Generasi Emas Generasi Qur’ani

Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.Com–Viral diberitakan berbagai media sosial, bahwa kaum muda kalangan keuangan terbatas lebih mudah terpapar algoritma iklan tentang cara menghasilkan uang dengan mudah, tetapi penuh risiko, seperti judol dan pinjol. (kompas.com, 5-12-2025).
Kemudahan tekhnologi keuangan, tanpa pemahaman justru menjadi jebakan. Algoritma platform media sosial mampu menggeser batas antara kebutuhan dan keinginan. Di awal meminjam untuk hal darurat, lama-lama diperuntukkan gaya hidup (kompas.com, 16-10-2025).
Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku daring, lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka.
Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan tekhnologi di bidang digital memberikan kemudahan dalam banyak hal. Sayangnya dalam platform Sistem Kapitalis terbukti menjadi penyebab krisis moral bagi segala generasi, terutama generasi muda, karena lebih mengedepankan materi dan profit semata. Sehingga mengakibatkan paradigma semu, bahwa tanpa materi yang banyak, mereka akan rapuh.
Padahal negara yang kuat haruslah memiliki generasi yang kuat dan tangguh, tidak hanya demi lifestyle, tidak hanya karena hal duniawi semata yang membuat mental makin rapuh ditengah tuntutan ekonomi dan lifestyle hedonisme.
Di tengah maraknya degradasi moral, karena sistem yang membentuk lingkungan yang rusak, tanpa kendali, dan menyebabkan makin menganga ketimpangan sosial di masyarakat, barisan muslimah yang berperan sebagai seorang ibu, berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan berpegang teguh pada tali agama Allah, sebagaimana Firman Allah dalam QS. Ali Imron: 103.
Saling menguatkan satu sama lainnya, berusaha merangkul anak-anaknya yang nyaris terseret arus ruang digital. Melalui pendekatan kasih sayang, pemahaman Iman dan akidah yang intensif, ikthiar untuk membekali anak dengan perisai Islam.
Melalui pemahaman tentang iman bahwa Allah adalah Al Khaliq (Sang Pencipta) dan Al Mudabir (Sang Pengatur), bahwa Allah wajibul wujud. Bagaimana dunia ini beserta segala isinya diciptakan, seperti matahari dan bulan, benda-benda langit beredar pada orbitnya masing- masing (QS. Al Anbiya : 33), tidak saling bertubrukan. Dan juga susunan syaraf manusia yang begitu banyak serta rumit mengatur setiap informasi dari luar untuk direspon oleh otak, dan masih banyak lagi tanda-tanda kebesaran Allah.
Dunia ini ada awal, masa sekarang, dan ada akhirnya. Baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, semuanya ada masanya, ada akhirnya. Bahwa kelak, setelah kematian ada kehidupan abadi, di neraka ataupun di surga.
Generasi Islam dipahamkan, bahwa tujuan manusia hidup adalah hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. (QS. Adz Dzariyat : 56). Segala aktivitas mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, diniatkan karena Allah, hanya mengharap ridho Allah, agar segala aktivitas tersebut bernilai ibadah dan semuanya haruslah sesuai dengan hukum syara.
Namun faktanya saat ini, bagaimana Generasi Islam bisa memahami eksistensinya di dunia, jika hanya dijejali tentang hal duniawi saja. Untuk itulah sangat penting peranan segala elemen, baik individu, masyarakat, dan negara memiliki visi misi yang sama tentang kehidupan ini, bahwa segala sesuatunya sudah ada aturannya dari Allah SWT.
Peran negara sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang ideal, yaitu melalui penerapan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Sehingga semua orang akan dipaksa menjadi baik dalam sistem yang syari, termasuk platform media sosial akan disesuaikan dengan syariat Islam, agar moral dan aqidah seluruh generasi bisa terjaga dengan baik.
Mewujudkan generasi emas, generasi Qur’ani, yaitu generasi yang taat, kuat, dan tangguh, hanya takut kepada Allah SWT, bukanlah suatu hal mustahil jika dalam lingkungan Sistem Islam kafah Wallahu’alam bishshowab. [LM/ry].
