Thalabul Ilmi Islam, Benteng Degradasi Akidah

ThalabulIlmi-LenSaMediaNews

Oleh: Cokorda Dewi

 

LenSaMediaNews.Com–Pada zaman ini, masih banyak kaum muslim, terutama para muslimah yang belum paham mengapa harus thalabul ilmi (menuntut ilmu Islam). Kebanyakan di antara mereka beralasan belum ada waktu atau waktunya berbenturan dengan kegiatan lainnya ketika diundang datang kajian.

 

Ada juga yang berpendapat karena merasa sudah tua, padahal anaknya masih usia remaja, dan merasa lebih utama anak-anaknya yang pantas untuk belajar. Ada juga yang berpendapat sudah belajar melalui media sosial, dan merasa sudah paham dengan hanya cukup mendengarkan saja, alasannya lebih efektif karena bisa mendengarkan tanpa meninggalkan aktivitas bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi cuan.

 

Kemajuan tekhnologi semakin berkembang,  kebutuhan hidup pun seolah beragam, ditambah terpapar oleh trend gaya hidup hedonisme, mengakibatkan peran ibu yang atas potensi multi talenta pun turut terlibat mencari nafkah untuk bisa membantu perekonomian keluarga. Bahkan tak jarang “terpaksa” bekerja jauh dari keluarga, meskipun seharusnya tugas mencari nafkah adalah kewajiban seorang imam keluarga.

 

Di era Kapitalisme ini, semua diukur oleh materi dan profit, termasuk tenaga wanita,  dianggap lebih teliti, dan multi talenta dibandingkan pria, bahkan  bisa dibayar lebih murah meskipun mengerjakan banyak hal dalam suatu waktu tanpa protes, hanya butuh sedikit sanjungan atau reward saja. Sangat menguntungkan para pengusaha.

 

Kampanye feminisme, empowering perempuan semakin didengungkan dengan dalih memberdayakan perempuan untuk kesetaraan gender, bahwa perempuan juga mampu berdikari, bisa bermanfaat dan menghasilkan cuan yang fantastis. Gambaran wanita karir sengaja dikampanyekan secara sesat dibandingkan ibu rumah tangga.

 

Sedangkan Islam memuliakan perempuan, ia diciptakan memiliki multi talenta, dan ditakdirkan  menjadi seorang Istri juga ibu bagi anak-anaknya. Peran seorang ibu seharusnya memberikan pengetahuan awal (maklumat tsabiqah) kepada anak-anaknya.

 

Peran seorang ibu untuk mendidik, membimbing, membina, mengarahkan, dan mendampingi anak-anaknya di tengah gempuran paham-paham rusak yang bertebaran, termasuk sebaran konten negatif di ruang digital tanpa bisa dihindari. Tanpa pemahaman Islam kafah, bagaimana bisa membentengi keluarga, dan generasi muda dari degradasi moral dan akidah?

 

Jelas Allah mewajibkan umat muslim untuk thalabul ilmi. Jadi tidak ada alasan, seorang ibu tidak paham tentang Islam, selain dengan cara thalabul ilmi ( QS An-Nahl :43). Ilmu di dunia ada dua katagori, ilmu dunia meliputi pengetahuan tekhnologi (sains) dan ilmu Islam. Thalabul ilmi (menuntut ilmu) hukumnya wajib  (fardhu’ain).

 

Sedangkan ilmu dunia termasuk fardhu kifayah, semisal ada seseorang yang mempelajari ilmu ekonomi, berarti orang yang lain gugur kewajibannya untuk mempelajari ilmu ekonomi, jadi bisa mempelajari ilmu lainnya, contohnya ilmu kedokteran, ilmu Teknik, dan lain sebagainya untuk menunaikan kewajibannya mempelajari ilmu dunia. Sedangkan Ilmu Islam adalah fardhu ’ain hukumnya, sehingga wajib atas setiap kaum muslim.

 

Dalam Hadits, Rosulullãh SAW bersabda , “Tholabul ilmi fardhu’ain ala kuli Muslim” (HR. Ibnu Majah), artinya thalabul ilmi wajib atas setiap Muslim. Allah memberikan banyak reward kepada kaum muslimin yang mau belajar Ilmu Islam, diantaranya disejajarkan dengan para syuhada. Bahwa pena-nya orang berilmu sama dengan darahnya para syuhada.

 

Seseorang yang mempelajari satu bab ilmu diberikan pahala sama dengan pahala 1000 raka’at salat Sunnah. Para penuntut ilmu dinaikkan derajatnya oleh Allah. Bahkan perjalanannya para penuntut ilmu dalam rangka menuntut ilmu disamakan dengan jihad fii sabilillah, didoakan oleh para malaikat, dan seluruh makhluk hidup (seperti ikan-ikan, semut, dan lain-lain), yang ada di setiap langkahnya dalam rangka menuntut ilmu. Allah pun mensifati para penuntut ilmu dengan warosatul Anbiya (pewaris para Nabi).

 

Bisa memahami bahwa dalam hidup, bukan materi yang utama, tapi aktivitas ikthiar yang dilakukan apakah sesuai dengan syari’at ataukah tidak, mampu memprioritaskan aktifitas dan yang paling utama paham akan tujuan hidupnya di dunia ini. Karena sesungguhnya wilayah hasil dari ikthiar tersebut adalah sepenuhnya milik Allah SWT.

 

Pentingnya peran negara hadir dengan memberikan ruang bagi rakyatnya untuk thalabul ilmi melalui pembinaan intensif, sehingga ada interaksi tanya jawab dan kontrol penerapan pemahaman Islam dalam kehidupan sehari-hari. Inilah wujud kepribadian yang Islami, tidak hanya sekedar transfer ilmu semata, menuju kebangkitan umat hakiki.  Wallahu’alam bishshowab. [LM/ry].