan rakyat Gaza. Entitas Zionis terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Anak-anak yang tak bersalah menanggung trauma yang begitu dalam hingga kehilangan kemampuan berbicara. Anak-anak Gaza tidak hanya luka fisiknya, tetapi juga batinnya. Luka yang akan terus membekas hingga mereka dewasa.
Kejahatan Zionis Israel begitu nyata. Ia tidak hanya melakukan genosida, tetapi juga berupaya menghancurkan psikologis penduduk setempat, termasuk anak-anak. Zionis tidak sekadar menduduki tanah rakyat Palestina, tetapi juga melenyapkan setiap denyut kehidupan hingga mereka dapat berkuasa. Entitas Zionis sengaja menargetkan anak-anak dalam serangan mereka. Tentara Israel diduga diseru Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tembakan terhadap setiap anak Palestina yang mendekati “garis kuning” di Jalur Gaza (Maariv, 25-10-2025).
Dunia hanya berani mengecam, mengutuk, dan beretorika. Berbagai aksi nyata kemanusiaan telah dilakukan. Namun, solusinya tidak cukup dengan mengirimkan dokter untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa mereka. Selama masih ada entitas Zionis, serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza. Zionis Israel sebagai sumber kerusakan tidak pernah disanksi tegas, bahkan mendapat suaka dari negara adidaya.
Negeri-negeri muslim yang lain pun tidak satu suara. Mereka juga tak dapat diharapkan bantuannya seperti mengirimkan pasukan untuk melawan tentara Zionis Israel. Karena penguasa negeri muslim juga tunduk kepada penguasa adidaya, Amerika. Mereka takut kehilangan kekuasaan jika membela saudaranya sesama muslim di Palestina. Para penguasa muslim telah melakukan pengkhianatan, mereka memilih berada di belakang Amerika dan mengamini setiap garis kebijakan yang ditetapkan, yang notabene semakin menguatkan posisi Zionis Israel.
Sungguh menyedihkan, penderitaan anak-anak Gaza akan semakin parah jika sumber masalahnya tidak diselesaikan secara tuntas. Dibutuhkan tindakan tegas dengan mengangkat senjata, jihad fi sabillah mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina. Namun, itu dapat dilakukan ketika ada institusi negara yang memerintahkan pasukan muslim dengan kekuatan militer yang mumpuni untuk memerangi Zionis Israel.
Urgensi Pembebas Palestina
Sejarah telah mencatat bahwa Palestina pernah dibebaskan dari tentara Salib di bawah kepemimpinan Shalahudin Al-ayubi, Khalifah umat Islam pada saat itu. Saat ini, Palestina tengah menanti sang Khalifah untuk membebaskan penderitaan atas pendudukan Zionis Israel. Karena hanya Khilafah satu-satunya negara yang memiliki visi politik luar negeri berupa dakwah dan jihad.
Khilafah akan menyatukan negeri-negeri muslim. Menghimpun seluruh potensinya dan mempersatukan kekuatan militernya untuk jihad fisabilillah membebaskan Palestina. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kesadaran dan perjuangan bersama terhadap urgensi tegaknya institusi Khilafah.
Khilafah akan memberikan perlindungan dan menjaga atas segala bahaya yang mengancam warganya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,“Sesungguhnya imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaq alaih). Wallahualam bissawab. [LM/ry].
